Melayat Gelangku

mula-mula kita mengawinkan sepasang gelang sederhana
tangan kiri kita sebagai pelaminan
demi membangun rumah hati yang bertangga-tangga
semoga abadi

suatu malam kita tidur tanpa doa
sepasang gelang sederhana turun melalui pori-porimu
tuju rumah hati
berbulan madu di sana

kita bangun pagi
sepasang gelang sederhana menaiki tangga-tangga
mendaki bersama darah dan senyum
dan menyembul di kulitmu seperti baru kawin

badai selalu menerjang kulit
sepasang gelang sederhana terhempas-hempas
agam memeluk inong dengan cemas
menjambak belukar kulitmu

badai bergelombang murka
menendang-tendang punggung agam
hingga cidera dan ditelan gelombang
inong mengisak di belukar kulitmu

sejenak badai surut
melaju ke kulit lain barangkali
inong melahirkan air mata bukan anak yang mereka idam-idamkan
mengalir ke pori-porimu

kita tidur malam lagi
inong turun melalui pori-porimu
tuju rumah hatimu
berbulan madu di sana merindu roh agam

kita bangun pagi
inong menaiki tangga-tangga
mendaki bersama darahmu dan rindu
dan menyembul di kulitmu bersama kesepian

inong menatapku dari jauh
aku menatapnya dari jauh
aku akan loncat dan menggantung di inong
tapi tidak mungkin

jangan biarkan inong putus
aku akan mencarinya agam baru
jika tak serasi biarkan badai membunuhnya
kelak kita akan mengawinkan sepasang gelang baru

dan berbulan madu di rumah hatiku
menikmati badai di kulitku

My Café, 28 Agustus 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s