Salah (Satu) Kata

Subcomandante Insurgente Marcos bilang, kata adalah senjata. Menurut saya, suatu waktu kata akan makan tuan. Akibat salah tulis satu kata saja, nyawa manusia melayang. Aceh pernah merasakan dampaknya, baik sebelum perdamain antara Gerakan Aceh Merdeka dan Republik Indonesia maupun setelah utusan keduanya berjabat tangan di Finlandia.

Hujan mengguyur Aceh pada awal September 2012 seiring dengan dampak pemberitaan media massa melanda bagian timur Tanah Rencong. Putri Erlina (PE), remaja 16 tahun ditemukan tewas dengan leher terjerat tali di kamar rumah orang tuanya, di Dusun Bukit Keramat Desa Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Aceh Timur, 6 September, dua hari setelah diberitakan Harian Pro Haba berjudul “Dua Pelacur ABG Dibeureukah WH”.

Kata “protestan” mulai diperdebatkan di Banda Aceh pada Jumat ketiga Juni 2012. Artikel karya Fuad Mardhatillah UY Tiba berjudul “Islam Protestan” didiskusikan oleh Kelompok Studi Darussalam bekerjasama dengan lembaga riset International Centre for Aceh and Ocean Studies. Fuad dihadirkan sebagai pembicara tunggal.

Apa yang terjadi? Kata “protestan” amat sensitif. Fuad tak hanya dicemooh peserta diskusi, tapi merebak ke jejaring sosial. Alumnus McGill University Montreal Canada itu diduga membawa aliran baru di Aceh. Bahkan ia dikucilkan di tempat ia mengajar, Istitute Agama Islam Negeri Ar-Raniry. Secara garis besar, artikel Fuad hanya diprotes penggunaan kata “protestan”.

Awal November 2012, saya mendengar kenangan seorang redaktur pelaksana sebuah koran lokal ketika ia bekerja di masa konflik bersenjata antara RI dan GAM. Saat itu arus informasi mesti melalui corong TNI. Setiap berita pracetak harus disensor dulu oleh petinggi TNI.

Pernah suatu kali, hanya gara-gara menulis “tewas” untuk anggota TNI yang menemui ajal dalam kontak tembak dengan pasukan GAM, sebuah mobil wartawan medianya dibakar aparat. Lalu media tersebut diwajibkan pakai kata “gugur” untuk memberitakan setiap anggota TNI yang meninggal dalam pertempuran.

***

Pelacur, protestan, dan tewas, adalah tiga kata yang berdiri sendiri. Namun mereka malah menembak tuan masing-masing—hanyalah contoh kecil senjata makan tuan. Apakah itu disebabkan oleh keteledoran Pro Haba, Fuad Mardhatillah, dan koran masa konflik? Atau sensional belaka?

Pro Haba satu perusahaan dengan Serambi Indonesia. Yang satu koran kuning, satu lagi koran umum yang berbau kapitalisme. Penggunaan kata “pelacur” pada pemberitaan razia dini hari di Lapangan Merdeka Kota Langsa bukanlah keteledoran, melainkan kesalahan fatal yang disebabkan barangkali tidak tahu-menahu kode etik jurnalistik.

Kata “pelacur”, senjata yang mungkin menghujam psikologis Putri, hingga ia mengakhiri hidupnya. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan AJI Banda Aceh mengadu Pro Haba ke Dewan Pers pada 19 September 2012. Stelah mediasi antara AJI dan Pro Haba di Medan, Dewan Pers memutuskan, seperti dilansir Atjeh Post pada 1 November 2012, bahwa Harian Pro Haba melanggar Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang berbunyi: “Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah”.

Dalam mediasi 15 Oktober 2012, Pro Haba menyampaikan pernyataan resmi sumber berita yang dikutip dalam berita “Dua Pelacur ABG Dibeureukah WH” sebagaimana disebut di atas. Sumber berita ini menyatakan benar-benar pernah diwawancarai wartawan Pro Haba, namun menegaskan bahwa status PE ketika wawancara dilakukan adalah terduga pelaku pelanggaran qanun tentang khalwat atau perbuatan mesum. Sumber tidak menyatakan secara tegas bahwa PE adalah seorang pelacur sebagaimana ditulis dalam berita Pro Haba.

Hebohnya dari kasus itu, beberapa hari setelah AJI menyiarkan siaran pers ke berbagai media soal kekeliruan Pro Haba, Serambi Indonesia malah membela saudaranya: dengan gagah sekali memuat keberatan Pro Haba terhadap tanggapan AJI di halaman depan. Tidak salah memang, tapi rasanya seperti petir di siang bolong, bukan?

Harusnya sudah—pura-pura tidak—tahu saudaranya bersalah, sebagai sosok yang lebih tua, Serambi Indonesia mengajari adiknya baik-baik. Membimbing bagaimana membuat judul berita yang tepat, tak sekadar memancing minat pembaca kelas menengah ke bawah. Melatih bagaimana memilih kata yang relevan dan komprehensif dengan fakta di lapangan. Apalagi media massa adalah cerminan masyarakat tempat media itu melaksanakan kegiatan jurnalistiknya. Jika media tak menulis apa adanya, karakter masyarakat Aceh dikira seperti diberitakan media lokal itu.

Sebab itu, setiap media massa di Aceh kiranya perlu sesering mungkin mengadakan training in house (pelatihan internal) untuk wartawannya sendiri— terutama soal penggunaan kata yang tepat dalam menulis berita—selain diwajibkan mengikuti uji kompetensi kewartawanan. Satu lagi, gap-gap jurnalis harus dikikis, jangan malah bikin kelompok-kelompok baru dengan ideologi barunya. Jurnalis di Aceh perlu berusaha untuk menyatu demi meluruskan kembali idealisme jurnalisme yang lebih memihak rakyat, tidak hijau mata pada kepentingan pihak-pihak tertentu.

Bagaimana dengan Islam Protestan? Dari segi kreativitas, Fuad sah-sah saja memilih kata itu sebagai judul, memancing pembaca agar melahapnya sampai tuntas untuk kemudian dicerna. Tapi tampaknya, Fuad gagal memuaskan audiens.

Padahal Fuad sudah mengira kalau ia akan mendapat protes ketika menulis Islam Protestan untuk kemudian diterbitkan Komunitas Tikar Pandan dalam Jurnal Kebudayaan Gelombang Baru. Ketika kelak banyak yang gugat, ia pun tak menafikannya bahwa itu kata kontroversial dan menjual. Bagusnya, ia sangat bertanggungjawab apa yang telah ditulisnya dan siap melayani kritikan.

Seperti dituturkannya pada Atjeh Times, Islam Protestan bukanlah agama baru seperti dikhawatirkan masyarakat, melainkan satu bentuk paradigma berpikir keislaman yang dilandasi ajaran dan pesan-pesan transenden revolusi berpikir Islam, di mana pemikirannya berpegang teguh pada prinsip-prinsip kemanusiaan yang adil, merdeka, dinamis, dialektis, relatif, kreatif, produktif, menghargai pluralis, terbuka, pro humanity, pro poor, pro green, dan bertanggung jawab secara sosiologis dan teologis.

Menurut Fuad, sebenarnya istilah Islam Protestan sudah muncul lebih kurang 10 tahun lalu. Lantas dipakainya atas pertimbangan epistemologis: ingin menangkap dan menggunakan semangat intrinsik dalam kosa kata “protes”, yang diadopsinya dari bahasa Inggris untuk meneguhkan semangat perlawanan terhadap seluruh penyimpangan dari prinsip-prinsip revolusi Islam.

Ia menegaskan, Islam Protestan tak ada hubungan dengan tradisi dan substansi dalam agama Kristen. Dikatakannya, Islam bukan sekte agama baru. Ide itu hanya untuk menumbuhkan kembali semangat dekonstruksi dan perlawanan yang dulu pernah menjadi ruh perjuangan Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi situasi jahiliyah masyarakat Arab saat itu.

Apakah efektif? Kadang ketepatan itu tidak efektif. Fuad mungkin abai kalau Aceh sedang menerapkan undang-undang syariat islam. Atau ia tidak sampai berpikir kalau beberapa tahun setelah ia menulis artikel itu, upaya pendangkalan akidah mewabah di Aceh; yang membuat warga sangat marah mendengarnya, sehingga sedikit saja ada kejanggalan warga akan curiga tanpa menyelidik lebih dalam.

Di satu sisi, tujuan Fuad menulis Islam Protestan merupakan kontribusi pemikirannya kepada Aceh dalam bentuk karya tulis. Namun hanya karena “godaan” satu kata saja, usaha baiknya ternodai. Harusnya ia lebih peka akan kondisi Aceh saat itu, di mana banyak lembaga asing masuk Aceh membantu upaya rekonstruksi dan rehabilitasi pascagema dan tsunami. Hanya itu sebenarnya. Tapi jangan lupa bahwa kata “protestan” sangat akrab di telinga muslim dengan Kristen Protestan. Sehingga wajar ketika masyarakat islam di Aceh menganggap itu islam model baru, Islam Protestan.

Sementara itu, koran masa konflik RI dan GAM yang harus sembunyi-sembunyi di kolong meja kerja. Dalam kaedah bahasa jurnalistik, media tadi sudah tepat memilih kata “tewas” untuk aparat TNI yang meninggal dalam pertempuran dengan gerakan yang dianggap sparatis. Sedangkan kata “gugur” hanyalah layak kepada tentara yang membela negaranya dalam melawan penjajah.

Pada akhirnya, ketiga pihak tadi sudah menarik pelatuk sebagaimana mestinya. Hanya barangkali mereka tidak menggunakan peluru yang tepat, atau, tidak pernah membongkar dan membersihkan senjatanya.

Saya percaya, mereka melakukan semua itu demi kebaikan Aceh. Hanya kurang memperhatikan kondisi di sekitarnya secara mendetil. Yakinlah, bahwa jaman sekarang, kepekaan dan keefektifan itu menjadi prioritas dalam menyambung hidup, menggapai hari esok. Sejatinya islam mengajarkan: perlu mengasah pisau sebelum menyembelih. Itu saja. Semoga saya tidak salah tembak.[]

Note:

Naskah ini meraih juara satu lomba menulis esai pada Unsyiah Fair 8th 2012.

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s