Menggapai Monas, The Power of Nekat

Bodoh sekali rasanya sudah di Serang tidak sampai ke Jakarta. Daaaaan, nekat adalah tiket terbaik untuk menggapai tujuan.

Penutupan Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) PTAIN se-Indonesia yang ke-6 berlangsung semarak di GOR Alun-Alun, Serang, Banten. Tapi dua ribuan peserta datang dengan tujuan yang bercabang-cabang dan ditumpahkan di bawah terik mentari.

Saya dari cabang Musabaqah Kandungan Ilmiah Al-Quran, teman sekamar Khairul dari Debat Bahasa Inggris, Saddam dari Kaligrafi, Wildan dari Tilawah, dan Zainuddin dari Hifzil 5 juz, akan menunaikan cita-cita terpendam.

Penutupan belum usai, kami berencana kabur dari arena. Usai foto-foto bareng dengan kontingan Papua berpakaian adat (waktu Pembukaan PIONIR saya yang jadi model pakain Aceh dengan Sabrina dari kaligrafi putri), kami keluar dan menyetop angkot tujuan Ciceri, turun di depan Hotel Abadi, tak jauh dari Kampus IAIN “SMH” Banten yang menjadi venue PIONIR 6.

foto bareng atlet "adat" Papua saat Penutupan PIONIR. Dok. pri.
Saya dan Khairul foto bareng atlet “adat” Papua saat Penutupan PIONIR. (Dok. IST)

Sabtu 24 Agustus 2013 adalah peluang terakhir kami agar mencapai Tugu Monas, sebab Minggu jam 3 dini hari, rombongan meninggalkan penginapan kemudian ke Bandara Soekarno Hatta. “Masa sudah usia 20-an belum sampai ke Jakarta,” motivasi kami.

Packing ala Maknya Khairul biar banyak muat dalam tas apa saja. (Dok. Me).
Packing ala Mak-nya Khairul biar banyak muat dalam tas apa saja. (Dok. Khairul).

Saat itu tepat jam 10 pagi, kami sepakat packing baju, antisipasi kalau-kalau kami tak sempat balik lagi dari Jakarta tapi menunggu rombongan di airport. Eh, akhirnya Zainuddin tidak jadi ikut. Ia ragu.

Finally, usai ganti seragam, saya, Khairul si kurang tampan tapi lelaki yang menarik kaum hawa dengan suaranya, Wildan yang menggila-gilai si gadis juara tiga tilawah, dan Saddam si postur Cina yang mampu meraih peringkat 6 kaligrafi, menaiki bis menuju Jakarta dari pinggir jalan raya. Cukup 20 ribu per orang untuk membayar trip selama 120 menit.

Kami turun di Kebun Jeruk. Tujuan pertama Tanah Abang. Tapi kami tidak tahu apa-apa soal ibukota negara, kecuali melihat di tivi-tivi dan surat kabar. Ah, kami menyusuri jalur pejalan kaki ke Kampung Duri. Saat salat di sebuah surau, saya ingatkan agar tidak percaya siapa-siapa termasuk bocah-bocah yang sepertinya pura-pura jadi panitia penitipan barang. Trust no body, kalau kata Khairul.

Tanya pada beberapa orang, kami berani saja naik Kopaja No 16 untuk sampai ke Tanah Abang. Mobilnya mirip barang rongsokan. Di dalam berdesak-desakan. Tapi ini pengalaman berharga, bro!

di belakang Pasar Blok G Tanah Abang
Wildan dan Khairul berpose di lantai dua, belakang Pasar Blok G Tanah Abang. (Dok. Me)

Turun di halaman blok G Tanah Abang yang kumuh, sangat kumuh malah. Penataan ruangnya jauh tertinggal dari Pasar Aceh (kalau boleh kita banding-bandingkan). Tapi masuklah ke Blok A-F, ini surganya belanja, meskipun tataruangnya tidak cantik.

Dari luar boleh menyebutkan sebuah kardus belaka. Namun di dalamnya, rugi kalau tidak sempat membeli satupun pakaian dari Blok A-F. Ya, seperti yang saya alami, karena tidak cukup lagi uang. Akhirnya, saya cuma menemani tiga kawanku itu, terutama Wildan yang shoppingnya agak ke-ibu-ibu-an (sorry bro).

Wilden memilih jersey Liverpool di Blok A, lantai 7, khusus menjual pakaian olahraga.
Wildan sang liverpuldian memilih jersey Liverpool di Blok A, lantai 7, khusus menjual pakaian olahraga dan aksesoris. (Dok. Me)

Saya mengutuk diri sendiri tidak bawa uang lebih, semua uang saku sudah ludes selama 5 hari di Serang. ATM pun kosong. Padahal sangat tertarik dengan model pakaian yang dijajakan dan harga yang murah. Khairul bisa menggaet dua jeans seharga 100 ribu yang modelnya pasti tidak ada di Aceh. Belum lagi ranselnya yang kekar dan elegan, dan Wildan senangnya bisa mengenakan jersey baru Liverpool, sementara Saddam (Husennya mana? :D) senasib dengan saya, ia tidak mencapai hasratnya membeli alat kaligrafi. Ohoho.

“Rupanya Jakarta sempit, Bro,” kata kami ketika tiba-tiba ketemu pasangan Debat Bahasa Arab Tuanku Muhammad-Zikri dan satu dari ganda putra badminton Muksalmina di Tanah Abang (Ya lah, perginya cuma ke Tanah Abang, haha). Mereka lebih dulu kabur ke Jakarta dari kami. Kemudian kami berpencar lagi.

Belanja sampai jam 5, waktunya Tanah Abang tutup, kemudian kami berjalan kaki hingga ke tempat yang langitnya cerah di atas gedung-gedung bertingkat. Gedung yang “the best mampus meledak meletus,” istilah Wildan. Usai makan burger seharga 7 ribu yang rasanya dua puluh kali lebih enak dari penjual di Banda Aceh, kami mencari busway tujuan Masjid Istiqlal.

Kiri: Suasana di luar antara Pasar Blok A-F dengan Blok G. Kanan: Mencari bajaj. (Dok. Me)
Kiri: Suasana di luar antara Pasar Blok A-F dengan Blok G. Kanan: Mencari bajaj. (Dok. Me)

Bis sudah, kopaja sudah, busway, taksi? belum. Tapi kami milih naik bajaj berempat, karena bisa leluasa melihat-lihat Jakarta Pusat. Setelah nego-nego harga dengan beberapa, akhirnya kami deal dengan Pak Solihin, 25 ribu ke Istiqlal.

Berpose di halaman Istiqlal. (Dok. Me).
Berpose di halaman Istiqlal. (Dok. IST).

Masjid Istiqlal tampak mewah dan pengelolaannya bagus, di mana ada penitipan alas kaki dan barang secara gratis, termasuk pengumuman tata salat lengkap. Di seberang jalan depan gerbang masuk, ada Gereja Katedral berdiri tegak. Dari luar arena salat di bagian belakang, kita bisa melihat Tugu Monas yang batangnya tampak merah jambu dengan puncak emas begitu magrib berlalu.

Kiri: Gereja Katedral dilihat dari halaman muka Masjid Istiqlal. Kanan: Tugu Monas menyala dilihat dari dalam Istiqlal di halaman belakang. (Dok. Me)
Kiri: Gereja Katedral dilihat dari halaman muka Masjid Istiqlal. Kanan: Tugu Monas menyala dilihat dari dalam Istiqlal di halaman belakang. (Dok. Me)

Meski telah kena air wudu, wajah kami dalam foto-foto dan video tetap tampak loyo akibat lelah yang “meledak meletus”. Pun begitu, jepret-jepret dan rekam video tetap dilanjutkan, sebab mereka adalah cemilan perjalanan.

Kiri: Foto bareng Bapak penjual cincin sebelum salat magrib. Tengah: tempat ambil wudu yang unik. Kanan: bagian dalam kubah induk Istiqlal yang menyerupai sarang lebah. (Dok. IST, Me, Wildan).
Kiri: Foto bareng Bapak penjual cincin sebelum salat magrib. Tengah: tempat ambil wudu yang unik. Kanan: bagian dalam kubah induk Istiqlal yang menyerupai sarang lebah. (Dok. IST, Me, Wildan).

Oh ya, kami jumpa lagi dengan Tuanku, Zikri, dan Muksalmina di Istiqlal, kemudian pisah lagi.

Selanjutnya, kami berempat jalan kaki ke arah depan Istiqlal, melewati jalur busway yang hampir menabrak Saddam karena saking sepinya jalur itu, hingga berhenti di warung Ayam Ancuur. Nah, Ayam Ancuur bagi kami, berlipat-lipat enaknya dibanding Ayam Lepaas atau Penyet (izinkan saya banding-bandingkan).

Disebut Ayam Ancuur karena daging ayam dihancurkan pakai golok, kata pelayan. Sehingga bumbunya masuk ke segala lini daging bahkan belulang yang telah rapuh. So, rasanya lengkap sampai habis dicerna. Harganya cuma 20 ribu per porsi.

Saya sarankan pada tiga kawan saya, “kalo mau meniru, bukalah Manok Anco, ayamnya kita hancurkan pake parang!” Atau bagi yang serius berbisnis, beli saja franchise-nya Ayam Ancuur dan buka di Banda Aceh, pasti laku keras.

Kawan masa SMA Wildan, Ijun, yang kuliah di UI, tiba menjemput begitu kami siap makan. Berbahasa Aceh pun semakin lantang di udara Jakarta. Ia menuntun kami ke Monas melalui sebuah jalur yang telah kami duga sebagai jalan menuju kesana sebelumnya.

“Akhirnya, aneuk gampong tiba di Monas,” teriak kami.

Monumen Nasional itu tegak dengan warna mentereng. Beragam jajaan dan jasa tersedia di halamannya melengkapi rekreasi. Pengunjung entah dari mana-mana, termasuk tiga kontingen PIONIR 6 dari IAIN Ar-Raniry, Tuanku, Zikri, dan Muksalimina. Lagi-lagi kami jumpa mereka. Kali ini kami kalah cepat.

Kiri & kanan: Bergaya-gaya dengan latar Tugu Monas. (Dok. Me & Wildan).
Kiri & kanan: Bergaya-gaya dengan latar Tugu Monas. (Dok. Me & Wildan).

Saatnya merebut emas dari puncak Monas. Bagaimana? Ya, merekam gambarnya banyak-banyak. Ahaha. Terpenting, mission acomplished! Bangga rasanya bisa sampai ke Monas bermodal nekad meskipun tidak tu.be secepat-sestabil-semudah Gofar dan Nila Tanzil yang pergi jauh. (Memang baru pertama, tapi ini kenangan persahabatan di negeri orang, bro!)

Tujuh Pendekar Tanpa Medali bersatu di Monas. (Dok. IST)
Lima dari Tujuh Pendekar Tanpa Medali berpose dengan Ondel-ondel di Monas. (Dok. IST)

Dari Monas kami bergabung dengan tiga rekan yang ternyata dibawa pamannya Muksalmina dengan Avanza. Sekali lagi, kami bisa menikmati malam di Jakarta, bundaran HI, dan bermacam-macam gedung pencakar langit lainnya. Kami bertujuh, (tepatnya Tujuh Pendekar Tanpa Medali, haha), berhasil mendapatkan bis terakhir tujuan Serang jam 10 malam di Terminal Kampung Rambutan. In the end, saya menikmati perjalanan yang mirip naik kereta api dalam bis dengan penumpang mencapai 80-an orang!

Tunggu video dokumenter perjalanan kami 😀 dengan info agak berbeda.[]

Rumoh Aceh, 26 Agustus 2013

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s