Kenangan Kuliah Pengabdian

Oja membaca puisi perpisahan
Oja membaca puisi perpisahan

Kini saatnya tiba
berpisah dengan abang dan kakak KPM
Kami berdoa kepada Ilahi
semoga kita berjumpa lagi

Bocah itu melambai pelan dari atas panggung di depan meunasah Lampuuk, Darussalam, Aceh Besar, menuntaskan keberaniannya membaca puisi perpisahan dengan mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri IAIN Ar-Raniry 2013 pada Rabu (03/07/13) malam yang lembab.

Sepanjang pengabdian saya di Gampong Lampuuk, dia adalah bocah paling berani di antara puluhan lainnya. Namanya Oja AA. Dia juga mewakili gampong berpenduduk 550 jiwa itu mengikuti lomba mewarnai tingkat TK pada Musabaqah Tilawatil Quran tingkat kecamatan Darussalam yang digelar mahasiswa KPM Kecamatan Darussalam, akhir Juni lalu–dimana cabang tilawah putra dan hafalan surat pendek putri berhasil membawa pulang juara dua dan juara satu.

Namun saya tidak akan membahas profil bocah itu di sini, melainkan tentang kenangan ketika menempuh pengabdian di masyarakat—atau dikenal KKN (Kuliah Kerja Nyata).

Kawan satu unit yang mengambil KPM PAR berbasis riset di Aceh Tengah, sebut saja namanya Bougenvil, mengomentari, pengabdian kami tidak berkesan karena ditempatkan di lokasi yang dekat dengan kampus. Pengalaman kami tidak seperti mereka yang membuat masyarakat menangis ketika perpisahan.

Memang tidak ada airmata ketika mahasiswa KPM Mandiri menggelar perpisahan dengan masyarakat tempat mengabdi, berbanding terbalik dengan KPM PAR atau KPM Reguler yang ditempatkan di daerah terpencil dan jauh.

“Bagaimanapun jenis KPM tetap ada kenangan, kadarnya saja yang berbeda,” ungkapku pada Bougenvil. Atau kutegaskan pada Akasia, memang tidak ada tumpah airmata ketika kami buat perpisahan, tapi ada kesan lain di kami yang tidak ada pada kalian.”

Keberanian Oja tadi merupakan salah satu dari beberapa kenangan yang tak kulupakan. Anak-anak yang (super) bandel, nasihat orangtua, kebaikan pak keuchik, humor teungku bileue, masyarakat beragam sambutan, adalah butir-butir kehidupan yang patut dijadikan sebagai guru dalam bermasyarakat. Bahwa negatif(isme)—dalam bermacam sisi dan bentuk—selama pengabdian harus dipandang secara positif.

Saya pribadi sangat bersyukur bisa salat tepat waktu dan berjamaah selama 40 hari menjalani KPM. Saya juga sangat terkesan dengan antusias anak-anak mengikuti Festival Anak Saleh dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Dan paling penting, Lampuuk menjadi objek wisata spritual saya di perantauan meski jaraknya cuma 15 menit berkendara dari tempat tinggal saya sementara di Peurada, Banda Aceh. Kalau-kalau saya jenuh di ibukota, seperti pesan Pak Keuchik, saya bisa pelesir ke gampong yang meraih predikat gampong terbaik pada lomba desa tingkat provinsi tahun 1993/1994 itu.

Pada akhirnya, kita (peserta KPM atau KKN), tentu tak lepas dari pelesetan kepanjangan: Kuliah Peungeut Masyarakat atau Kuliah Peugot Masyarakat dan Koh-Koh Naleueng atau Kalon-Kalon Nona. Saya yakin, pelesetan itu juga lahir dari kenangan selama pengabdian.[]

Rumoh Aceh, 5 Juli 2013

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s