Embun-embun Bulevar

embun-embun menyala
pada kening cembungmu;
mimpi-mimpi yang akan kau ingat
ketika kelak kutanya

bibir basah jalan bagi namaku
diseret air pasang musim kemarau tenggorokanmu;
mimpi-mimpi yang kau embuk menjadi segumpal pasir
untuk ukir namaku ketika tirai menyibak di matamu

tapi pagi ini bukan pagi kemarin
aku gedor rumah kau tak buka pintu
apa kau masih berbaring di bawah bulan
dalam rumah kayu hutan seulawah?

aku ingin menulis sendiri namaku
tapi tak ada pasir depan rumahmu
dan tak pernah ada
kecuali embun-embun menyala di keningmu

kuiris badan angsana satu-satunya di taman rumahmu
darahnya mengalir di sela-sela  jemari mentari
aku menggalangnya seriak saja
:
untuk kutulis namaku di pintu rumahmu
yang berbau manis kulitmu hanya ketika kau ucap namaku
nama yang bercabang-cabang
dan ia hanya akan bermuara satu ke pintu rumahmu

aku pulang
tanpa kabarmu untuk kehidupanku hari ini
tapi namamu masih menjadi bulevar pagi-pagiku selanjutnya

Rumoh Aceh, 4 November 2012

 

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s