Travelling is Visit to Write

According to me, travelling is visit to write it.

Inti dari perjalanan adalah mendatangi untuk menuliskannya. Bagi saya pribadi, perjalanan adalah kebahagiaan. Selain dapat melakukan dan menuliskan hal-hal baru dari tempat destinasi, saya juga bisa menambah daftar pertemanan dan menghargai keberagaman karakter. Lihat beberapa contoh berikut:

FOTO 1 :  Saya termasuk dalam 10 wartawan se-Indonesia yang mendapat beasiswa meliput even Pertemuan Nasional AIDS IV di Yogyakarta, 1-6 Oktober 2011, setelah melalui seleksi naskah feature tentang kesehatan. Saya membawa nama Harian Aceh, menyempatkan diri foto bersama wartawan dari daerah lain yang jauh lebih tua dariku.

Saya (kiri) berpose bareng wartawan dari Papua dan Medan di sela-sela temu ramah dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. (Dok. IST)
Saya (kiri) berpose bareng wartawan dari Papua dan Medan di sela-sela temu ramah dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X di Keraton. (Dok. IST)

FOTO 2 : Saya mewakili Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh pada Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset PTAIN se-Indonesia VI di Serang, Banten, 19-24 Agustus 2013. Menghargai budaya daerah lain dengan berfoto bareng peserta berpakaian adat di sela-sela penutupan.

Saya (dua dari kiri) tertarik juga foto dengan seorang kontingan Papua berpakaian adat. (Dok. IST)
Saya (dua dari kiri) juga tertarik foto dengan seorang kontingen Papua berpakaian adat. (Dok. IST)

FOTO 3 : Saya meraih juara satu lomba blog Paling Venomenal yang digelar Venom Indonesia pada 28 Agustus – 27 September 2013. Tiga pemenang utama dihadirkan ke even Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) ke-21 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, 28-30 September 2013. Tiga pemenang haruslah foto bersama. 😀

Dari kiri, juara 1, 2, & 3: Saya (Aceh), Rikar (Banten), Akida (Yogyakarta), foto bersama di penginapan dengan gaya jemari 'V' membentuk logo Venom Audio. (Dok. IST)
Dari kiri, juara 1, 2, & 3: Saya (Aceh), Rikar (Banten), Akida (Yogyakarta), foto bersama di penginapan dengan gaya jemari ‘V’ membentuk logo Venom Audio. (Dok. IST)

FOTO 4 : Namaku tertera dalam 20 peserta yang lulus seleksi untuk mengikuti workshop Narasi se-Sumatera ke Sei Rokan Training Centre di Siak, Riau, 30 Januari – 5 Februari 2011. Pelatihan menulis jurnalisme sastrawi dengan konsep; panjang, dalam, dan terasa, ini digelar LPM Universitas Riau Bahana Mahasiswa bekerjasama dengan Eka Tjipta Foundation. Saya menggunakan uang pribadi dari hasil menulis lepas di koran lokal untuk bisa ke Riau via darat. Asiiiiik. 😀

Peserta workshop foto bersama salah satu pemateri, Andreas Harsono (tiga dari kiri), persis di samping saya (empat dari kiri). Keceriaan di kompleks pelatihan. (Dok. IST)
Peserta workshop foto bersama salah satu pemateri, Andreas Harsono (tiga dari kiri), persis di samping saya (empat dari kiri). Keceriaan di kompleks pelatihan. (Dok. IST)

FOTO 5 : Alumni Narasi Sumatera mengadakan reuni di Universitas Negeri Medan, 29 September – 1 Oktober 2012, sekaligus membahas pembentukan media baru. Kunjungan wisata selalu ada dalam agenda pertemuan.

Foto bersama di Bukit Gundaling, Berastagi, yang sejuk penuh stroberi. Saya di tengah pada baris belakang. (Dok. IST)
Di Bukit Gundaling, Berastagi, yang sejuk penuh stroberi. Saya di tengah. (Dok. IST)

Di samping itu, tulisan perjalanan mengandung banyak manfaat bagi orang lain. Diantaranya seperti berikut:

1. Menjadi referensi bagi yang belum pernah mengunjungi

Misal sebuah laporan penjelajahan saya dan tiga kawan ke Pantai Lhok Mata Ie di Aceh Besar pada Mei 2012. Ia sebuah pantai yang asri di ujung Pulau Sumatera namun harus mendaki untuk mencapainya di balik bukit. Baca panduannya di Pantai Elok di Ujung Sumatera

Pantai Lhok Mata Ie. (Dok. Me)
Pantai Lhok Mata Ie. (Dok. Me)

2. Memberikan pengetahuan baru secara gratis tanpa harus didatangi

Misal laporan kunjungan bersama relawan Care Anak Gayo pascagempa melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah pada Juli 2013. Baca kondisi korban di Bahagia di Dua Kute

Foto bareng korban gempa di Kampung Dedingin, Kute Panang, Aceh Tengah. (Dok. Kibo)
Bareng korban gempa di Kute Panang, Aceh Tengah. (Dok. Kibo)

3. Membuat orang-orang ingin mendatangi tempat yang telah dikunjungi

Misal laporan perjalanan saya ke Sabang pada November 2011 yang dimuat Harian Aceh. Temukan daya tariknya di Sabang; Putri Cantik yang Tak Terurus 1  2  3  dan 4

Bawah laut Sabang. (Dok. Muhammad Hamzah H)
Bawah laut Sabang. (Dok. Muhammad Hamzah H)

Saya yakin bahwa semakin jauh perjalanan yang kutempuh semakin bahagia saya mengeksplorasikan objek wisata dengan kata-kata, lalu saya bagikan kepada orang lain. Namun untuk saat ini, saya baru mengunjungi beberapa tempat saja di daerah dan dalam negeri. Saya bercita-cita secepatnya bisa jalan-jalan ke luar negeri selagi muda, baik gratis maupun pakai uang sendiri. Apalagi acara seperti TS Break Away dengan tema kali ini What Does Travelling Mean to You? How beatiful, right?

Maka untuk menjunjung tinggi anugerah Tuhan yang menciptakan alam semesta, saya ingin:

Di bumi mana saya pijak, dari situ saya menuliskannya.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

22 thoughts on “Travelling is Visit to Write”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s