Pengalaman dari Dua Koran (1)

Simak pengalaman saya ketika bekerja sebagai editor pada dua surat kabar harian umum di Aceh. Semoga termotivasi dan dapat inspirasi! Tapi ingat, yang terpenting, siapa kamu hari ini, bukan siapa kamu kemarin.

Suasana dapur redaksi HA. Dok. Pribadi
Suasana dapur redaksi HA. Dok. Pribadi

SUATU sore di pengujung April 2011, saya mendatangi kantor Harian Aceh di Jalan T Iskandar Lambhuk, Banda Aceh, dengan Astrea Grand warisan kakak. Saya hendak menagih honor tulisan lepasku yang dimuat media tersebut.

Keluar dari kantor berlantai tiga itu, saya dipanggil seorang pemuda yang sedang makan nasi di warung sebelah—kemudian kutahu namanya adalah Taufik Al Mubarak, redaktur pelaksana Harian Aceh. Usai memperkenalkan diri, dia tiba-tiba menawarkanku job yang tak kusangka-sangka. Ia tawarkan aku bekerja di Harian Aceh (HA) sebagai asisten redaktur.

“Oh! Benarkah? Ini bukan mimpi kan?”

Bukan! Itu fakta ketika saya baru memasuki kuliah semester lima. Saya sudah menulis lepas sejak Mei 2010. Dan bekerja di media kecil pada awal 2011.

Kami bernegosiasi. Beberapa menit kemudian, pemimpin redaksi HA, Ariadi B Jangka, keluar dari kantor dan menemui kami. Segera Bang Taufik perkenalkan saya padanya. Disambut dengan hangat. Malah giliran Bang Ariadi yang meyakinkanku.

“Kalau ‘bermain’ di media jangan setengah-setengah,” bujuknya.

“Kenapa harus saya? Saya tidak pantas dan masih muda.”

“Sengaja kami pilih tenaga muda sepertimu yang masih ‘suci dari bisikan.”

Saya pun digadang-gadang bakal menggantikan seorang redaktur lain, Mardani Malemi, yang akan diangkat menjadi PNS mulai Juni 2011.

“Pikir-pikir dulu,” saya berjanji.

MALAM PERTAMA berkantor, 9 Mei 2011. Sore ini saya mulai bekerja di jajaran redaksi HA. Saya diminta mengasuh rubrik Nusantara (nasional) plus mengedit dua atau berita halaman Banda Raya milik Roni Purnama. Awal Juni, saya sempat mengedit rubrik Banda Raya selama tiga malam sendiri, karena Bang Roni harus pulang ke kampung istrinya di Abdya. Pertengahan Juni, saya pegang rubrik Infotaiment untuk hari Minggu. Editan pertama dipuji senior HA, MA. Seminggu berikutnya, saya dipercayakan memegang halaman Aceh Raya berisi berita dari daerah-daerah yang hanya di hari Minggu.

Kejutan di akhir Juni. Saya tidak menyangka Bang Taufik mengundurkan diri. Maka mulai Juli, saya pegang halaman DONYA berisi berita internasional. Beberapa hari kemudian, saya malah diminta asuh halaman Pidie Raya yang sebelumnya saya dan Bang Roni mengolahnya sepeninggal Bang Taufik.

Maka sejak pertengahan Juli, semalam saya pegang tiga halaman, Nusantara, Donya, dan Pidie Raya. Malam Minggunya mengolah Aceh Raya dan Infotaiment. Bebanku berkurang mulai Agustus. Nusantara diambil alih Bang Roni.

Mak menangis ketika kuberitahu bahwa saya tidak bisa pulang pada meugang bulan  Ramadhan 1432 H, karena HA tetap terbit. Ibuku sangat mengharapkan saya pulang di hari sakral itu dan yang paling penting untuk mencicipi daging meugang masakannya.

Itu pengalaman pertama saya tidak makan masakan meugang bikinan Mak, melewati meugang tanpa orangtua dan keluarga. Sore meugang kedua di Rumoh Aceh Prada, saya sempat mengucurkan airmata ketika kakak tertua bilang melalui hape: “Mak menangis bungsunya tak pulang yang sudah menunggu sejak sehari sebelum meugang pertama.”

Sebenarnya saya tak tega. Saya bisa saja pulang dan bekerja di kampung melalui warnet atau modem. Tapi saya tak mau, dampaknya besar. Kawan sekantor yang lebih tua dariku berpotensi cemburu. Mungkin saja tak seutuju jika aku pulang.

Saya baru saja mendapat kepercayaan perusahaan dan media. Saya tak boleh merenggangkan kepercayaan itu. Harus patuh pada peraturan perusahaan media. Apalagi sebagai seorang editor (saya elergi dengan kata ‘redaktur’) termuda di Harian Aceh, saya harus bersikap layaknya seorang redaktur senior. Harus profesional. Itu duniaku, dunia kami pekerja media.

Aku janjikan melalui Kak Nong (kakak tertua), bahwa saya akan pulang ketika libur 17 Agustus. Oya, Agustus adalah bulan keduaku menunggangi Mario (motor baruku, Mio Soul). Saya jadi lebih pede di jalan. 😛

Usiaku akan genap 21 ketika menginjak tanggal 19 Desember 2011. Tentu jika orang-orang tahu bahwa saya sudah menjadi redaktur media massa di usia muda kemungkinan besar akan iri dan cemburu. Karena itu saya berusaha menyembunyikan identitasku.

Memang, status baruku itu persis seperti kisah durian. Ia perlahan akan tercium hingga ia jatuh dan siap diolah. Namun sebelum durian itu jatuh, saya sembunyikan pada publik. Alhamdulillah, sampai September 2011, namaku tak dicantumkan di box redaksi.

Itu bagus sekali menurutku. Karena dengan demikian, saya tak terbeban. Pun begitu, Pak Hasan Basri M Nur, guru menulis opiniku yang juga dosenku dan juga rekan menulis biografi, menyarankan untuk mencantumkan namaku di box redaksi. “Kita harus memperkenalkan diri pada publik, biar nanti diundang kesana-kemari dan tahu siapa kita,” katanya suatu hari di akhir Juli 2011. Tapi saya belum mau. Biarkan saja air tenang menghanyutkan.

SELAMA RAMADHAN, saya buka puasa di kantor. Setiap jelang buka, OB (Bang Reli) mengantarkan kami penganan berbuka dan seceret teh, sesekali air tebu. Nyaris setiap hari kue basah yang citarasanya berubah-ubah. Kadang juga tak sanggup dimamah, digigit, atau dikunyah. Baru nanti usai tarawih, saya makan nasi bersama Zulham Yusuf, layouter yang juga senior di kampus. Kami mencari warung nasi ke kota.

REDAKTUR halaman Budaya, Daerah, Fokus dan SMS Pembaca, Iskandar Norman, tidak bisa hadir di minggu kedua Ramadhan. Istrinya melahirkan anak pertama. Ia pun cuti kerja.

Rubrik SMS Pembaca terbit setiap hari, kecuali Minggu. Kebetulan malam itu, hape yang biasa dikirim sms oleh pembaca dipegang Bang Is. Ketika dihubungi, ia di RS temani istrinya, sementara hape sms di rumahnya. Jadi tak mungkin lagi diambil.

Tak lama lagi naik cetak. Nah, Pemred dkk redaksi percayakan saya bagaimana caranya agar halaman SMS Pembaca tidak putih belaka. Itu menantang, dan saya suka! Begitu selesai tugasku jam 8, saya mulai berpikir; Yeah, saya dapat ide! Ting! (sensor).

Sabtu 14 Agustus 2011, Bang Is belum bisa masuk kerja. Halaman Tamadun pun tak ada yang tangani. Maka pemred dkk redaksi kembali percayakan saya menanganinya.

Begitu halaman Aceh Raya dan Infotaiment kelar sekira jam 8, saya mulai bertamadun. Rubrik itu terbit dua halaman setiap minggunya. Satu halaman memuat cerpen dan puisi. Satu lagi untuk artikel budaya, resensi, dan kolom Nyak Kaoy, kadang juga cerbung milik Bang Is.

Saya buka email budaya. Melihat tulisan yang layak muat. Di email budaya, kebetulan ada cerpenku yang kukirim beberapa hari lalu. Karena yakin itu layak, kumuat karyaku sendiri, Istriku Masuk Koran, kurasa Bang Is akan memuatnya juga jika membacanya. Ehehelg.

Namun tak satupun yang mengirim resensi. Puisi ada beberapa. Pastinya banyak kiriman lain di email pribadi Bang Is, tapi mana mungkin. Malam itu aku berkuasa! Haha. Nah, aku hubungi Nazar Shah Alam dari Komunitas Menulis Jeuneurob, tempat kami berdiskusi kepenulisan.

“Cepat bikin resensi untuk dimuat HA besok. Aku tunggu paling telat jam setengah 10,’’ desakku padanya.

NSA pun melakukannya dengan cara (sensor). Ahaha.

Lalu saya harus mengarang Nyak Kaoy yang biasanya oleh Bang Is. Nyak Kaoy berupa ulasan sebuah peristiwa hangat dalam minggu terakhir yang disajikan dalam bahasa ringan dengan hadih maja dan petuah-petuah tetua Aceh.

Akhirnya, koran terbit sempurna. Besoknya bubar sama KMJ. Mereka kagum setelah tahu saya yang asuh Tamadun hari itu. (Terimakasih kawan-kawan KMJ (kini Jeuneurob), jasa kalian sangat berarti, itu kenangan tak terlupakan)

Bagai Rossi, 16 Agustus 2011. Hujan mengguyur cukup deras. Namun saya harus segera ke kantor. Saya pun melejit dari Prada menuju Lambhuk. Persis di depan supermarket Lambhuk, saya melaju dengan cepat.

Saya mengelak lubang dan mengambil kanan jalan sambil mengerem ban depan, namun jalanan yang licin membuat ban tergelincir. Motor pun terjatuh ke kanan jalan, terseret hingga 10 meter. Aku tak melepas setirnya, menikung di jalan layaknya Valentino Rossi di Moto GP.

Begitu berhenti, saya melihat ke kiri dan kanan. Orang-orang tak akan membantu malah bersorak: “Beubagah lom!” Saya bangkit dan menyalakan lagi Si Mario, berjalan pelan hingga tiba di kantor sekitar 30 meter dari TKP. Syukurnya tak ada mobil yang melaju dari belakangku saat itu. Kecelakaan pertama di bulan puasa. Dan tetap bekerja, hanya luka lecet.

TIDAK TERBIT, 28 November 2011. Jam 12:00 WIB, saya menghadiri rapat Acehjurnal di kampus, sebuah media online yang kami bangun dengan semangat taik ayam setahun lalu dan kemudian terbengkalai. Usai rapat, Zulham sang layouter HA membisikkan sesuatu padaku.

Na tubiet koran uroenyoe?” tanya dia.

Saya kaget. Pertanyaan yang langka. Diceritakannya, berawal pada Minggu (27/11/11) malam. Saat itu usai merampungkan tiga halaman, saya keluar dari kantor jam 22:00 WIB. Maka di lantai tiga (redaksi), hanya tinggal dua layouter: Zulham dan Haikal, bersama Pemred.

Dua penata letak itu nonton film. Tiba-tiba, sekira jam 12, hampir naik cetak fase terakhir, Sang Pemred keluar dari ruangannya. Dia memberondongkan kata-kata berbahasa ‘Inggreh-Aceh’. Ia kesal. Baru saja dia siap merampungkan editan terakhir, koran tidak jadi cetak.

Zulham mendengar bahasa ‘teuemeunak’ itu seteumeunak-meunaknya. Jika sebelumnya hanya dua patah kata, malam itu semua perbendaharaan kata dalam bahasa Inggreh-Aceh yang dimilikinya dikeluarkan. Ruah di ruang redaksi. Gara-gara, PT Darussalam Media Grafika tak mau mencetak lagi karena sudah terlalu banyak utang HA.

[Bersambung]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

One thought on “Pengalaman dari Dua Koran (1)”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s