Sejoli Senyum di Kebunku

di kebunku
dedaunan meranggas deras
dan tak jatuh ke tanah
tapi ke luar kebun
barangkali ke sungai tanpa pucuk
seperti es meleleh dalam air
seperti peluh mengering di kening

aku menjenguk kebun siang dan malam
kadang kubawa ia dalam mimpiku
oh kebunku
seperti hamparan bulu sikat
dan tatapanku menari-nari di sela-sela bulu itu
menemukan selembar foto wajahku di sana
dan tatapanku selalu menjumpainya
tersenyum
bulan purnama sebelum pagi buta
kulihat sekali lagi senyumku
mentari pagi dipagut mendung

o jangan sampai senyum di foto wajahku bunuh diri
ia butuh kawan
bukan daun-daun segar
aku butuh pendamping, kata senyumku

dan aku pulang menyeberang sungai tanpa pucuk
siapa tahu dapat calon pendamping senyumku
melambai-lambai dalam gelombang arus

o. aku ingat
telah kudapati calon pendamping senyumku Juli lalu
pada seorang perempuan dari Tijang

hai..
berikan aku foto wajahmu tersenyum itu
demi dampingi foto senyumku di kebunku

aku yakin senyumku takkan bunuh diri jika bergandengan dengan senyummu
meski pepohonan mati di kebunku
meski peluh menjelma garam di keningku
meski berkali-kali es melebur dalam botol minumanku
berikanlah senyummu untuk senyumku

Rumoh Aceh, 3 September 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s