Siapa yang Menangis Bila Kita Mati?

Suasana duka, seduka-dukanya, telah menyelimuti kampungku di Sigli pada awal Agustus 2012 yang gersang. Seseorang meninggal dunia pada Selasa malam. Seorang lagi menyusul Rabu sore. Saat para penggali kubur belum meluruskan ototnya, seorang lagi berpulang ke Sang Pencipta pada Kamis dini hari.

Ketiga-tiganya perempuan tua berusia 80-an. “Satu angkatan, satu permainan waktu kecil,” kata kawan saya. Selama hidup, mereka pasti telah berjasa—dalam bentuk apapun—bagi junior-juniornya, terutama keluarga. Untuk itu, mari tadahkan tangan; doakan agar amal ibadah mereka dan orang-orang yang mendahului mereka diterima di sisi-Nya.

Saya sedang di Banda Aceh ketika mendapat tiga kabar sunyi itu dalam tempo pendek, bersahut-sahutan. Di ibukota untuk suatu kepentingan yang mungkin nanti bermakna setelah saya menyusul ketiga tetua kami itu.

Mereka meninggal di bulan suci Ramadan. Secara lahiriah, sangat mulia. Tapi bukan itu yang perlu dibicarakan ketika ada orang meninggal dunia; bukan membahas kapan dan bagaimana seseorang mati, tapi kapan dan bagaimana kita mati.

“Coba pikir, Mur, kira-kira adakah orang yang akan menangis ketika kita mati?”

Hamdani Chamsyah melontarkan pertanyaan menyentuh itu dari belakang motorku, pada sore ketiga belas puasa Ramadan 1433 hijriah. Aku tersentak seraya menyetir. Apa yang harus kujawab untuk si kawan berambut kribo itu?

“Pasti ada, setidaknya orang yang sangat mencintai kita.”

Aku menyebutkan nama seseorang padanya. Tubuhnya berguncang selagi tertawa karena tahu siapa seseorang itu. Seseorang? Iya, rahasia. Pokoknya, “ada dewwwhhh.”

Lalu, bagaimana dan kapan kita mati? Kita tak tahu. Dan tak perlu mencari tahu. Itu rahasia Tuhan. Kita hanya butuh persiapan sebelum menemui ajal.

Sejatinya kita hidup untuk mati. Bukan pula hidup untuk beramal agar ketika mati ada orang yang menangis untuk kita. Tapi perlu menjalani hidup dengan tulus untuk menuju kematian yang tulus pula.

Barangkali tak perlu menanyakan siapa saja yang akan menangis ketika kita mati. Sebab tak ada jawabannya selama kita hidup. Orang yang masih hidup akan melihat jawaban itu ketika kita telah mati.

Adalah menjalani hidup seikhlas-ikhlasnya dan mensyukuri apa adanya. Selalu dengan usaha dan doa. Usaha untuk orang banyak, bukan hanya untuk diri sendiri. Apakah nanti kita akan meninggal di hari yang sama seperti kejadian di kampungku tadi, apakah kita meninggal secara sadis, dan dalam keadaan lainnya, itu tak penting dibahas.

Barangkali yang penting selama hidup, sebesar apa sudah kontribusi kita untuk orang lain dan apa yang telah kita lakukan untuk menghadapi Tuhan. Biasa disebut Hablumminallah wahablumminannas”, yaitu hubungan vertikal dan horizontal antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.

Sejatinya, hidup hanyalah untuk dua hal itu. Dan masing-masing kita wajib mencari tahu sendiri caranya sejak meringkuk dalam rahim hingga menjelang ajal, tidak meniru, tapi mencari tahu pada orang yang patut mengajarkan, lalu mengamalkannya. Itu saja.

Sekali lagi, tak perlu menanyakan: siapa yang aka menangis jika kita mati. Sebab tak ada jawabannya selama kita hidup. Orang yang masih hidup akan melihat jawaban itu ketika kita telah mati.[]

Rumoh Aceh, Prada, 2 Agustus 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Siapa yang Menangis Bila Kita Mati?”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s