Tanka Bulan

Kutulis namamu di kaca jendela kamarku,
sehabis hujan suatu malam,
pada dua mataku;
seperti menulis di pasir pantai suatu petang,
semoga riak tidak pasang.

Kuharap bulan langit turun lagi,
berhenti di atas gerbang rumah,
bercermin pada kaca jendela kamarku,
pantulkan suratmu ke wajahku,
menggantikan bulan pada wajahmu.

Kerisaun meledak di langit,
kaca jendela berdentur-dentur,
sepi-sepi gugur,
wajahku jatuh berangsur-angsur,
namamu berserak dalam kepanikanku.

Kusampir selimut di jendela, kutulis namamu padanya,
dan aku membacanya lama-lama berharap salah eja,
tapi selalu benar ucapanku sampai aku kedinginan,
sampai keyakinan menyelimuti tubuhku,
bulan di wajahmu hanya akan bersinar untukku.

Rumoh Aceh, 10-11 November 2012

Note (12/11/12), bertanda merah miring dua larik yang tidak relevan, keluar dari suasana sunyi; suatu saat akan diperbaiki.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s