Bintang Iklan Cuma-cuma

Awak gampong lon berakting layaknya bintang iklan. (Dok. IST)
Berakting layaknya bintang iklan. (Dok. IST)

Suasana kantin Taman Budaya Aceh pada dini hari Selasa 8 Oktober 2013 sedikit berbeda di mataku. Pemuda yang duduk di sampingku tiba-tiba berpindah menghadap temannya yang sedang menenggak minuman ringan. Ia meraih botolnya dan berjongkok di balik meja.

Saya melihatnya melucuti kemasan jang fud itu. Ia bakar mereknya dengan korek api.

“Kenapa, Nyak?” gugat temannya. “Janganlah jadi bintang iklan,” balasnya, diiringi senyum teman-temannya yang tampak mengerti tingkahnya, dengan ekspresi biasa. Tapi saya heran. Apa maksudnya?

Saya yang baru tiba sejam usai penutupan Gelar Seni Budaya Aceh itu mencecarnya dengan beberapa pertanyaan. (Pada ajang itu, ia memenejeri Tim Mop-mop Meurak Jeumpa Aceh Krueng Mane. Mop-mop adalah sebuah kesenian menyampaikan pesan-pesan moral dengan perpaduan seni tutur, tari, teatrikal, dan musik, yang dimainkan tiga pemeran. Ia mulai langka di Aceh.)

Nyakman Lamjamee.
Nyakman Lamjamee. (Dok. IST)

Kisah “anti bintang iklan” berawal di akhir 2007. Suatu hari ia ngopi di warkop apung kawasan Ulee Kareng Banda Aceh. Selagi ngobrol sama kawan tentang rencana bikin film multikultur keacehan, spontan, ia merebut botol minuman ringan seorang teman cewek. Lekas ia copot kemasan bermerek dan membakarnya (hidup-hidup kali ya, hehe).

“Kenapa, Bang?” si cewek kaget.

“Minuman ini kamu beli atau dikasih gratis?” cuma dijawabnya dengan pertanyaan.

Si gadis ternganga, sebagaimana saya larut malam itu. “Hampir semua kita membeli minuman bermerek, lalu meminumnya,” ujar Nyakman Lamjame, begitu nama populernya di kancah budaya lokal. “Secara tidak langsung, kita mengiklankan produk mereka. Padahal kita tidak dikasih apa-apa, malah membayar mereka,” sambungnya.

“Bahkan orang-orang di kampung, selagi minum, meletakkan kaleng minuman bermerek di atas meja lama-lama. Itu terkesan pamer,” nilainya. “Jika orang-orang lemah ekonomi melihatnya, mereka juga ingin minum demikian, tapi tak sanggup.”

Sebab itulah, alumni Bustanul Ulum Langsa peminat seni ini selalu menelanjangi kemasan minuman apapun setiap membelinya, kecuali diberi gratis sama produsen. “Untuk apa kita menjadi bintang iklan mereka, bukankah produsen punya sales promotion?”

Dari ceritanya saya menyimpulkan, dengan menenggak minuman botol tanpa mencopot kemasan mereknya: pertama; kita membuat produsen bangga karena mengiklankan produk mereka cuma-cuma, kedua; kita membuat batas sosial bahwa meninggikan kelas sosial pada orang-orang dengan kelas sosial lebih rendah.

Hmm, saya, Anda, dan hampir semua masyarakat Aceh, bahkan Indonesia, sebagai konsumen secara tidak langsung telah menjadi bintang iklan berbagai produsen minuman ringan. Lalu, perlukah sama-sama kita telanjangi setiap merek minuman mulai sekarang? Pikirkan dan lakukan yang terbaik.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Bintang Iklan Cuma-cuma”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s