Lakukan Sendiri Ketika Semua Tuli

Ini jaman buruk bagi penulis yang selalu menyodorkan pemikirannya dalam setiap karyanya. Ketika kritikan dan solusi dianggap angin lalu. Ketika kata-kata dianggap sebatas kreativitas saja. Ketika tulisan hanya dianggap keahlian dalam memainkan kata-kata. Maka mari lakukan sendiri wahai penulis! Mereka telah tuli!

Saya kerap mendengar “Makmur kenapa tak pernah menulis lagi di media (cetak)?” dari mulut kawan-kawan, belakangan. Pertanyaan yang wajar. “Lagi malas,” alasanku. Sebenarnya bukan itu. Tapi lebih karena kata-kata saya di atas.

Terakhir saya menulis opini untuk Harian Serambi Indonesia pada akhir Februari 2012, “Menyekolahkan Plagiarisme”. Itu pun karena saya tak tahan melihat seorang penulis pemula dari IAIN Ar-Raniry yang menulis tentang plagiarisme dengan memplagiasi karya orang lain. Kukira tulisanku itu mengakhiri fenomena plagiarisme di koran tersebut. Ternyata, masih saja bersemi. Pada 12 Juli lalu, opini mahasiswa Unsyiah hasil copy paste dari tulisan orang lain muncul di rubrik opini koran tertua di Aceh. Bukankah itu namanya “mereka telah tuli!”?

Maaf jika tulisan ini agak menohok dan angkuh. Sejatinya catatan ini hanya ingin menafsirkan gejala baru dalam merespons pemikiran dari sebuah karya tulis. Bahwa pemikiran tak dibutuhkan lagi, kebijakan hanya dilakukan semena-mena dengan sombongnya.

Dulu saya berpikir, membagikan pemikiran kepada orang lain itu sangat mulia. Apalagi melalui tulisan. Semua orang akan sadar jika membacanya. Lalu mereka akan melakukan dalam kehidupan sehari-hari terhadap apa yang telah ditulis, dengan kata lain “diamalkan”.

Tapi kini, tulisan (semisal opini) yang dimuat ke media massa sama sekali tak menjadi—setidaknya—bahan renungan para pengambil kebijakan; barangkali seperti seorang pembaca Alquran yang tak mengamalkannya setelah membacanya.

Apa yang harus kita lakukan ketika gejala buruk itu terus berlangsung? Mudah saja. Kita menulis untuk diri sendiri dan mengerjakannya sendiri, atau bersama orang-orang yang sependapat.

Kita sering menulis tentang kebijakan pemerintah, tatanan sosial, dan sebagainya. Namun akan sangat “sia-sia” bila sasaran kita tak pernah mau menindaklanjuti pemikiran-pemikiran yang disampaikan melalui tulisan.

Oh, jaman buruk bagi penulis (pemikir). Akan ada kekhawatiran pahit di mata pena penulis: jangankan tulisan hasil pemikiran orang lain, tulisan yang murni hasil pemikiran si penulis pun sudah dianggap angin lalu.

Lalu apa yang harus penulis (pemikir) lakukan ketika kekhawatiran buruk itu terus berlangsung? Mudah saja kurasa. Menulislah untuk diri sendiri dan mengerjakannya sendiri, atau bersama orang-orang yang sependapat.

Dari itu, saya sudah memikirkan bahwa, ke depan saya akan jarang menulis tentang kebijakan orang lain dengan menawarkan solusi yang tak pernah diekstraksi ke bentuk nyata, tapi lebih baik saya tuangkan ide perawan dalam pekerjaan atau kegiatan langsung.

Saya bersama orang-orang yang sependapat akan menumpahkan ide-ide dalam bentuk kegiatan. Akan kami lumuri zaman buruk ini dengan kegiatan-kegiatan hasil pemikiran kami (semoga bukan omongan belaka). Setidaknya kami akan melakukannya, meski dalam sekala dan jumlah kecil; tidak hanya berbicara!

Namun begitu, saya (dan kita) tetap akan menulis. Menulis untuk diri kita, batin kita, orang-orang yang kita cintai. Dan saya juga akan menyumbang pemikiran ke pihak lain jika memang sangat patut untuk disuarakan, seperti lomba menulis untuk pemimpin baru Aceh yang digelar Gema Aneuk Muda Nanggroe Aceh beberapan bulan lalu. Lomba bertajuk “suara rakyat Aceh” itu saya ikuti karena saya masih berstatus rakyat Aceh. Hehe. Dan itu perlu untuk saat ini.

(Sekali lagi)

Ini jaman buruk bagi penulis yang selalu menyodorkan pemikirannya dalam setiap karyanya. Ketika kritikan dan solusi dianggap angin lalu. Ketika kata-kata dianggap sebatas kreativitas saja. Ketika tulisan hanya dianggap keahlian dalam memainkan kata-kata saja. Maka mari lakukan sendiri wahai penulis! Mereka telah tuli!

Rawa Sakti, 28 Juli 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Lakukan Sendiri Ketika Semua Tuli”

  1. Setuju sekali sobat, banyak sekali pemikiran murni sudah dilupakan, walaupun saya pribadi masih pemula, saya miris melihat kejadian ini. Seakan penulis sudah hilang. Akhirnya sayapun menulis asal, untuk kesenangan saya pribadi, tidak ada tujuan menulis untuk apa, hanya mencoba menulis, mengasah imajinasi, selebihnya mencoba mengerti hidup yang tak akan berakhir dipelajarai. LAKUKAN SENDIRI, sangat tepat buatku… Terimakasih sobat, sudah memberi motivasi lewat opini ini… 🙂
    Salam.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s