Mencari Masa Depan di Lorong Waktu

Bagaimana harus mengatakan hijab masa depan itu? Aku tak tahu yang tepat. Sebab aku harus beberapa kali berlari-lari di depan pusaran lorong waktu, hingga berhasil melompat baik ke dalamnya; melompat dengan mendobrak titik pusaran, hingga terhempas ke koridor yang sejauh mataku memandang; mencari hijab masa depan.

Dengan bingung aku merayap hingga ke pucuk lorong; ada hijab masa depan di sana (?). Aha! Ada semburan bening yang tegak menjulang di pucuk lorong. Semacam cermin. Tapi tak bisa disebut cermin. Aku tak hanya melihat apa yang telah kulakukan. Yang kalian lakukan juga bisa kusaksikan. Aku bingung tatkala semburan bening itu tak mau mengabarkan apa yang terjadi esok (?).

Aku berteriak dan melompat seperti master kungfu, menendang, namun mental ke aku. Melakukannya berkali-kali. Berkali-kali ia bisu. Aku berpaling dan lari, ingin menemui pusaran lorong waktu. Oh, tak sampai-sampai. Aku melihat ke belakang dan depan, seperti berlari di tempat. Tak sampai-sampai. Hanya kulitku semakin melorot.

Rugikah aku memasuki lorong waktu (?). Aku ingin keluar, melihat: melakukan kembali apa yang telah kulakukan dengan benar; siapa saja yang mengenaliku meski hanya tahu nama; bagaimana kujalani kehidupan; kenapa aku harus hidup; dan mengapa aku harus masuk ke lorong waktu. Tapi tak sampai-sampai.

Aku berpaling lagi. Berlari ke depan semburan bening; dan bisa! Aku lunglai. Merunduk dan mendongka pada semburan bening yang masih menjulang tak berbayang.

“Hei, apa yang terjadi nanti? Ke mana aku akan pergi? Dengan siapa? Siapa dia? Bagaimana dia? Kenapa harus dia? Apa dia tahu? Kenapa tahu? Bagaimana dia tahu? Yang lain tidak tahu? Kenapa hanya aku dan dia yang tahu? Oh!”

Ia seperti mendesis bahwa aku tak bisa keluar dari lorong waktu dan tak bisa menerobos semburan bening. Dan konyol, aku tak menemukan hijab masa depan. Tersesatkah? Atau inikah hidupku? Aku baru menikmati kehidupan dan apakah kehidupan telah menikmatiku juga, sehingga aku terkurung di lorong waktu? Oh! Apa yang terjadi nanti? Mungkin, dia… Ya, dia akan mengeluarkanku dari sini.

Rawa Sakti, 31 Juli 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s