Berebut Makanan di Masjid Raya

… begitu petugas mengatakan “silakan ambil makanan”, mereka bangkit dari duduk dan lari ke meja hidangan. Bahkan ada yang mengambil makan di tangan petugas …

Advertisements

… begitu petugas mengatakan “silakan ambil makanan”, mereka bangkit dari duduk dan lari ke meja hidangan. Bahkan ada yang mengambil makanan di tangan petugas …

SETENGAH jam menjelang berbuka puasa, halaman belakang Masjid Raya Baiturrahman disesaki bocah, perempuan, dan beberapa lelaki paruh baya berpakaian lusuh. Mereka duduk di sepanjang pembatas taman sembari bergurau sesama.

Ada Zf dan Ar diantara puluhan orang yang tampaknya seperti peminta-minta. Zf bocah 11 tahun asal Lhoksukon, Aceh Utara, dan Ar berusia sama yang berasal dari Kembang Tanjong, Pidie.

Keduanya menyelinap cepat diantara kerumunan orang lainnya, begitu petugas memberi kode untuk mengambil menu berbuka di meja yang telah disediakan.

Mereka membawa semangkuk bubur kanji, sirup, kue gulung, melangkah dengan wajah sumringah. Lima menit lagi tiba waktu berbuka.

“Kenapa tidak berbuka di rumah sama Mak?”

“Karena yang lain (kawan-kawan) kemari, saya juga ikut,” tutur Zf dalam bahasa Aceh, menunjuk beberapa bocah di belakangnya.

“Mak tinggal di mana?”

“Di belakang pasar itu, di belakang MB ada rumah papan bertuliskan CS, disitulah kami tinggal,” Zf menunjuk ke deretan pasar di halaman belakang masjid raya.

###

Saya sengaja ke Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sore itu, Minggu 14 Juli 2013, hanya untuk melihat para (konon katanya) pengemis berburu penganan berbuka puasa yang disedekahi pihak masjid raya.

Saya tertarik dengan cerita dua kawan saya, Fr dan Ag, yang melakukan penelitian di masjid bersejarah itu sejak hari pertama Ramadhan 1434 Hijriah.

Sebelum merekam data (audio) pembacaan ayat suci Alquran dan ceramah Ramadhan, mereka menyaksikan keanehan “rebutan makanan” jelang waktu berbuka tiba.

“Itu sudah menjadi tradisi,” ungkap Fj, seorang petugas di masjid raya Baiturrahman.

“Dalam beberapa tahun terakhir, masjid raya menyediakan menu berbuka bagi para peminta-minta itu. Namun belakangan mereka tidak tertib, saling merebut,” sambungnya.

Menurut pemuda yang bekerja di situ sejak 2011, rebutan makanan mulanya karena ulah beberapa orang saja. Sikap beberapa orang itu mendorong lainnya untuk melakukan hal yang sama. Jika tidak, mereka (yang cenderung penyabar) tidak kebagian menu berbuka.

Pada akhirnya, begitu petugas mengatakan “silakan ambil makanan”, mereka bangkit dari duduk dan lari ke meja hidangan. “Bahkan ada yang mengambil makanan di tangan petugas,” ceritanya.

Dalam pemikiran yang lebih jauh, Fj berpendapat, peminta-minta itu (usia tua) sebenarnya orang-orang yang malas. Mereka rela menanti penganan bersama bocah-bocah.

Lain cerita jika para tua itu membimbing para bocah agar tidak rebutan. Sebab petugas sendiri sudah tak sanggup menasehati.

“Di hari pertama puasa, kebetulan sebuah bank menyumbang 200 nasi kotak. Begitu usai salat magrib, tidak berzikir dan berdoa, mereka (kelihatan seperti pengemis semua) langsung keluar dari masjid untuk ambil nasi,” cerita Fr.

Satu sisi, memberikan makanan kepada mukmin untuk berbuka puasa Ramadhan mendapat pahala yang besar. Itu pula tujuan masjid raya.

“Namun ketika mereka tidak tertib dan sabar, akan menjadi pandangan yang sangat buruk bagi wisatawan asing misalnya,” ketus Fj.

berburu menu berbuka di halaman belakang masjid raya. doc pri
berburu menu berbuka di halaman belakang masjid raya. doc pri

###

Usai mengambil masing-masing segelas teh karena tak ikut rebutan seperti mereka, saya dan Fr menyenyumi Ar, Zf, dan kawan mereka sebagai ucapan terima kasih karena mau kuajak bicara.

Usai sirine padam, kami pun pergi ke warung di luar masjid untuk mengisi perut.

Tak kusangka, ketika melewati halaman belakang masjid usai tarawih berjamaah, seorang perempuan paruh baya mengeluh pada temannya: “Lon kira bunoe dibri bu, rupa jih tan. Adak kuteupeue lagee nyoe hana kujak bunoe/Tadi saya kira dikasih nasi, ternyata tidak. Kalau tahu begini saya tidak pergi ke masjid raya.”

Saya tidak mengarang cerita. Ini fakta.

Lantas, perempuan dan bocah peminta-minta tergolong dalam orang-orang yang bagaimana? Saya tak yakin mereka orang-orang yang lemah. Saya cenderung setuju dengan Fj.

Padahal, jika mereka mencari rezeki dengan jalan lain, Allah akan membantu, sebagaiman firman-Nya dalam hadits qudsi: “Aku sebagaimana hamba-Ku menganggap.”

Artinya, jika kita (hamba Allah) yakin—beranggapan—nasib kita akan menjadi baik, Allah akan mengabulkan keinginan kita. Bukankah Dia tidak akan mengubah nasib kita kalau kita sendiri tak berusaha mengubahnya?

Barangkali perlu ada perantara untuk meminimalisir pertumbuhan pengemis, terutama di Aceh.

Langkah pertama, seperti pernah dilakukan meski tidak optimal, pemerintah mesti mengumpulkan seluruh pengemis di Aceh, melalui Dinas Sosial, lalu membina mereka.

Selanjutnya, menurutku, pemerintah perlu bekerja keras, yaitu menyediakan pekerja sosial atau penyuluh agama bagi setiap peminta-minta selama waktu tertentu.

Pemerintah mesti merekrut kedua profesi kurang peminat itu dan membayar mereka untuk membimbing para pengemis ke arah lebih baik, terutama untuk menyampaikan bahwa Allah sebagaimana dianggap hamba-Nya.

Semoga hal ini terealisasi; tidak hari ini bisa jadi ketika pemerintah siap![]

Rumoh Aceh, 15 Juli 2013 

 

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

8 thoughts on “Berebut Makanan di Masjid Raya”

      1. kiban cara ubah Bang?
        Peue mulai saat nyoe, tanyoe bek meu-aneuk kecuali sanggop ta-ubah budaya brok? Seubab meunyo han sanggop, akan lahe cuco dg budaya yang brok dan akan trus berkembang biak. Hehe

    1. Buat duniaely, atas permintaannya, nih saya kasih terjemahan komentarnya ke Bahasa Indonesia. Semoga mengerti dan komunikatif: 😀

      “Lon kira bunoe dibri bu, rupa jih tan. Adak kuteupeue lagee nyoe hana kujak.”
      Hahaha… nyan ka biasa ureung tanyoe Aceh.
      (“Saya kira dikasih nasi, ternyata tidak. Kalau tahu begini, saya tidak ikut.”
      Hahaha… itu udah biasa bagi orang Aceh.)

      Nyankeuh, kaditem bri ie pre, diharap bu lom. Hana geusyukuri nikmat.
      (Itulah, udah diberi air gratis, harap nasi pula. Ga mensyukuri nikmat.)

      karap saboh indoneh menyoe bak atra bagi-bagi gratih meuseunoh-seunoh
      (Hampir se-Indonesia kalo bagi cuma-cuma saling berebut)

      dg kt laen, sudah membudaya ya? hehe, oreueng Indoneh memang carong that peuget budaya.
      (dg kata lain, udah membudaya ya? Hehe, orang Indonesia memang pinter bikin budaya.)

      nyoe keuh nyan, bacut2 payah ta ubah meuhan ditren keu aneuk cucoe
      (benar tuh, mesti kita ubah kalo tidak menular ke anak cucu)

      kiban cara ubah Bang?
      Peue mulai saat nyoe, tanyoe bek meu-aneuk kecuali sanggop ta-ubah budaya brok? Seubab meunyo han sanggop, akan lahe cuco dg budaya yang brok dan akan trus berkembang biak. Hehe
      (gimana cara ngubah Bang?
      Apa mulai saat ini, kita tidak beranak kecuali sanggup mengubah budaya buruk? Sebab kalo tak sanggup, akan lahir cucu dg budaya yang buruk dan akan terus berkembang biak.)

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s