Sosok Inspiratif yang Tertunda

Desain rumah karya Tu Muklis pernah diprotes suatu kali. “Kenapa pakai rancangan dia yang jelek ini?” serang desainer senior di depan pemilik rumah, ketika ia baru menjalani profesi sebagai perancang model bangunan.

Namun Tu tak berkecil hati, justru berjiwa besar.

Semua masalah tergantung pada bagaimana cara kita memandangnya, sebut Arthur Schopenhauer dalam Epictetus Compassion is The Basic of All Morality (iskandarnorman.blogspot.com).

Tu Mukhlis mengukur properti untuk desain kantor HPM. (Dok. Me)
Tu Mukhlis mengukur properti untuk desain kantor HPM. (Dok. Me)

Tu pun menjadikan celaan tadi sebagai cambuk untuk lebih giat belajar.

“Satu kuncinya,” kata Tu di sela-sela mendesain interior Kantor Harian Pikiran Merdeka, awal 2012, “sesungguhnya alam mengandung banyak ilmu. Kita harus belajar dari alam.”

Desain lantai bawah kantor HPM. (Dok. Me)
Desain lantai bawah kantor HPM. (Dok. Me)
Desain lantai bawah kantor HPM. (Dok. Me)
Desain lantai bawah kantor HPM. (Dok. Me)

 

 

Menurut pria asal Bireuen itu, orang meraih gelar profesor karena belajar pada alam.

“Mereka (profesor) meneiliti gelaja alam, begitu pula ilmuwan-ilmuwan,” ujarnya.

Dari pengalaman mereka, Tu menarik kesimpulan, menjadi desainer interior tak perlu sekolah sampai perguruan tinggi. Ia hanya tamat SMA.

“Saya belajar pada alam,” tegasnya pada saya, di bawah pecahan sinar bulan Maret yang benderang.

Masih melekat di ingatannya pada kasus tambak udang di Pangkalan Susu, Langkat, Sumut, suatu kali.

Udang mati di tambak warga, tapi tidak di sungai atau payau. Dianalisisnya, air sungai mengalir, artinya terjadi pergantian air. Sementara warga tidak mengganti air tambak. Ia pun rutin mengganti air tambak saat petani lain masih menemukan udang mereka mati.

Hingga kini, pria beruban itu telah dipercayakan mendesain beberapa gedung mewah. Ia merancang mal di Medan, perkantoran di Bireuen, dan lain sebagainya.Tu dikenal gemar menyalurkan ilmu. Setiap anak buahnya yang berbakat, ia tularkan keahliannya merancang bangunan. Sehingga, usai dua hari dia tukangi, sisanya digarap anak buah.“Hidup ini fana. Seorang lahir, seorang mati,” tuturnya, bijak.

Namun satu kelemahannya. “Tu kadang suka mengubah konsep. Misal ketika sudah merancang begini, usai dikerjakan sudah memerintahkan kami untuk mengubah konsep,” ungkap Ag, seorang anak buah Tu.

Tu dan anak buahnya. (Dok. Me)
Tu dan anak buahnya. (Dok. Me)

“Tapi, kami akui, kalau hebat, bagus betul hasil rancangan Tu,” Ag mengacungi jempol jelang magrib suatu hari di pengujung Maret 2012.

***

Saya hanya sempat menulis sosok Tu Mukhlis sesingkat itu, sekering itu.

Saya tak sempat memuat sosoknya di rubrik Inspiratif sebab koran Pikiran Merdeka keburu tutup.

Pun, tak sempat menjumpainya lagi untuk mendalami kehidupannya. Jadilah ia sosok yang tertunda.

Namun begitu, cerita di atas cukup mengajarkan pada kita untuk selalu belajar pada gejala alam, termasuk pada rombongan semut di meja makan kita.[]

Rumoh Aceh, 7 Juli 2013

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

1 thought on “Sosok Inspiratif yang Tertunda”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s