Melukis di Tanah

Gemuruh hatiku sangat lain usai kudapat kabar
Ayah tak mampu lagi melukis di tanah

Ia kirimkan aku sebuah pesan yang ditulisnya pada debu
melalui balon-balon udara Flango

“Kamu harus melukis sendiri di tanah, Nak.”

Kubalas pesan Ayah melalui balon udara Cateraga

“Aku akan melukis di tanah dengan caraku. Restuilah, Ayah.”

Langit malam membelah dua seperti laut merah dibelah Musa,
beri jalan pada balon udara mengantarkan pesan ayahku

“Baiklah, tapi jangan sampai melukis di tanah bernajis.”

Hatiku berguncang, imajiku mengerang.

Dan ketika gemuruh hatiku sangat lain,
kepadamu sayangku,
temani aku melukis di tanah yang suci.
Setialah..

7 September 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s