Berbuka Bareng Rosela

Namanya saja terdengar cantik. Saya yakin dia pasti manis dan merona.Bagaimana ya rasanya berbuka puasa pertama bareng dia? Rosela, saya akan memetikmu besok, batinku di sore hari meugang kedua.Saya pun meliriknya sejak pagi hari pertama puasa. Saya harus berbuka dengan Rosela di rumahnya, yang tak jauh dari rumahku. Dia manis sekali.Namun saya baru tiba di rumahnya 20 menit jelang berbuka. Tak apa, yang penting bisa bersamanya meskipun saya belum mandi.Dua warga yang bersantai di kedai seberang jalan depan rumah, Bang Denon dan Bang Nu, melihatku yang sedang bersama Rosela.

Saya hanya melempar senyum, memberi sinyal bahwa saya tidak akan berbuat macam-macam.

Perlahan, saya letakkan pisau dapur di leher Rosela. Dia tak melawan. Dua warga yang duduk di kedai juga bungkam, seperti tidak sedang menyaksikan sesuatu terjadi pada Rosela yang tampak sangat anggun dengan baju merahnya.

Tap!

Rosela tumbang. Sudah satu. Saya butuh sekitar empat lagi agar puas dan benar-benar nikmat.

Saya pun memenggal yang kedua, ketiga, keempat, dan kelima!

Sadis? Ya, kalau saya memenggal kepala manusia. Tapi maaf, saya sedang bersandiwara.

Yang saya petik adalah bunga rosella (baca: rosela) merah. Kebetulan, sebatang tanaman bernama latin Hibiscus sabdariffa ini tumbuh di taman halaman rumahku.

Ia memiliki sekitar 11 bunga mekar. Dan saya petik lima tangkai.

bunga rosela dari taman rumah
bunga rosela dari taman rumah

Meneguk jus rosela, itu cita-cita yang harus saya raih di hari pertama berbuka puasa tahun 1434 hijriah.

Kemarin kata iparku Kak Eva ketika ke rumah, bunga rosela bisa dibuat jus, rasanya asam-asam manis. Oh, saya kesengsem.

Setelah kucuci kelima bunga berukuran terong belanda, saya masukkan dalam blender.

Kupikir, ia tak jauh berbeda dengan cara membuat jus terong belanda (pengalaman di Daus Shop Peunayong), cukup diberikan tiga sendok makan gula pasir untuk satu porsi jus.

Waktu berbuka tinggal 10 menit lagi, saya tuangkan butiran putih ke dalam blender tanpa teliti.

Eh, salah! Itu garam! Ha-ha. Untungnya mesin belum kunyalakan. Terpaksa harus membuang air dan mencuci ulang bunganya.

Lalu, kumasukkan kembali lima bunga utuh dalam blender. Kuisi air mineral dengan tidak menutupi tumpukan mereka. Kutambah tiga sendok makan gula pasir.

On! Lagi puasa tak boleh cicipi, saya menakarnya dengan hati. Hanya tiga menit dalam blender agar bijinya hancur, saya saring dalam gelas kecil.

Wah! Airnya tampak merah muda, menawan seperti namanya.Alhamdulillah, saya memiliki satu gelas setengah sari bunga rosela untuk berbuka puasa. Senangnya.“Ayah mau?”“Boleh, barangkali bisa menjadi obat,” ayahku menarik kursi meja makan karena alarm berbuka sudah bunyi.Menurut berbagai sumber kesehatan, sari bunga berasal Afrika dan Timur Tengah itu memang banyak khasiat, diantaranya meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kolestrol dan asam urat, menjaga kehalusan kulit dan mengurangi keriput, menetralisir racun, menyehatkan mata, mencegah kanker dan tumor ganas, serta meningkatkan kecerdasan otak.

Akhirnya, sari rosela menjadi menu pertama saya untuk berbuka puasa tahun ini. Bahagianya, cita-cita kecil tercapai.

Jus Rosela ala Makmur Dimila
Jus Rosela ala Makmur Dimila

Kiban (Gimana) rasa?”

Mangat (enak),” Ayah menghabiskan setengah gelas jus rosela hanya sekali teguk.

“Mangat hai,” komentar Bang Jamal pada istrinya, kakak tertuaku, usai mencicipinya sedikit.

“Mangat,” Mak juga mencobanya seteguk.

Segelas rosela untuk semua. Saya pun menikmatinya.

Rasanya, menurutku, lebih unggul dari jus terong belanda. Kadar asamnya lebih sedikit.

Bila jus terong belanda rasanya asam-asam-manis, menurutku, jus rosela rasanya asam-manis-manis.

Dengan kata lain, di ujung lidah asam, tengahnya manis, dan tetap manis di pangkalnya. O rosela, asam manismu bikin ketagihan.

Sayangnya, ia tinggal sebatang di muka rumah kami.

“Dulu banyak, kita buang. Tak tahu kalau bisa dijus,” kata Kak Nong, istri Bang Jamal.

Itulah, ketika saya pulang kampung April lalu, ada banyak rosela tumbuh di taman muka rumah.

Saat itu kami belum tahu kalau dia mengandung khasiat, kecuali bisa diolah menjadi teh.

Saya juga tak tahu kalau bunga rosela bisa menjadi alat penyalur salah satu hobiku, bikin jus.

Barangkali pengalaman kami menjadi pelajaran bagi kita bahwa, tanaman di halaman rumah sendiri cukup bergizi, tidak perlu melirik ‘rumput tetangga yang lebih hijau’.[]

Rumah U, 10 Juli 2013


 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s