Pengalaman dari Dua Koran (3)

Saya adalah salah satu perintis surat kabar harian? Wow!

SEPULUH hari setelah berjumpa dengan Musmawarwan Abdullah, tepatnya 27 Desember 2011, atau seminggu menjelang pamit dari HA, saya kembali berpikir ingin berhenti kerja.

Saya sedang dihadapkan pada pilihan hidup. Ada yang mengatakan, “hidup adalah pilihan, kamulah yang menentukan.”

Kondisiku saat itu, kerja dan kuliah ibarat dua sisi mata uang.  Saya tak sanggup lagi menjalani dua-duanya: kuliah di prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry sembari bekerja sebagai redaktur di HA.

Mulanya tak ada masalah. Namun sejak aku dipercayakan memegang halaman Fokus, paku-paku di kepalaku bertambah. Itu membuat saya seperti bekerja 24 jam. Sejatinya memang, kerja wartawan apalagi para editor atau redaktur dan setingkatnya, 24 jam. Bukan fisik, tapi pikirannya.

Sebenarnya saya tak masalah dengan pekerjaan itu, tapi saya baru menginjak usia 21 tahun, masa-masa pubertas. Masa-masa menikmati masa muda dengan penuh kebebasan. Tapi, sangat sulit menjawab jika kembali ditanya: milih kuliah atau kerja?

Berhenti kerja itu konyol! Sebab saya masuk HA sangat beruntung. Saya tak melamar, tetapi dilamar. Nah, halaman Fokus memang dibuka untuk umum. Tapi sangat minim peminat, entah karena tak banyak yang tahu atau karena kurang bayaran. Seperti kualami, satu halaman koran itu hanya dibayar 50 ribu rupiah. Padahal minimal tulisan harus 1500 kata. Kalau pemegang halaman, malah diberikan setengah darinya.

Namun bukan uang persoalan bagiku, tapi usiaku. Saya masih ingin bebas di usia muda sebagaimana kawan-kawanku di kampus.

Sekali lagi, berhenti kerja itu konyol! Kerja adalah penunjang kuliahku. Selain sesuai dengan jurusan (sangat bagus malah, sebab di jurusan Jurnalistik baru di semester lima mengajarkan mata kuliah jurnalistik, bahkan memulainya dengan Jurnalisme Investigasi, kurikululm yang sangat salah), saya juga mendapat uang mandiri.

Alasan lain kenapa ingin berhenti, sosialisasiku kian berkurang. Dua kawan komunitasku, ayahnya meninggal. Satu di Bireuen, satu di Pidie. Saya tak bisa ikut melayat. Tak bisa kutinggalkan kantor. Jangankan mereka, saudara dekat saja sangat sempit waktu berkunjung. Komunitas-komunitas sudah jarang kuhadiri. Senior-senior sudah jarang kutemui.

Padahal saya suka sekali dengan posisiku sekarang, meski tak enak dengan senior-senior. Cuma kerjaku tak efektif. Hasilnya tak maksimal. Saya harus fokus satu.

Berhenti kuliah itu tolol! Jaman sekarang, gelar sarjana sangat dibutuhkan di Indonesia yang aneh. Kuliah itu juga pilihanku dulu. Orangtua sudah ikhlas mengizinkan saya menentukan sendiri pilihan setelah lulus SMA.

Saat itu, “kamu milih kuliah atau ke dayah?” tanya orangtua. Saya cenderung kuliah, karena ingin menjadi wartawan dan sastrawan. Kalau mengaji ke dayah, sudah ada abangku di Ruhul Fata Seulimum.

Kegamangan membuat saya bangun tengah malam untuk salat tahajud. (Jika sudah begini, baru ingat Tuhan, hehe). Begitulah iman manusia, naik-turun.

DUA hari kemudian, saya mengikuti ujian final Jurnalisme Investigasi. Saya telat datang dan sudah kuberitahukan sebelumnya. Saya pun terakhir diuji.

“Sebenarnya Bapak tak membuat ujian lagi untuk kamu. Saya sudah punya nilai untuk kamu. Bahkan tak tahu harus memberikanmu nilai apa,” katanya.

“Kita bicara aja soal tawaran edit buku saja,” bisiknya. Beberapa hari lalu ia mengajakku makan dan menawarkan saya untuk mengedit bukunya.

Dosen favoritku itu juga mengomentari apa yang sedang kutempuh.

“Bapak yakin Makmur punya bakat. Kamu boleh bergaul dengan siapa aja. Tapi jangan sampai ‘terjerumus’. Kamu harus jadi Makmur yang pure (murni). Kamu pasti akan menjadi sesuatu,” ia menilai.

“Satu lagi, kamu tak boleh terlalu cepat besar kepala. Jangan merasa kamu hebat. Kamu harus seperti botol yang kosong,” pesan dia.

Kata-kata dari dosen yang masih muda nan elegan itu bagai energi yang mengalir ke jiwaku.

TAHUN BERGANTI. Masa depan HA masih samar-samar. Hingga kami bikin rapat mencari solusi pada akhir Januari 2012. Kami tak tahan lagi bekerja. Uang memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang. Beberapa senior harus mengutang untuk beli susu anak, sampai kapan? Saya juga butuh untuk menggantikan celana dalam, ha-ha.

Harusnya kami sudah berhenti dari bulan-bulan sebelumnya. Tapi semangat kami, teamwork kami, luar biasa. Loyalitas wartawan di daerah tak perlu diragukan, entah karena ada “sumber dana” dengan cara lain—mungkin.

Selama ini kami bekerja dengan memegang erat petuah “jangan mencintai tempat kamu bekerja, tapi cintailah profesimu” atau versiku “jangan cintai gelasnya tapi cintailah airnya”.

Namun saya sedih. Sebagai pemula di media mainstream dan sebagai redaktur yang tak genap dua bulan. Sedih hanya karena baru sejenak kuarungi cita-citaku.

RAPAT redaksi digelar pada 3 Februari. Membahas nasib HA. Dihadiri Pimpinan Umum LAO, pemilik percetakan di Darussalam PY, dan segenap jajaran redaksi. Setelah berlangsung alot, Pemred ABJ yang hari itu ultahnya ke-43 menyatakan dengan tegas:

“Saya mengundurkan diri. Saya tak sanggup lagi bekerja jika kondisinya seperti hari ini.”

Tentu kami sebagai bawahannya juga demikian. Kami sudah jauh-jauh hari membicarakan itu, mundur dari HA dan menerbitkan koran baru: Nanggroe Post.

Saya melihat aura sendu LAO ketika mendengar keputusan kami. Ia tak bisa berbuat banyak. Ia sendiri mengaku HA memang sedang krisis finansial, karena mitranya  #sensor sudah tidak lagi punya kekuasaan. Sebenarnya kami juga sedih, tapi itu demi mengurangi beban LAO juga, agar tak lagi memikir salari kami dan lain-lainnya ke depan.

Malamnya, saya menulis artikel terakhir untuk kolom cang panah. Judulnya “Pamit”. Lihat: pamit/. Hadiah perpisahan spesial untuk HA 4 Februari. Kami benar-benar pamit besoknya. Good by Harian Aceh.

Surat ke YogyaSatu kenangan yang tak kulupakan, saya terpilih 10 besar wartawan se-Indonesia yang mendapat beasiswa mengikuti Pernas AIDS IV di Yogyakarta pada Oktober 2011. Setidaknya nama Harian Aceh sempat berkibar di daerah istimewa itu.

KUKIRA kami tak diundang ke acara ulang tahun Harian Aceh ke-5 pada 22 Februari 2012. Ternyata ada melalui Roni Purnama. Kami makan siang di kantor HA dengan khidmat. “Mantan” kami itu juga santuni anak yatim.

Di sela-sela makan kenduri, kami dapat kabar mengejutkan. Harian Aceh akan terbit kembali dengan wajah baru pada 27 Februari 2012, sama dengan hari perdana terbit koran harian yang kami rintis. Seru nih.

Di koran baru itu, saya dipercayakan posisi redaktur, bersama Bang Ariadi, Bang Roni, Bang Is, dan Bang Juli. Ada diantara mereka yang merangkap jabatan.  Beberapa kawan mantan HA juga ikut, seperti Haikal, Zulham, Rahmat RA, Bang Usop, dan Isas. Hanya itu. Rahmad Kelana lebih memilih gantung kamera, ia pulang ke kampung halamannya di Langsa; tak ada kabar tentangnya hingga hari ini.

Tepat dua minggu setelah minggat dari HA, dengan beberapa anggota baru, kami berhasil menerbitkan harian baru yang tampil elegan. Nama Nanggroe Post ternyata hanya untuk buah bibir saja, tapi yang sesungguhnya adalah Harian Pikiran Merdeka. Kami yakin koran ini akan maju. Tapi masa depan tak bisa diprediksi, betul?[Bersambung]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

3 thoughts on “Pengalaman dari Dua Koran (3)”

  1. mantap ,,,
    memang hidup di impit oleh dua pilihan ,,,,,
    tergantung pilihan yang mana yang harus kita ambil….
    dan pilihan yang itulah yang nantinya akan merubah hidup kita.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s