Turun Tanah Senin Pagi

Suara tangis Awwis Al-Qarani meraung-raung dari kamar. Putri Zakia yang berusia enam tahun memanggil sang ibu.

Rosita lekas meraih putra pertamanya. Dikeluarkannya ke ruang tamu, dibaringkan di kasur kecil.

“Hana ka seumanoe dilee?” Jasmani menyarankan cucunya itu dimandikan lebih dulu.

“Sang hana payah, bah sige ngen rah ulee enteuk,” Nuati berpendapat biarlah sang bayi mandi sekalian waktu prosesi nanti.

Rosita sepakat dengan saran kakak iparnya itu.

Mentari 2 September 2013 tampil buram dari balik batang kelapa di seberang jalan depan rumah.

Tuan rumah buru-buru menyiapkan delapan porsi hidangan di ruang tamu. Teungku akan datang sebentar lagi.

Keluarga istri Jamaluddin itu juga mengadakan kenduri kecil semalam. Mereka mengundang perwakilan kepala keluarga se-Gampong Blang, Kecamatan Mila, disertai pemberian amplop kepada hadirin usai samadiah.

Anak-anak sekolah lalu-lalalng di jalan depan rumah saat Teungku Fadli datang didampingi pengelola pesantren di Gampong Blang, Teungku Adi dan Teungku Farlin. Ketiganya berusia muda.

Teungku Fadli akan memimpin prosesi turun tanah atau disebut “peutron aneuk” di beberapa daerah di Aceh, termasuk Kabupaten Pidie.

Awwis di pangkuan Teungku Fadli
Awwis di pangkuan Teungku Fadli. (Dok. Me)

Siap makan, ketika lantai sudah bersih dari hidangan, Awwis dipangku Teungku Fadli.

Di hadapan mereka segera disediakan talam berisi sajian peusijuek: sepiring buleukat, garam campur cabe rawit, padi, dan semangkuk rerumputan. Ada juga telur rebus, sejumput nasi, air zam-zam, untuk sajian peucicap. Zakia turut menyaksikan adiknya.

Menyaksikan Awwis dipeusijuek. (Dok. Me)
Menyaksikan Awwis dipeusijuek. (Dok. Me)

“Kepala diputar biar tidak pusing ketika bepergian,” Wak mengingatkan saat Teungku meletakkan Awwis di kasur kecil.

Dari barat, kepalanya diarahkan ke matahari terbit. Doa sekejap, terus peucicap dengan air zam-zam, karena Teungku itu tidak menggunakan nasi dan telur.

Peucicap dengan kata lain mencicipkan yaitu menaruh sajian peucicap pada lidah bayi sebagai syarat bahwa seseorang akan berperilaku sebagaimana mestinya ketika besar kelak. Bahkan si bayi diharapkan mengikuti jejak Teungku.

Awwis kemudian dipeusijuek atau ditepungtawari, sementara Po Ni mempersiapkan perlengkapan peusaneut di halaman rumah. Sempat meletus tangis dari mulut Awwis, sekitar lima tarikan.

Teungku mendoakan di telinga Awwis. (Dok. Me)
Teungku mendoakan di telinga Awwis. (Dok. Me)

“Beutrang ate Neuk beh,” adik Putri Zakia itu didoakan agar terang hati oleh Teungku dilanjutkan ucapan doa yang tak terdengar.

Sejurus lalu, Teungku memangku Awwis dengan ija tingkue (gendongan).

Membawa ke luar rumah. (Dok. Me)
Membawa ke luar rumah. (Dok. Me)

Pelan-pelan, dari ruang tamu, ia melangkah ke luar bersama pihak orang tua, sembari membacakan salawat Nabi.

Penyambut yang dipimpin Teugku Adi menanti di teras bersama beberapa anggota keluarga Rosita.

Diterima penyambut. (Dok. Me)
Diterima penyambut. (Dok. Me)

Sampai di teras, Awwis diserahkan Teugku Fadli kepada Teungku Adi.

Cucu ke-9 dari Jasmani-M Nur Abdullah itu kemudian diperkenalkan ke anggota keluarga yang ada, mulai dari tertua hingga termuda.

Selanjutnya Awwis diserahkan ke Po Ni, begitu Jasmani dan kawan-kawan menyapa karena sedikit lebih tua dari mereka. Ia akan menunaikan tugasnya, yaitu peusaneut.

Tugas Teungku selesai. (Dok. Me)
Tugas Teungku selesai. (Dok. Me)
Pengenalan lingkungan. (Dok. Me)
Pengenalan lingkungan. (Dok. Me)

Pertama ia menggendong bayi kelahiran 5 Juli 2013 itu lalu melepas semua pakaian. Dipijakkan kedua tapak kaki di permukaan abee dapu (abu arang) yang dimuat dalam tempurung.

“Agar ia ingat kampung halaman kelak.” Demikian menurut pemahaman tetua Aceh dahulu.

“Ini perlu dilestarikan,” ajak Po Ni.

Berikutnya, sang kakek mengambil parang dan kelapa yang telah dikuliti.

Po Ni memegang Awwis dengan menghadapkan kepala ke tanah.

Teugku Farlin memayungi si bayi dengan daun pisang.

Mengajarkan berlindung dari cuaca buruk. (Dok. Me)
Mengajarkan berlindung dari cuaca buruk. (Dok. Me)

Tuk. Tuk. Dua kali babat, kelapa mengeluarkan air membasahi daun pisang.

“Syarat kalau ada petir cepat berlindung, jangan takut.” Wak, kakak kandung sang kakek, menjelaskan maksudnya.

Air bunga menghujam tubuh Awwis. Tangis meledak di sini. Po Ni membasuh tubuh mungil itu dan membilasnya pakai air bunga.

Disirim air bunga. (Dok. Me)
Disiram air bunga. (Dok. Me)

Buah hati Rosita dilap kemudian dibawa lagi ke dalam rumah. Sementara para teungku pamitan sembari menyelipkan amplop di balik kain pembalut tubuh Awwis.

Berikut Po Ni akan melakukan prosesi peusaneut (persalinan) dengan banyak doa akan mendesis dari mulutnya, ditemani ibu bayi.

Rosita mendampingi anaknya. (Dok. Me)
Rosita mendampingi anaknya. (Dok. Me)
Prosesi peusaneut. (Dok. Me)
Prosesi peusaneut. (Dok. Me)

Tahap pertama, Awwis akan “dibalek hate” dengan doa-doa. Ini syarat agar sang bayi ingat Allah dan orangtua kelak.

Kedua, diletakkan cermin di dadanya supaya terang hatinya.

Agar terang hati. (Dok. Me)
Agar terang hati. (Dok. Me)

Terakhir, sang bayi dipeusijuek. Prosesi berakhir jam 9 ketika jalanan di luar telah sepi.

“Laen gampong laen reusam, laen teungku laen cara,” sela Wak, bahwa lain kampung lain pula tatalaksana peutron aneuk dan peusaneut.

Kadang ada juga penanaman pohon oleh keluarga orangtua sebagai syarat agar si bayi rajin mencari nafkah nantinya, ada pulu yang disertai bakar petasan. Contoh lain, menggunakan buah-buahan untuk peucicap.

“Ini kan pesan orangtua dulu, kita harus mengikutinya. Namun tetap menyerahkannya kepada Allah,” ujar Po Ni.

Syik Muda, kerabat Rosita menuturkan, ketika cucunya dituruntanahkan di Lhok Kaju, Indra Jaya, Pidie, tetangga berbondong-bondong datang dan memberikan cucunya banyak amplop. Kemudian setelah dipeusijuek oleh teungku dan peusaneut, ia juga melakukannya selaku sang nenek.

Turun tanah umumnya diadakan Senin atau Kamis pagi. Ia kadang dibuat pelaminan dan prosesi turun tanah dilakukan di masjid terdekat.

Tradisi ini juga menandakan ibu bayi telah suci dari nifas sehingga ia bisa mengenalkan anaknya pada lingkungan.

Soal tatalaksananya, barangkali di daerah-daerah lain di Aceh memiliki cara yang berbeda namun tujuan yang sama, yaitu peresmian kelahiran manusia ke bumi.

“Kajeut peutubiet u lua rumoh,” simpul Nuati: sudah boleh dibawa ke luar rumah.

Kini, Awwis Al-Qarani, yang namanya diadopsi dari seorang sahabat Nabi Muhammad, sudah siap untuk beranjak besar.

Orangtuanya pun merasa lega, karena anak mereka sudah bisa dibawa keluar rumah bila-bila panas atau kondisi buruk melanda seisi rumah.[]

Rumah U, 3 September 2013

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Turun Tanah Senin Pagi”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s