Kasida Melankoli

aku menunggumu di padang utopia
dengan biola tanpa busur
:
kelak kau membawa busur dari kayu pernambuco
menggesek dawai biola dalam pangkuanku

kita karang kasida bersama
kasida tentang bunga masa depan

tapi hingga siang kau tak datang
demikian pun petang

aku pulang ketika matahari pulang
dengan biola yang masam

burung-burung bubar
pulang ke sangkar atau sarang

aku mengadu pada rasi dan bulan
apa kau sedang menggesek biola lain?

aku tak ingin buruk sangka
seperti sebuah judul kasida kita

kau turun bersama tahi bintang
dengan busur dari kayu pernambuco

kau mencari-cariku di padang utopia
berdansa sendu dalam kegelapan

kau lelah. kau pulang ketika bulan pulang
dengan sebait kasida melankoli
:
di jalan aku digonggong anjing-anjing hutan
ucapmu

aku datang lagi ketika matahari datang
memanggil-manggilmu di padang utopia

aku masih menunggumu di sini
dengarlah kasida melankoliku
:
aku menanam bunga masa depan
datanglah. kau siraminya untukku

aku memupuki bunga masa depan
kelak kau petiklah bersamaku

dan kita tak menjualnya
tapi simpanlah untuk air bunga kita

Rawa Sakti, 30 Agustus 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

3 thoughts on “Kasida Melankoli”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s