Dandelion

Tirai-tirai matahari tersibak sedikit-sedikit
mataku menjulur dari celah-celah bukit
menyusur perempuanku yang raib semalam

Di bawah awan yang mengangkut serbuk sari
padang dandelion adalah samudera putihku
dandelion adalah bunga perempuanku

Aku berlari dalam tempias serbuk sari
yang melanda samudera putihku
takkan berhenti hingga kurengkuh perempuanku

Dan kutemukanmu terkurung dalam embun Oktober
tak kupecahkan dinding embun tapi aku masuk ke dalamnya
menyeka pipimu
:
Kelopak matamu mekar
aku buang gumpalan sedu dari sudut matamu
dan oh, wajahmu tebarkan bunga dandelion

Balon embun menjadi balon cinta
dandelion tumbuh setiap kau tersenyum
aku memetiknya, meniupnya, dan meletus
:
Dandelion melahirkan benih-benih kurnia
bertubi-tubi meledak dalam balon embun Oktober
menikmati cinta ini sebelum ia meledak

Serbuk sari menggedor-gedor balon embun
sehingga kau ragu (pada apa yang akan kita lakukan)
“Takkan ada yang bisa melihat bagaimana kita bercinta, perempuanku.”

Rumoh Aceh, 7 Oktober 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s