Bau Tanah

Kau jenuh di kota;
rumah dengan halaman beton
halaman yang sempit
hujan tak jatuh-jatuh
meski doa-doa telah disuratkan
:
aku jera terpasung

Kau merindukan kampung;
rumah dengan halaman tanah
halaman yang lapang
ada taman bunga kesukaanmu
aku bernafas dalam vas bungamu

Kau merindukan hujan;
jarum-jarum bening berlari-lari di muka tanah
tanah kuning yang dahaga
bagai kuda berpacu di tanah gayo

Aku terlepas dari pasung tanah
menari-nari dalam bulir-bulir bening
kau suka bau mulutku yang tajam
kau hirup aku ke rongga hidungmu
bagai langit menyeruput laut

Kau pejamkan mata busurmu
aku mengarung ke jantungmu
aku kau kurung di hatimu
jika-jika aku keluar saat pori-pori kulitmu terbuka
kau akan menantiku di hujan selanjutnya

Rumah Orangtua, 14 Agustus 2012

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s