Ketaya

Bermain-main di bibir gua – tak ada yang larang
Kau pun tergelincir ke perutnya
Tenggelam bersama stalagmit-stalagmit yang tak kau lihat

Kau bisu di tanah lembab
Penyelamat akan mintamu berteriak
Tidak denganku

Aku selalu mengendus bau manis kulitmu
Dari nyenyai dedaunan kering dan akar pohon
Sampai kutemukan lubang hitam

Kau tak perlu berpekik, sayang
Aku bisa melihatmu
Biar aku turun membawa ketaya

Stalagmit-stalagmit merona pelangi
Kubidik mata busurmu
Oh, kau, naiklah ke pundakku

“Aku akan menuntunmu temui pangkal gua
Atau kita segera keluar sebelum hujan turun?”
“Keluarkan aku”

Sayang, ada nama kita di langit
Lihat, nimbus Oktober telah hanyut
Kau memelukku erat, kita tersenyum

Rumoh Aceh, 1 November 2012

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s