Mak Mendoakan Saya Jadi Pemimpin

Lebaran di kampung halaman menyenangkan karena dapat melihat ibu setiap saat. Jumat 18 Oktober 2013, saya, Mak (sapaan ibu dalam bahasa Aceh), teman sebayaTawakkal dan Fahrijal, kebetulan sedang berkumpul di rumah. Spontan saya ingin tahu bagaimana Mak menghadapi saya waktu kecil.

Minggu 19 Desember 1990, Jasmani, istri seorang kepala tukang bangunan yang gigih, M Nur Abdullah, melahirkan saya, anak ketujuh dan terakhir. “Entah kenapa, Mak beri nama kamu, ‘Makmur’,” cerita Mak. Nama yang mengena di hatinya, tak perlu ia meminta saran orang lain.

Saya terkesiap ketika Mak mengungkapkan, “sejak lahir kamu sudah punya tahi lalat di tangan,” seraya memerhatikan punggung tangan kanan saya. “Kata tetua dulu, anak yang lahir dengan tahi lalat di tangan akan pintar; kerja tangannya akan membuahkan hasil,” sambungnya.

Tangan kanan saya mulai “bandel” ketika saya memasuki usia empat tahun, dimana saya banyak inginnya. Diantaranya:

  1. Marah kalau tak dibangunkan salat subuh. “Waktu kecil kamu marah kalau tidak dibangunkan salat subuh, tidak seperti sekarang.” Saya manyun, mengingat-ingat beberapa kali lalai ketika sudah kuliah.
  2. Bikin kue sendiri. “Kalau Mak buat kue, kamu ingin buat sendiri. Begitu masak, kamu makan sendiri kue itu meski menyantap juga yang lainnya.” Misal Mak buat timphan (penganan khas Aceh) atau boh rom-rom (onde-onde), saya akan membentuknya sendiri. Marah kalau dilarang. Kenapa saya tidak meneruskannya sekarang ya, membatin.
  3. Rajin membantu ke sawah. “Kalau kami nanam semangka, kamu setiap hari minta ikut walau dilarang; di sana dengan gigih menyirami tanaman semangka dengan ember kecil.” Kenapa saya tidak tertarik lagi sejak kuliah, membatin lagi.
  4. Selalu ikut kenduri. “Jika ada pesta atau kenduri, selalu minta ikut; kamu selalu minta masak rendang, sampai-sampai orang menanyakan ‘dari mana dia tahu masak rendang kecil-kecil?’” Saya bayangkan diri yang cepat tahu.

    Saya waktu usia 4 tahunan. (Dok. IST)
    Saya waktu usia 4 tahunan. (Dok. IST)

Hal-hal itu terus berlanjut ketika menempuh SDN 1 Metareuem. “Kamu kan waktu kecil, masa SD, sering kek gini,” Fahrijal, teman serumah waktu kuliah, memeragakan tangan yang menulis di udara, “Ya, kan, Ai,” sambungnya meminta pendapat Tawakkal, teman sebangku saya waktu SD. Dia mengangguk. Saya ingat, saya memang gemar menulis atau melukis di udara waktu kecil, namun tidak pernah terpikir untuk coba-coba mengarang cerita di kertas buku, kecuali kalau ada Pelajaran Mengarang.

Saya baru punya cita-cita ketika beranjak SMP. Saya ingin jadi pebola nasional seperti Bambang Pamungkas, di mana orang-orang bisa menontonnya di tivi. Waktu itu, beberapa pengusaha Pidie menggulirkan liga bergengsi di Kabupaten Pidie yang dibertajuk Latih Tanding Bersama (Lattansa) pada 2008. Pesertanya adalah tim sepakbola mewakili kecamatan.

Almarhum ayah Fahrijal merekrut anak-anak Kecamatan Mila. Kami sudah pasti ikut, kebetulan lapangannya di kampung kami, Stadio Mini Gle Jruet, apalagi kami sekampung sudah biasa main bola sore di sana sejak lama. Tapi hingga Kapten Tim UMS Mila mengangkat piala bergilir, saya tidak pernah masuk line-up tim. Beda dengan Fahrijal dan Tawakkal yang memang menjadi andalan UMS Mila. Sayangnya mereka tidak bercita-cita menjadi pebola nasional. Dan saya pikir, sepakbola memang bukan jalan saya meski sangat hobi bermain bola.

Cita-cita saya beralih ketika SMA. Kelas tiga, saya mulai suka menulis cerita; menulis syair Aceh untuk menggambarkan karakter kawan-kawan seruang dan menuliskan laporan hasil pertandingan sepakbola kawan-kawan MAN 1 Sigli untuk kutempel di mading. Saat itu, saya bercita-cita menjadi wartawan.

Saya pun meminta restu Ayah untuk mengizinkan saya kuliah di IAIN Ar-Raniry (UIN Ar-Raniry sekarang) karena sedang membuka Prodi Jurnalistik di Fakultas Dakwah. Tapi Ayah lebih menginginkan saya mondok di dayah, tapi saya bilang ingin menjadi wartawan. Sementara Mak mengikuti keinginan saya. Akhirnya atas bujukan Mak, Ayah memberi izin. Alhamdulillah, saya kemudian lulus tes di Prodi Jurnalistik Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry (UIN Ar-Raniry sekarang) meskipun itu pilihan kedua.

Awal-awal kuliah, seiring tahi lalat semakin membesar di tangan, saya langsung belajar menulis. Banyak membaca karya penulis lain dan berdiskusi dengan kakak angkatan yang ahli di bidang menulis. Suatu Minggu pada Mei 2010 ketika saya semester 2, cerpen saya dimuat di Harian Serambi Indonesia. Bangga bukan kepalang, saya sms sekampung agar melihat karya “Makmur” di koran.

Tahi lalat di tangan kanan saya. Ia membesar perlahan-lahan. (Dok. IST)
Tahi lalat di tangan kanan saya. Ia membesar perlahan-lahan. (Dok. IST)

Lantas, saya melihat banyak penulis memiliki nama dengan dua kata. Atas izin orangtua, saya menambahkan kata “Dimila” di belakang “Makmur” sejak karya ketiga saya dimuat di Serambi Indonesia.  Sejak itulah saya mulai menekuni dunia tulis-menulis dan bekerja di beberapa surat kabar lokal, juga atas izin orangtua.

“Apakah Mak punya harapan pada saya?” saya menanyakan Mak, jelang Jumatan itu.

“Mak mendoakanmu agar jadi pemimpin.”

Apaaa? Saya tersentak tapi tersenyum malu, benarkah? “Sejak kapan Mak berdoa demikian?”

“Sejak kamu besar, kalau kecil mana sempat Mak pikir demikian, kamu asik nangis,” jawabnya.

Saya teringat, usai jeda bekerja di koran pada Juni 2012, sebulan kemudian saya dipilih mengetuai Komunitas Jeuneurob, sebuah komunitas menulis yang didirikan beberapa mahasiswa pada medio 2011. Coba berkarya bersama kawan-kawan, hingga saya mengundurkan diri pada Februari 2013. Saya mundur juga atas permintaan Mak agar cepat meraih sarjana selagi ada orangtua.

Mak dan kakak ketiga saya. (Dok. IST)
Mak dan kakak ketiga saya. (Dok. IST)

“Mak ingin saya pemimpin seperti apa? Di mana? Di bidang apa?” tanya saya memecahkan nostalgia diri. Namun Mak hanya diam. “Bagaimana doanya, Mak?” Tanya saya lagi. “Cuma ada dalam hati,” sahut Mak, pelan, bikin saya mati kutu.

“Mungkin, Mak ingin saya memimpin diri sendiri ke arah lebih baik sebelum memimpin orang lain,” kalimat ini terngiang-ngiang di kepalaku setelah lama merenung. Ibu saya adalah pahlawan saya. Saya pun berkali-kali melihat tahi lalat di tangan kanan saya, mengharap ada jawaban yang nyata.

Artikel ini saya ikutkan dalam LombaBlogNUB “Peran Ibu  Untuk Si Pemimpin Kecil”. Semoga dapat menginspirasi diri saya dan orang lain.[]

BANNER PERAN IBU

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

8 thoughts on “Mak Mendoakan Saya Jadi Pemimpin”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s