Kuliah Demi Siapa?

kuliahIni lagi musim “tes masuk kuliah”. Hebohnya tak kalah dengan musim duren. Saya punya wejangan nih bagi calon mahasiswa,  mahasiswa, dan kampusnya. Saya harap ada api yang berkobar dalam tulisan ini untuk menyalakan semangat kalian.

GELAR sarjana menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia saat ini. Penamatan strata satu (S1) semacam batu loncatan untuk menempuh hidup pada tingkat dewasa akhir. Lulusan SMA pun berlomba-lomba masuk perguruan tinggi. Lantas, demi siapakah mereka kuliah? Untuk memenuhi tuntutan orangtua atau membantu majukan kualitas pendidikan?

Calon sarjana terus saja dicetak, lalu menjadi sarjana dengan berbagai keahlian yang dinyatakan secara resmi pada ijazah. Kuliah telah menjadi bagian dari siklus hidup manusia jaman sekarang yang harus dilalui. Orangtua yang mengerti hal itu, melepas anaknya untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sesuai keinginan mereka atau kemauan anaknya sendiri.

Tatkala melihat kelesuan di wajah mahasiswa Aceh hari ini—katakanlah awal 2013—memancarkan pesan tersirat. Kemungkinan mereka memikirkan tuntutan skripsi dari orangtua yang masih membiayai kuliahnya. Bisa saja menimbang-nimbang bagaimana menyelesaikan pendidikan sementara orangtua tak lagi menyumbang dana. Boleh jadi ia membayangkan takkan dapat kerja atau ditolak calon mertua bila tidak bergelar sarjana.

Para mahasiswa menempuh studi selama empat sampai lima tahun untuk meraih sarjana. Tapi orangtua atau keluarganya hanya menginginkan satu hari saja, ketika mereka memakai toga untuk menerima gelar sarjana di hari wisuda.

Sebuah kebahagiaan bagi orangtua ketika mahasiswa mampu membawa gelar sarjana ke rumah orangtuanya. Setidaknya ketika seorang ibu bergaul dengan ibu-ibu lainnya yang anak mereka baru saja mendapat gelar sarjana, ia juga berani dan bangga menyatakan anaknya baru saja diwisuda di universitas fulan.

Ternyata orangtua, terutama di daerah-daerah yang melepaskan anaknya untuk kuliah di ibukota provinsi, menaruh harapan besar. Mereka mengharap sebentuk kebahagiaan pada toga wisuda atau gelar sarjana anaknya. Barangkali telah mereka siapkan kejutan jika kelak wisuda.

Lantas, bagaimana dengan mahasiswa yang membiayai kuliahnya sendiri? Pada siapa mereka persembahkan gelar sarjana atau penampilan rapi mereka ketika mengenakan toga? Bisa jadi ia akan datang ke makam orangtua atau merayakannya dalam bunga tidur.

Anak Zaman

“Setiap pejuang adalah anak jaman,” kata penulis buku islami Salim A Fillah. Maka mahasiswa dan perguruan tinggi sebagai pejuang dari dunia pendidikan harus mengikuti zamannya, demi cepat menyelesaikan kuliah, lekas membahagiakan orangtua, keluarga, bahkan pasangan hidup si mahasiswa.

Agaknya kalau dipikir-pikir, memasuki 2010 ke atas, adalah zamannya kuliah (hanya) demi orangtua, bukan lagi menimba ilmu. Dalam artian, di tengah kelalaiannya bermain-main dengan gelembung-gelembung globalisasi, mahasiswa tersadar untuk serius belajar ketika dipaksa orangtua.

Pada akhirnya, mahasiswa sebagai anak, cepat-cepat menamatkan studi (hanya) untuk menunaikan kewajibannya pada orangtua. Ia tidak lagi memandang sejauh mana ilmu yang akan diperoleh atau sejauh mana ia sudah menggunakan ilmu itu dalam kehidupan sosialnya. Mahasiswa semacam itu yang mungkin memegang kendali zaman. Dikhawatirkan perguruan tinggi tidak lagi menjadi “guru” bagi mahasiswa, tapi menjelma “biro” ijazah bagi mereka yang mengikuti zaman.

Namun di satu sisi, ketika orangtua sudah bahagia, maka semua usaha—dalam berbagai bentuk demi mendapatkan kekayaan—yang ditempuh para sarjana akan lebih mudah dibanding yang ia garap ketika masih menjabat status mahasiswa. Agaknya, sebuah usaha yang baik adalah yang memilik label restu orangtua. Karena itu, para mahasiswa, orangtua, dan perguruan tinggi, sebaiknya mengikuti zaman, seperti air mengalir yang mengikuti arus.

Dosen Pembimbang

Ketika orangtua dan mahasiswa telah mengikuti zaman, seharusnya kampus juga mendukung, baik dari rektorat hingga jurusan. Selama ini, pihak kampus terkesan memperlambat mahasiswa dalam membahagiakan orangtua mereka. Peraturan-peraturan akademik dipersulit dengan cara yang halus—apalagi sebagian perguruan tinggi (negeri maupun swasta) yang menaikkan ‘uang pembangunan’ atau SPP meski gedung kuliah tak pernah bagus. Sebuah kebijakan yang tampak manis di muka tapi pahit di belakang.

Ada pula para civitas akademika yang patut diduga memperlambat mahasiswa untuk membahagiakan orangtua. Semisal dosen-dosen yang jarang masuk dengan berbagai alasan, atau para dosen pembimbing skripsi yang kurang menyediakan waktu bagi mahasiswanya. Soal dosen pembimbing macam itu, mereka layaknya duri-duri di bibir pantai yang harus segera dibuang, agar mudah menikmati cantiknya panorama laut.

Banyak mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang mengeluhkan dosen pembimbing. Para mahasiswa sungguh-sungguh menggarap skripsi, tapi ketika dijumpai untuk konsultasi, mereka kerap bikin alasan yang menusuk gairah mahasiswa. Sebaiknya dosen tak bersedia menjadi pembimbing jika (sudah tahu) tak punya banyak waktu, atau mengurangi kesibukan di luar ketika ia mengemban tugas membimbing skripsi beberapa mahasiswa.

Siapa salah, dosen? Mungkin juga dosen pembimbing macam itu adalah duri-duri hari ini di pantai yang diletakkan di sana beberapa tahun lalu. Artinya, mereka adalah tipe-tipe dosen pembimbing pada zamannya. Mereka sulit bermetamorfosis ketika zaman berganti. Bisa saja mereka masih banyak menyimpan “kenangan manis” yang belum habis dinikmati jika meninggalkan kebiasaan lama.

Seharusnya para dosen pembimbing mengayomi mahasiswa, sebaik atau bahkan lebih baik dari ketika ia menempuh kuliah, bukan malah menjadi “dosen pembimbang” mahasiswa. Atau jangan-jangan, penyebab mereka tidak punya banyak waktu pada mahasiswa adalah semacam revans, pembalasan dendam bagi generasi di bawahnya. Semoga tidak demikian, tapi kita patut menduga untuk menyadarkan mereka.

Kembali Pada Mahasiswa

Sebagai pejuang zaman, pada akhirnya mahasiswa sendiri yang harus lebih gigih membahagiakan orangtua. Ia sendiri yang harus hati-hati berjalan, sebisa mungkin agar tidak menginjak duri-duri kemarin. Sebab akan ada kebahagiaan di depan yang harus segera diraih, demi mencapai kebahagiaan-kebahagiaan lain di hari esok.

Ketika selesai kuliah, orangtua tak lagi begitu mempertimbangkan ke mana arah hidup kita; apakah melanjutkan pendidikan, langsung bekerja, atau malah menikah? Semua di tangan para sarjana, tergantung bagaimana ia memandang dunia, sebelum menghadapi Sang Pencipta. Dalam kasus ini—kuliah karena tuntutan orangtua—dunia sulit berinovasi sebab para sarjana kurang bermutu. Pada akhirnya, lulusan SMA mesti memikirkan dulu apa tujuannya dan untuk siapa masuk kuliah.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s