Nikmatnya Anggur Itu..

Temukan kenikmatan anggur dalam cangkir ini. (Dok. Me).
Temukan kenikmatan anggur di sini. (Dok. Me).

“Kita mesti ngopi di Bang Horas nanti.” Saya pegang janji Kibo. Begitu senggang tak terisi, kutagihnya, “ayolah kita ke Bang Horas. Bek peugah-peugah manteng.” Malam pertama tak berhasil. Tapi malam kedua, dari posko pengungsian di Kute Gulime, kami menembus malam yang dingin.

Waaah, kayaknya enak nih minum anggur hitam. Hop! Memabukkan tidak? Bukankah haram minum alkohol? Hmm, saya melihat ke sekitar café yang mirip mini bar. Orang-orang menenggak kopi, tiada gelas anggur di hadapan mereka. Alah, coba aja sekali, pikirku.

“Black Anggur Coffee”, akhirnya saya putuskan memesan minuman yang baru di mata saya. Hamzah pun mengikuti selera saya, bukan Kibo yang ingin diseduh kopi susu.

Gerimis mengguyur Jalan Sengeda bulan Juli. Dingin menembus tiga lapis baju yang membalut tubuh kurusku. Rasanya cepat-cepat menyesap anggur hitam itu. Sementara menanti seduhan, kami mengobrol seputar pemberitaan koran lokal yang abal-abal. Tahunya kabar mesum.

Pelayan meletakkan teko berbentuk tabung. “Eh, kayak di ruang lab kimia,” kataku pada mereka. Black Anggur Coffee telah diseduh di dalamnya. Kami tuangkan dalam cangkir, tambah sedikit gula.

Wow! Nikmatnya. “Anggurnya terasa di ujung lidah, kan?” kuyakinkan pada Hamzah bahwa kami tak salah pesan di saat yang lain belum tertarik mencoba.

Namun saya masih penasaran, ini pasti bukan anggur sungguhan. Dan gila! rasanya bikin ketagihan. Ketika kami datang lagi ke Gayo pada Agustus, saya membujuk kawan-kawan agar kembali nongkrong di Kedai Kopi Horas. Dan, kami ke sana setelah menyelesaikan misi di Kute Panang.

Kali ini saya mencontreng “Syifun Anggur Coffee” di menu minuman. Saya yang pertama. Kemudian hampir semua relawan yang datang memesannya. Senangnya punya jamaah (lebay :D).

Saya ingin rasa baru namun tetap anggur hitam. Saya juga ingin tanyakan pada pemilik kedai yang disapa Bang Horas, darimana dia dapat anggur hitam.

Kopi anggur syifun diseduh dalam teko mirip telepon jadul. (Dok. IST)
Kopi anggur syifun diseduh dalam teko mirip telepon jadul. (Dok. IST)

Beda nama beda teko. Kopi anggur syifun diisi dalam teko menyerupai telfon jadul. Sebelum kutuang ke cangkir, kudekatkan teko pada telingaku, dan mengkode Nyak Ti yang berjaket pink di meja sebelah untuk melakukan hal yang sama.

“Hallooooooooooo.”

Tawa pecah di antara isu-isu yang keluar dari mulut para relawan bencana dari berbagai latar belakang. Kebahagiaan mengental.

Relawan Care Anak Gayo II di Kedai Kopi Horas, 5 Juli 2013. (Dok. IST).
Relawan Care Anak Gayo II di Kedai Kopi Horas, 5 Agustus 2013. (Dok. IST).

Nah, loh, kopi anggur syifun rasanya lebih sedap dibanding kopi anggur hitam. Kacang tojin memantapkan nikmatnya rasa anggur itu.

“Bang Horas, ini anggur asli ya?” Kami mulai akrab, terlalu cepat bahkan.

“Oh, bukan,” sahutnya, lekas diteruskan, “itu kopi arabika yang difermentesi.” Bayangan grey melintas di kepalaku: $$$##%$&*** o reh, rupanya bukan anggur asli.  $$$##%$&*** o reh, rupanya bukan anggur asli. Hadeuuuuh..

Pria berkumis tebal itu menjelaskan, “syifun” (lupa kutanya bahasa apa) artinya “dibakar”.

“Gimana caranya sehingga disebut kopi anggur?”

Kopi gayo jenis arabika difermentasi hingga mendapat rasa anggur. Caranya, biji kopi kering diperam berhari-hari sampai dapat rasa anggurnya. Biasanya 4 hari. Setelah itu diroasting (suling pakai roaster; mesin suling). Hebat, tak perlu mencampur dengan sari anggur untuk mendapatkan rasa buah yang dijadikan bahan utama wine ini.

Sementara untuk kopi anggur syifun, caranya adalah.. “Ingin tahu lebih, magang saja sama aku sebulan, kuajari semua,” janji Bang Horas, dengan muka serius.

Ho-ho. Betul, saya tertarik, tapi belum waktunya.

Bang Horas, nama aslinya M Abdi Manulang. Hijrah ke Takengon sejak 1982 kemudian berkeluarga di sana. Ia lahir di Medan. “Di semak-semak Sumatera Utara, ha-ha,” beritahunya setengah bercanda. “Kayak kalian lahir di perkampungan, kan di semak-semak, orang tak tahu,” bicaranya lantang namun sikapnya ramah.

Dulunya ia agen cabe. Sambilan agen, ia juga armada kopi. Dia sering melihat pedagang Medan menjual kopi gayo dengan harga sangat tinggi. “Kenapa kopi luwak harus jual sampai harga 180 ribu di Medan, di Gayo bisa 15 ribu.”

Ia pun berhenti agen cabe dan membuka usaha kedai kopi di Kota Takengon pada Mei 2012. Kedainya berukuran sekitar 3×3 meter dengan halaman berukuran sama yang dipasangi tenda. Pengunjung selalu banyak, antusiasnya sama seperti Kopi Solong di Banda Aceh (tentu tidak melihat ukuran kedai).

Bagiku, bukan mandi air panas di Simpang Balek jika ingin menikmati kehangatan di kota dingin, tapi mampir ke Kedai Kopi Horas; rasakan kopi anggurnya.[]

Rumoh Aceh, 9 September 2013

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

7 thoughts on “Nikmatnya Anggur Itu..”

  1. Kawan Makmur,
    sekira sebulan yg lewat, seorang kawan membawakan saya sebungkus kupi Horas ini sbg buah tangan …dan sejak itu saya ketagihan nian dg kupi ini …
    boleh minta tolong jika ada kontak Abang Horas ini, ttg bagaimana cara memesan-dan-kirim tentu saja, ke Jakarta ..?
    terimakasih sekali, kawan …
    salam,
    bagus

      1. ahaaiii …
        terimakasih sekali utk usaha-repotnya, Bang Makmur … 🙂
        semoga ada rejeki-ku mengisi ulang toples sediaan kupi ajaib ini yaak …
        wassalam,
        bagus

  2. Bang Makmuuuurrr ….terimakasih tak terhingga saya utk Abang yak ..!! saya akan coba kontak Bang Horas ..smoga ada rejeki saya 🙂

    wassalam,

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s