Rumah U karya Baih Nu (1)

Nabil, kemenakanku yang ketiga, bermain di kolam mini Rumah U, membelakangi kali. | Dok. Pri

Inilah rumahku—rumah orangtuaku, kawan. Silakan masuk. Ayo cicipi dan nikmati apa yang ada. Hari ini kamu berhak menghuni rumahku. Kamu berhak tengok kiri-kanan meneliti setiap sudut ruangan. Dan kamu akan menemukan keunikan jika jeli. Keunikan ciptaan ayahku.

Saya masih ingat ketika Fakhrizan Joely—bingung harus menyebutnya dari mana, sebab ia melibatkan diri dalam banyak komunitas di Banda Aceh—mampir ke rumahku pada akhir Juni 2012. Ia bertanya-tanya: itu rumah siapa ini rumah siapa.

Itu punya siapa? Ini punya siapa? Fakhri, itu rumahku ini rumahku. Aku punya dua rumah? Lalu lagi-lagi harus bilang “waw gitu”? Tidak perlu. Kami tidak tinggal di rumah yang mewah. Lihatlah, sangat sederhana, namun bernilai seni, ya kaaan, kawan?

Ayahku membangun rumah di atas sebidang tanah, sekitar 30 x 20 meter bujur sangkar, pada tahun 1984, saat aku belum ada. Bentuknya seperti huruf U kalau dilihat dari atas dengan memandanginya lewat belakang rumah. Dari depan, Anda akan mengira bahwa ada dua rumah dalam satu pekarangan. Dan sama sekali itu tidak benar, seperti diagnosa Fakhri tadi.

Ayahku seorang baih (baca: mandor). Ia punya nama keren “Baih Nu”, dikenal di seantero Kecamatan Mila bahkan ke kecamatan lainnya. Saat aku masih kanak-kanak, saya kerap melihatnya merancang sendiri model rumah untuk orang-orang yang menginginkan jasanya membangun rumah atau bangunan lain. Dan aku bangga jika menyebutnya seorang arsitek meski hanya tamatan Sekolah Rakyat atau kini disebut Sekolah Dasar.

Hm, gimana gitu ya kalau rumah orang lain oke, rumah sendiri tidak. Maka ayahku orang yang berjiwa seni meski bukan lulusan Institut Kesenian, meski bukan seniman di bidang griya. Saat itu ia mencari-cari model rumah yang unik di erah 80-an, namun keunikannya tetap awet sepanjang masa.

Dapat! Di Glumpang Minyeuk. “Seingat ayah, di kanan jalan Banda Aceh-Medan,” cerita ayahku pada suatu Kamis malam Agustus 2012. Ayah melihat bahwa rumah itu mirip dengan huruf U, namun koridor tengahnya panjang.

Sedikit mengadopsi, ia merancangnya persis huruf U. Biar lebih keren, ia menambah kolam renang mini di depan koridor tengah, yang bisa aku pakai untuk mandi ketika hujan mengguyur, sewaktu aku kecil.

Saat itu menghabiskan dana sekitar Rp 6 jutaan. Uang segitu termasuk mahal untuk membangun rumah di era 80-an. Ayah bilang, separuhnya untuk beli material (baca: bahan), separuh lagi untuk biaya pendirian. Selesailah rumah dengan empat kamar utama. Masing-masing dua di sayap kiri dan kanan. Dapur, sumur dan gudang, di koridor tengah.

Kolam renang tadi, kini sudah berubah fungsi. Saya tidak punya adik, tak ada lagi yang mandi, kecuali Zakia, putri kakak tertua saya. Atau satu dua kemenakan ketika sesekali main-main ke rumah.

Ayah dengan ide briliannya di usia tua, menyulap kolam itu menjadi penampung air dari lueng (kali) yang mengalir di depan rumah kami. Sejak beberapa bulan terakhir, terutama sebelum meugang lebaran fitri 1433 hijriyah, Aceh sangat tandus. Bahkan gubernur baru menyerukan rakyatnya agar salat istisqa di Lapangan Blang Padang untuk meminta diturunkan hujan. Apa yang terjadi? Hingga lebaran, hujan tak jatuh juga di ibu kota provinsi, hanya mendung. Tapi alhamdulillah di kampung sempat hujan.

Nah, selama kemarau itu, sumur-sumur kekeringan. Lueng kering. Krueng kering. Orang-orang harus menghemat air. Kadang-kadang para lelaki harus mandi ke mon meunasah, sebuah sumur tua di surau kampung yang mengandung banyak mata air.

“Halo Acuttttt.” Zakia, ponaan yang kedua menyapaku dari dalam kolam mini Rumah U. | Dok. Pri

Dengan modal satu mesin pompa air dan selang, hanya butuh setengah jam untuk menampung air kali di kolam mini. Lalu secara perlahan, ia diserap tanah yang sebagian mengalir ke sumur kami, selebihnya mengalir ke sekitar rumah kami—katakanlah akar berbagai tananaman, sumur orang lain, dan ke kali itu sendiri.

Berkat ide ayah saya, akhirnya kami tak kesulitan air. “Sumber air sudekat,” kalau kata iklan produk air mineral. Hebatnya, eksperimen Baih Nu diikuti satu-dua orang kampungku yang mengalami hal sama, yang rumahnya di pinggir kali. Saya juga melihat ada sebuah rumah di gampong tetangga kami, namun mereka menariknya dari sungai dengan selang lebih besar. [Bersambung]

Rumah U, Agustus 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s