Kita Bermimpi Saja di Negeri Lain

Sebelum tidur kita mulai memohon agar kelak mimpi tumbuh dengan rampak di ranjang masing-masing. Akhirnya mimpi itu selalu kita petik. Pemerintah negeri kita akan iri melihat mimpi-mimpi yang kita rengkuh sepanjang gulita; mimpi mereka tak pernah tercapai, bukan? Kita pandai menabur dan menuai mimpi, mereka tidak sama sekali.

Sebelum tidur kita membayangkan seperti sepasang lampu pada pematang jalan; saling menyala di kiri dan kanan. sepanjang malam; sepanjang gulita. Pemerintah negeri kita akan iri melihat sinar-sinar yang kita tabur sepanjang gulita ke tubuh-tubuh kunang-kunang yang menari-nari di atas nisan-nisan orang-orang mati kelaparan; lampu yang mereka beli tak pernah bisa menyala, bukan? Kita pandai merakit dan menyalakan lampu, mereka tidak sama sekali.

Aduh sayang, jangan lagi kita berbuat-buat apa-apa sebelum tidur jika kita masih hidup di negeri ini. Jangan lagi kita menabur mimpi atau merakit lampu. Aku khawatir kalau mereka akan seperti pemilik rumah mengejar ayam yang baru saja meneteskan tahi; mereka iri dan melempar kita dengan sapu tua.

Sst.. Kita bisa melakukannya pada pematang jalan di negeri lain, sayangku.

Rawa Sakti, 17 Juli 2012.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s