2013 (Bukan) Tahun Sial

2013Bunga api menghiasi langit berbagai kota ketika memasuki tahun 2013, dengan lompat-lompat girang, sorak-sorak perayaan, dan bisik-bisik harapan. Ternyata setelah bangun tidur di hari pertama tahun ini, ada juga cuap-cuap ramalan. Katanya, 2013 tahun kurang beruntung. Katanya, “13” angka sial. Benarkah?

Saya masih ingat pada suatu subuh bergoyang, 22 Januari lalu. Gempa 6 SR membangunkan warga Aceh, beberapa kali tarik nafas lagi sebelum waktunya azan Subuh. Guncangan yang terasa vertikal itu membuat saya terjatuh—kaki menggunting ke belakang. Paginya, macam-macam respons terhadap gempa merebak. Salah satunya, gempa itu menandakan bahwa 2013 tahun papa bagi Aceh; juga tahun runtuhnya kekuasaan.

Apa benar ini tahun miskin bagi Aceh? Setelah menjalani hidup hingga Februari 2013, ternyata saya benar-benar papa. Haha. Ingat, bagi saya awal 2013 adalah bulan-bulan papa. Tapi ketika mengecek kantong beberapa orang terdekat, mereka juga sedang kere. Pun begitu, saya tidak setuju dengan ramalan bahwa 2013 tahun kemiskinan.

Saya merenungkan apa yang telah saya lakukan dalam rentang Januari-Februari, ternyata saya kaya, tapi pemasukan langsung ludes ketika ada pemasukan, bahkan harus merogoh kocek dari saku orang lain (baca: pinjam). Sejatinya, kepapaan yang saya alami bukanlah wujud dari ramalan tadi, melainkan sebuah anugerah Tuhan. Itu alami.

Saya harus menjalaninya, tidak seharusnya mengeluhkan keadaan. Sebab—kiranya—keadaan itu terjadi pada alam, alam itu terjadi di bumi, dan bumi dihuni manusia. Dan keadaan itu proses.

Berbagai macam keadaan atau “proses” di bumi kemudian melahirkan “hasil” yang orang-orang menyebutnya kegagalan atau kesuksesan, padahal kedua-duanya adalah pengalaman. Ketika hasilnya berupa kesuksesan, kita bersyukur (sebagian tidak). Tapi ketika hasilnya berupa kegagalan, kebanyakan orang mengeluhkan keadaan. Padahal kegagalan itu sebuah hasil dari pengalaman yang diciptakan manusia.

Menghindari stres karena gagal mencapai target dalam dua bulan pertama 2013, saya sugestikan diri bahwa kegagalan mencapai target merupakan sebuah keberhasilan dalam meraup pengalaman penting. Sebuah pembelajaran untuk menyongsong hari esok, bahkan mendobrak “kemalangan 2013”. Bahkan saya harus menjilat ludah sendiri untuk menciptakan pengalaman baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Sebab bila memprotes keadaan, kiranya kita termasuk orang yang memprotes Tuhan? Nah, lho?

Maka dengan usaha, doa, restu orangtua, dan dukungan pasangan, saya akan lebih berhati-hati dalam melangkahi bulan-bulan selanjutnya. Ketika menaruh harapan di ujung sana, patut saya raih semaksimal mungkin, dengan tidak mengharapkan lagi kesempurnaan. Sebab tak ada yang sempurna di dunia, karena kesempurnaan tidak melahirkan pengalaman yang membuat manusia berpikir.

Selagi sehat akal dan pikiran, saya yakin kepapaan itu akan segera menjauh pelan-pelan. Harus menyusupi beberapa pertimbangan dalam pikiran ketika sebuah keyakinan akan mencapai target sempurna (mimpi) muncul tiba-tiba, baik dari diri sendiri atau orang lain. Buatlah semacam kemungkinan baik dan buruk.

Pada akhirnya, hari-hari kita berjalan sebagaimana mestinya, yang kita sendiri tidak tahu kenapa kadang-kadang tidak sesuai harapan. Itu alami. Itu keadaan, maka menjalaninya, bukan mengeluhkannya.

Ketika usaha saya di jalan yang saya tempuh kurang mulus, secara samar, di jalan lain ada orang yang memuluskan usaha saya. Inilah yang harus direnungi baik-baik, dengan catatan menjalankan usaha dengan ikhlas, dalam bahasa lain: tidak mengeluhkan keadaan ketika tidak mencapai kesempurnanaan, termasuk dalam menempuh pendidikan.  

Ada pesan dari ahli psikologi Ashley Davis Bush bagaimana melalui hari-hari dengan damai. Dalam bukunya berjudul Shorcuts to Inner Peace (2011) ia menyebutkan, menjalani aktivitas sehari-hari haruslah dengan sugesti-sugesti yang baik jika mendapati keadaan buruk. Misal ketika berhenti di lampu merah, berhentilah dan sebarkan sedikit niat baik pada sesama pengguna jalan yang ada di sekeliling Anda. Seperti disari Agustine Dwiputri di rubrik Konsultasi Kompas Minggu (3/3/13), lihatlah orang-orang di dalam mobil, di depan, di samping, ataupun di belakang Anda. Akui bahwa masing-masing dari mereka juga seperti Anda: ingin bahagia dan bebas dari penderitaan.

Menurut Ashley, kehangatan kita terhadap orang lain akan mengaktifkan aspek penenangan dari sistem saraf kita sendiri. Membuka hati dengan rasa belas kasih, membuat kita mengalami sensasi yang lebih dalam akan kedamaian.

Lalu, apakah dengan menyimpan ramalan dalam kepala akan membuat kita damai? Atau dengan meletakkan ramalan di lemari hiasan akan membuat kita gagal? Oh, tidak! Saya tidak tahu pasti. Namun alam gaib—jika ramalan dikaitkan dengan tahayul—itu ada. Dan kita patut menyusun rencana menghadapi hari esok dengan ikhlas, sementara ramalan letakkan di lemari hiasan atau buffet.[]

Rumoh Aceh, 4 Maret 2013

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s