Apa? Saya Lupa Belok Kanan?

Ada yang bilang saya harusnya tidak kuliah, tapi mengikuti jejak abang kedua masuk Dayah Ruhul Fata. Andai saya turuti keinginan ayah itu, barangkali—penuh yakin—saat ini saya sudah memimpin jamaah tarawih dan memberikan tausiyah di masjid-masjid kampung. Tapi kenapa tidak?

Karena saya punya pilihan lain yang seperti sudah digariskan Tuhan.

Beberapa purnama sebelum lulus madrasah aliyah pada pertengahan 2009, ingin sekali saya menjadi wartawan. Cari info. Dapat. Bahwa Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry telah membuka konsentrasi Jurnalistik—saya membacanya di koran di mana disebutkan lulusannya akan menjadi pewarta profesional yang ahli di bidangnya.

Ayah saya orang yang disegani karena karakternya dalam bersosialisasi yang tenang tapi menghanyutkan. Begitu pula ketika saya (hanya) ingin mengutarakan keinginan tersebut. Akhirnya didampingi emak, saya berhasil mengungkapkan, bahwa saya ingin kuliah ke Banda Aceh.

Dengan alasan yang bijak, ayah menyatakan keberatannya. Ia ingin saya mengikuti jejak abang. Saat itu hati saya berdalih: Ayah, saya ingin anak-anak ayah punya bidang yang berbeda-beda. Kakak pertama guru, kakak kedua ibu rumah tangga, abang pertama menggeluti bisnis, kakak ketiga guru, abang kedua calon teungku, kakak keempat pegawai kantoran, dan saya ingin sesuatu yang baru.

Tapi akhirnya, emak yang mendukung keinginan saya, membujuk ayah—kuyakin emakku yang ahli tataboga merayu ayah yang mandor bangunan (kalau terlalu wah disebut arsitek) sebelum mereka tidur malam. Ayah luluh. Semoga tulus. Mereka hanya berpesan, ke mana pun saya pergi, tak boleh melupakan kawajiban kepada Yang Maha Pencipta.

Jak beurangkaho jeuet, seumbahyang bek tuwe.

Saya masuk kuliah. Lulus di pilihan kedua: program studi jurnalistik jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Entah kenapa saya menomorduakan keinginan saya saat itu, lebih mengutamakan tarbiyah english. Tapi kemudian seperti sudah digariskan, aku mendapat pilihanku, dan aku telah menempuhnya.

Semester satu mengendus bau-bau jurnalistik di kampus. Semester dua mengakrabkan diri dengan senior hingga ditarik bergabung ke lembaga tertinggi kampus, sebagai staf Infokom, sebagai wartawan untuk majalah lembaga itu. Tak lain, Bang Jufrizal lah yang menunjuk jalan—saat ini ia mengambil S2 di Nanchang University jurusan jurnalistik.

Semester tiga, saya makin berminat di bidang jurnalistik, seiring dengan mulai menemukan keasyikan dalam menulis cerpen, setelah cerpen pertama saya dimuat di Serambi Indonesia pada pertengahan semester dua.

Tapi.. Oo! Ada yang aneh dengan pilihan saya. Pikiran intelek saya mulai terkuak awal semester empat. Saya mahasiswa jurnalistik, tapi kok sudah tingkat dua, belum ada satu pun mata kuliah tentang jurnalistik. Lucu; ya, kaaan?

Saya telah menentukan arah, saya harus mencapai ujungnya. Saya telah melompat, saya harus mendarat dengan tepat—ini salah satu filosofi hidup saya, yang kuadopsi dari beberapa pepatah.

Saya berpikir, kalau terus begitu, saya tak dapat apa-apa di kampus. Kalau begitu, saya harus mencari jalan pintas untuk mencapai tujuan saya; ya, kaaan?

Halooo, itu ada dibuka sekolah pendek jurnalistik, Muharram Journalism College yang digagas Aliansi Jurnalis Independen Banda Aceh. Senior saya di badan eksekutif mahasiswa juga menganjurkan masuk sekolah itu. Saya membicarakannya pada orangtua. Diizinkan. Ikut tes di kelas media cetak. Lulus.

Jalan yang bagus. Saya mendapati banyak ilmu dan wawasan jurnalistik di MJC dengan mentor dari praktisi media yang memang sudah berpengalaman di bidangnya. Kuliah selama enam bulan. Sebulan terakhir saya magang di Harian Rakyat Aceh. Kemudian diwisuda. Mendapat ijzah diploma. Tak lupa, kemeja ungu abu-abu sebagai kenangan. Link—jejaring pertemanan—sebagai oleh-oleh.

Lihatlah, kawan, kata saya pada kawan-kawan satu jurusan. Saya kemudian mendapat tawaran bekerja di media pemerintah. Sebuah tabloid bulanan dengan gaji lumayan—catat! saat seperti itu kau tak boleh mengedepankan uang. Tawaran ini datang, selain sebagai alumnus MJC, juga karena karya tulis saya sering muncul di media cetak pada akhir 2010-awal 2011.

Saya terima. Tak lama. Tiga edisi. Saat itu pula, saya tak lagi di lembaga kampus, seiring berakhirnya periode Herry Mauliza dan kawan-kawan—namun kami tetap mengikat silaturrahmi hingga kini dan buat reuni ketika rindu tiba.

Awal 2011, saya tengah gencar-gencarnya memberondong koran lokal di Banda Aceh dengan kata-kata. Di Harian Aceh, sering muncul di halaman depan, di kolom Cang Panah. Hingga pada suatu kali, Maret yang cerah, saya mendatangi kantor redaksi itu untuk ambil honor tulisan.

Apa perasaanmu ketika dipanggil redaktur pelaksana sebuah media? Apa harus mengucapkan “waw gitu”? Atau harus berteriak “aaaaaaaaa” seperti Fira Al Haura (dengan berani saya menyebutnya penulis cilik Aceh penuh bakat).

Saya menemui redpel Harian Aceh saat itu. Ia menawariku job. Apa? Sebuah posisi, sebuah tugas, sebuah jaminan. Apakah itu tujuan saya, hasil dari upaya saya menempuh jalan pintas? Saya percaya, ya, untuk saat itu. Coba kalau tak mencoba jalan tikus, pasti saya akan terperangkap di kampus; ya, kaaan?

Setelah menimbang-nimbang, saya menerima posisi yang menjajikan dan tak pantas untuk seusia saya. Saya setiap hari di redaksi, mendalami posisi itu (rahasia), hingga akhir 2011 diangkat ke posisi lebih tinggi.

Lihatlah, kawan, kataku pada “tukang kuliah”, masih ingin menggantung harapan di kampus, ha? Kuyakin saat itu mereka mulai menyanjung saya, bagi yang tahu saya bekerja di media, sebab saya menyembunyikannya sebisa mungkin karena tak ingin membebani dan merusak konsentrasi saya—logis kah?

Sejauh itu saya merenung, apa salah langkahku? Seorang kawan sekampung yang pernah tinggal serumah, sering meledek saya dengan ungkapan yang sangat menggelikan:

“Pane na, Si Makmur yue jak sajan bang lee ayah, tuwo dibelok neun watee troh u Seulimum, leupah keudeh u Banda.”

Pekerja keras yang kini di Jakarta itu bilang, saya disuruh ayah mengikuti abang ke dayah, tapi saya lupa belok kanan saat di Seulimum, lempang terus ke Banda Aceh. Begini. Saya dari Pidie. Kalau ke Banda Aceh, akan menjumpai masjid Seulimum, Aceh Besar, di kiri jalan, pas di tikungan.

Nah, selemparan batu dari masjid itu, ada pos Koramil di kanan jalan. Beberapa langkah dari koramil, ada gerbang yang menunjuk ke Dayah Ruhul Fata, tempat abang saya menuntut ilmu, di kanan jalan. Menafsirkan ejekan kawan tadi, kalau ke Banda Aceh, saya memang melewati belokan itu, baru putar kanan kalau ada keperluan sama abang. Ada-ada saja si kawan.

Maka sejauh itu, apa saya telah memilih jalan yang salah? Kurasa tidak. Setidaknya, saya telah mempopulerkan nama kecamatan kelahiran saya di koran-koran. Catat! Kita bukan memilih jalan kiri atau kanan, melainkan mana yang tepat dan tidak tepat.[]

Rumoh Aceh, 11 Agustus 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s