Main Biliar Tak Semudah Menulis

The art of hand and mind. (Ilustarsi: Me)
The art of hand and mind. (Ilustrasi: Me)

..main biliar tak semudah praktek menulis, butuh kecermatan dalam memukul bola, tak seperti postingan blog yang bisa disunting belakangan..

Mencoba hal baru kiranya dapat meyalakan potensi terpendam. Saat ngopi di Black Jack Coffee Shop jelang pergantian hari, “Saya siap ketawa melihatmu pukul bola,” komentar Zulham begitu saya setujui ajakannya main biliar. Tapi sindirannya itu malah memacu adrenalinku.

Minggu 6 Oktober datang saat kami akan meninggalkan Black Jack. Saya, Zulham dan temannya Si Geng, Bang Pozan dan rekan kerjanya Bang Jal, menuju Peunayong. Menyusuri gang-gang dalam keremangan. Memasuki beberapa dan memilih satu arena biliar yang tampak rapi dan rame. Kami harus menunggu sejenak sebab antri peserta.

“Saya akan buktikan bahwa tidak seperti pemula biasa, saya akan menguasainya pada permainan pertama,” selorohku.

Kuperhatikan para lelaki, tua, muda, mengerumuni meja biliar, saling adu kecermatan memasukkan bola dalam enam pocket (kantung). Mulai dari cara memegang stik, membungkukkan badan, mengancang-ancang, dan tab! bola utama (cue ball) yang berwarna putih menyodok bola target (pool ball). Benturan bola dengan bola menghasilkan letupan yang tegas diiringi ledakan tawa dan asap rokok mengepul.

O…, rupanya memukul bola biliar seperti menendang bola kaki. Jika kamu ingin menghasilkan bola melambung, maka sepak dari bagian bawah bola. Jika kamu pengen bolanya meluncur datar, hentakkan di tengah-tengah bola. Bila ingin bola menyamping ke kanan, tendanglah di bagian kiri, dan sebagainya.

Giliran kami tiba. Saya coba santai saja, menghindari gugup, berharap tak canggung. Saya tak mau Zulham yang sudah kecanduan biliar menertawaiku. Saya naik giliran ketiga pada gem pertama. Kuletakkan stik di antara ibu jari dengan telunjuk yang sejajar rapat dengan jemari lainnya. Kuarahkan bola utama ke target bol kuning bernomor 1 yang terdampar di antara 14 bola lainnya.

Perhatikan kekakuanku, haha. (FOTO : PM)
Perhatikan kekakuanku, haha. (FOTO : PM)

Tab! Hahaaaaaaai, pukulan pertamaku mengenai bola 1. Tapi giliran selanjutnya, saya kerap tak mengenai bola target alias terpeleset dan sering pula bola utamanya masuk kantung sehingga mengurangi jumlah poin sebanyak angka pada bola target. Kadang bola utamanya malah meloncati sebab sodokan stik tak tepat sasaran. Bahkan saya dituntun mereka bagaimana cara tusot yang benar jika bola utama di posisi sulit. Semua itu menjadi bahan tertawaan Zulham dan kawan-kawan.

Sodok saja sesuka hati, yang penting kena bola putih. (Foto: ZY)
Sodok saja sesuka hati, yang penting kena bola putih, hihi. (FOTO: ZY)
Ini nih Zulham sang master, huhu. (Foto: PM)
Berharap tidak gol, huhu. (FOTO: PM)

“Pertama main memang kek gitu,” hibur Si Geng.

Namun saya tetap berusaha. Niatku, yang penting kena bola target saja sudah cukup biar tak kurang poinnya. Saya gonta-ganti posisi stik. Mereka tak habis pikir ketika saya bikin gol dengan cara yang unik namun tak punya gaya dalam memukul bola. Kiban yang mangat laaaah. Ha-ha. Berbeda dengan Pozan Matang, gaya tusotnya hampir profesional, tapi kerap tak mengenai target bol.

“Kamu tidak punya gaya, tapi sering gol. Saya punya gaya, tapi sering tidak kena bola,” Pozan mengakuinya kemudian. Ia juga baru pertama main. Sempat ia coba-coba pukul bola biliar di sela-sela kerja di hotel namun tak bermain serius seperti pagi itu.

Kami main 11 gem. Saya 10 kali. Pada awal-awal gem, saya dapat poin mines, baru set ke-4 dapat poin 5. Kemudian merosot lagi. “Malam ini, saya harus bisa naik giliran pertama sekali saja,” cita-citaku saat itu.

Benar saja, pada set ke-7, saya mencapai poin tertinggi, 30, sehingga naik pertama di set 8. Set-set selanjutnya melorot lagi, bahkan saya raih poin buruk yang mencolok di set 9, yaitu -55, sedikit lebih baik dari Pozan Matang yang menyentuh -56 di set akhir. Poin tertinggi malam itu dicapai Si Geng, 77. Permainannya selevel dengan Zulham yang sesekali memukul dengan efek spin. Bang Jal sedikit di bawah mereka.

Zulham sang master, aweuukkkk. :D (FOTO: PM)
Zulham sang master, aweuukkkk. 😀 (FOTO: PM)

Dalam kelompok kami, Zulham bolehlah disebut master. Hehe. Sementara saya patut dibilang sangat amatir. Belum bisa kutentukan posisi stik di jemariku yang sangat, sangat, sangat kaku. Di gem-gem terakhir, kurasakan permainan ini semakin asik, bikin ketagihan. Sepertinya akan menjadi hobi baruku.

Menurutku, main biliar sama halnya dengan menulis, yaitu, praktek, praktek, dan praktek. Tapiiiiii, main biliar tak semudah praktek menulis, butuh kecermatan dalam memukul bola, tak seperti postingan blog yang bisa disunting belakangan. Saya menyimpulkan, main biliar dapat melatih daya pikir dan seni mengambil kuputusan; the art of hand and mind. So, cobalah bermain biliar![]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

7 thoughts on “Main Biliar Tak Semudah Menulis”

  1. Utama main bilyard itu masukin bola putih aja dulu ke lubang yg lurus.. nahh abis itu test tembak bola depan lubang dari jauh… klau sudah lancar , baru belajar kuda2 tangan dan kuda2 kaki yg benar… intinya tetep percaya diri kalau nembak bola… saya sebelum nya amatir juga.. tapi alhamdulilah skarang sdh 2thn main saya sudah hampir menguasai bola” rumit walaupun kadang zonk 😀 tapi saya tetap berusaha sampai seperti master” yg sudah terkenal itu 🙂

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s