Terimakasih Gigi

gigiku
Gigi saya saat discaling. (Foto IST)

Setelah rambut, gigi adalah mahkota kedua bagi saya. Seseorang memiliki gigi yang kuat dan bersih sama dengan meunasah yang memiliki toa yang kencang dan merdu. Faktor keberhasilan komunikasi seseorang salah satunya juga karena gigi yang bersih. So, jangan sampai gigi berkarang.

“Untung kamu bersihin sekarang (jelang 23), kalo udah 25 karangnya masuk gusi dan menyebabkan gigi copot di usia muda,” kata dokter gigi muda yang cantik, 30 Juli 2013, siang.

Seumur-umur, saya belum pernah membersihkan gigi. Suatu kali, ketika dokter muda itu menyenter mulut saya, oh ternyata, karang sudah menyatu dengan gerahamku di bagian belakang. Perlu segera dibersihkan.

Saya percaya dia tidak sedang memanfaatkan saya sebagai bahan praktik, tapi memang sesekali saya merasa ada yang sakit di geraham belakang; ada semacam kerikil ketika kuraba. Kerikil itu rupanya karang yang tumbuh di gigi, seperti batu yang tumbuh di lereng gunung. Ia bikin gigi goyah, layaknya gempa darat.

Gigi saya banyak berkarang di bagian belakang dibanding depan, terutama di sela-sela gigi. Baru-baru ini sadar bahwa saya kerap menggosok gigi depan saja. Wajar kalau ‘bintang cuma bersinar di bagian depan, di belakangnya gelap gulita’. Barangkali kegelapan itu pula yang menjadi sumber bau mulut. (Iiii, jorokkkkk).

Karang gigi tampak kuning kecoklatan, sedikit lebih bagus warnanya dari terumbu karang di laut (kebalek ya? 😛) Karang gigi berasal dari plak yang mengeras.

Menurut majalahkesehatan.com, plak adalah lapisan lunak dan lengket di gigi yang terdiri dari protein dan bakteri (biofilm). Plak terdiri dari 70% bakteri yang berasal dari air liur. Plak terbentuk segera setelah selesai menyikat gigi. Dalam waktu 48 jam setelah pembentukannya, plak mulai mengeras oleh kalsium, fosfor, dan mineral lainnya dari air liur, menjadi karang gigi.

Masih dalam penjelasan situs itu, karang gigi tidak berbahaya, tapi memiliki permukaan yang sangat kasar di mana bakteri dapat dengan mudah melekat di permukaannya. Permukaan kasar ini menjadi tempat koloni bakteri yang menyebabkan berbagai masalah, seperti radang gusi (gingivitis/ periodontitis), kerusakan gigi (karies) dan bau mulut (halitosis). Karang gigi juga merupakan masalah kosmetik karena membuat gigi berwarna kuning atau coklat. Karang gigi lebih berpori-pori daripada enamel sehingga mudah berubah warna. Jika sering merokok, minum kopi atau teh, gigi yang terkena karang gigi berubah warna menjadi coklat atau hitam.

Menjadi jelas bahwa mahkota ini perlu saya beri perhatian, layaknya orangtua kepada anaknya, atau perhatian kepada kekasih. Rasanya banyak orang tak peduli pada kebersihan gigi mereka. Padahal agama Islam sendiri sangat menganjurkan bersiwak (kayu sikat gigi), terutama ketika hendak salat berjamaah. Fakta ni ya, saya pernah beberapa kali tanpa sengaja berdiri di samping orang yang bau mulutnya ketika Jumatan, wew.

Pembersihan karang gigi disebut scaling, biasanya disertai polishing dan brushing. Ia menggunakan alat pembersih (scaler) dengan cara manual atau elektrik. Saya termasuk salah satu dari tiga pasien pertama AM S.KG, yang melalui proses scaling manual di Rumah Sakit Gigi dan Mulut FK Unsyiah, Banda Aceh.

Alat pembersih gigi tampak mengerikan. Runcing, kuat, dan tajam. Karang di sela-sela gusi akan dicongkel, sementara karang di badan gigi dikerok. Kadang-kadang terasa perih, ngilu, atau nyeri, bahkan berdarah-darah (hayoooo, siapa mauuu). Namun, sakit itu lekas pergi bila ditangani dokter yang cantik dan pintar. Jangan khawatir, dokter gigi rata-rata cantik kok, bikin pasien betah deh.. 😀

“Seperti tulis Andrea Hirata dalam novelnya. Ada satu profesi di dunia yang merupakan kombinasi dari: cantik, otak pintar, dan bertangan kuli. Siapakah mereka?” tanya teman saya itu.

“Ya, kalian-lah, dokter gigi..”

Bersyukurlah, jangan menyesal ambil jurusan kedokteran gigi jika kelak alasanmu adalah butuh waktu lama untuk kaya. Sebab dokter salah satu profesi mulia, so, muliakanlah caramu mempertanggungjawabkan gelar S.KG., Drg., atau dr. lainnya. Setidaknya, mahkotaku ini terawat dan tampil lebih percaya diri. Terimakasih gigi..[]

Rumoh Aceh, 31 Juli 2013, menunggu sahur…

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s