Napak Tilas Transformasi IAIN Ar-Raniry Menjadi UIN

Embrio Universitas Islam Negeri Ar-Raniry tumbuh sejak dua dekade lalu. Namun upaya memantapkan status perguruan tinggi islam ini baru berbuah pada periode kedua kepemimpinan Prof. Farid Wajdi.

HARI-hari masyarakat Aceh tidak tenang akibat konflik saat Abdul Fatah mulai menakhodai Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry pada tahun 1990. Rusjdi Ali Muhammad turut mendampingi perjuangannya dengan menjabat Pembantu Rektor III.

Pada periode itu, pemikiran cendekiawan muslim dunia, Ismail Raji Al-Faruqi, sedang mewabah di belahan dunia-dunia muslim. Konsep islamisasi Ilmu Pengetahuan (islamization of knowledge) pemikir kelahiran Palestina itu memantik semangat pembaruan di kalangan perguruan tinggi agama Islam.

Upaya penyatuan ilmu pengetahuan umum dengan ilmu pengetahuan agama pun gencar digaung-gaungkan muslim internasional pada 1980-1990-an. Termasuk Indonesia. Namun IAIN Ar-Raniry belum berhasrat.

Perubahan besar sepertinya baru terjadi menjelang kepemimpinan Abdul Fatah berakhir, saat Rusjdi Ali dapat kesempatan studi ke Australia bersama 19 utusan rektor PTAIN se-Indonesia lainnya. Mereka mempelajari limu manajemen universitas (university management) selama 10 minggu di Macquarie University, universitas terkenal dengan ilmu pendidikannya di Kota Sidney.

Rusjdi terkesan dengan kegigihan Ahmad Sukardja, Purek (Pembatu Rektor) I IAIN Jakarta, yang mengumandangkan ide konversi status IAIN Jakarta yang saat itu dipimpin Prof. Quraish Shihab menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Dalam setiap workshop atau pertemuan, Ahmad gencar menggalang solusi dan dukungan untuk mengubah IAIN Syarif Hidayatullah menjadi UIN.

Sepulang dari Australia, Rusjdi mengisahkan pada pimpinan IAIN Ar-Raniry. “Purek I IAIN Jakarta getol sekali membicarakan ide pembentukan UIN Jakarta di Australia,” ceritanya pada Rektor Abdul Fatah, Purek I (alm) Prof. Safwan Idris, dan beberapa pejabat kampus lainnya. Diuraikan pula upaya-upaya yang ditempuh Ahmad secara panjang lebar.

Beragam respons menyeruak. Optimis dan pesimis. “Ada yang mengkhawatirkan seperti sekarang ini: kalau IAIN menjadi UIN, ilmu-ilmu keagamaan akan tenggelam,” Rusjdi Ali Muhammad mencerita ulang pengalamannya pada Rabu pagi 11 September 2013 di ruang Direktur Pascasarjana IAIN Ar-Raniry.

“Namun sebagai upaya Islam menjawab tantangan zaman,” tegas Rusjdi menanggapi komentar miring itu, “IAIN memang harus diubah menjadi UIN.” Apalagi usai perjuangan Ahmad dan kawan-kawannya mencapai klimaks ketika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diresmikan pada Juni 2002, usul-usul UIN pun kian merebak di lingkungan IAIN Ar-Raniry.

Menurutnya, jauh sebelum pemikiran Ismail Raji merasuki pendidikan islam di Tanah Air, IAIN Ar-Raniry telah mewujudkan penyatuan dua ranah ilmu itu dengan membuka Jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Tarbiyah, dengan tujuan awal mencetak guru-guru mata pelajaran umum di lingkungan Departeman Agama. Kemudian dibuka lagi tadris-tadris umum semasa almarhum Prof. Safwan Indris, seperti Tadris Matematika, Tadris Biologi, Tadris Kimia, guna menyiapkan guru-guru MIPA.

http://baitulmalbireuen.com/wp-content/uploads/2012/08
http://baitulmalbireuen.com/wp-content/uploads/2012/08

TITIK perjuangan konversi IAIN Ar-Raniry menjadi UIN pada masa Prof. Safwan Idris berawal dari meletusnya Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Soeharto mundur dari presiden. Habibie naik. Reformasi bergulir. Tak lama kemudian, pemerintah melemparkan wancana perubahan institut menjadi universitas.

Wacana itu seperti melepas borgol kebebesan ekspresi lembaga pendidikan tinggi. Hampir semua Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjelma menjadi universitas. Beberapa Perguruan Tinggi Islam Negeri juga berupaya memperbarui status mulai dari STAIN Malang, IAIN Sultan Syarif Qasim Pekanbaru dan IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Sayup-sayup terdengar Safwan melemparkan isu universitas. Senat IAIN Ar-Raniry menangkapnya. Mereka pun sepakat mewujudkan UIN yang dilanjutkan dengan menyusun proposal peningkatan status IAIN Ar-Raniry.

Fakultas juga diminta menyeleksi mahasiswa terbaik dari beberapa jurusan yang layak. Bekerjasama dengan beberapa lembaga di luar kampus, mereka dibiayai menuntut ilmu pengetahuan umum di luar.

Dosen-dosen juga diberi kesempatan menimba ilmu di luar. Ini dilakukan sebagai upaya mencetak dosen-dosen mata kuliah umum ketika UIN Ar-Raniry terwujud kelak. Proses ini belum tercium masyarakat umum.

Selagi dua tahap itu berjalan, petaka datang. Prof. Safwan Idris (Allah yarham) wafat, ditembak orang tak dikenal di rumah dinasnya pada 16 September 2000. Prof. Alyasa’ Abubakar yang saat itu menjabat Purek I menggantikan posisi Safwan sebagai rektor sementara. “Mana sempat kita pikirkan UIN lagi, saat itu konflik bersenjata memanas di Aceh,” cerita Alyasa’ di Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry, Selasa sore (10/09) kepada Warta Ar-Raniry.

Ketika hari-hari di Aceh bagai malam gelap, senyum terpancar di Malang dan Riau. Malang beruntung, resmi jadi UIN Maulana Malik Ibrahim pada 2004. Begitupun Pekanbaru, setahun kemudian dikukuhkan sebagai UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

http://rusjdi.com/wp-content/uploads/2013/01/rusjdi2.jpg
http://rusjdi.com/wp-content/uploads/2013/01/rusjdi2.jpg

TUGAS berat diemban Prof. Rusjdi Ali Muhammad usai ditetapkan sebagai rektor periode 2001-2005. Berbekal ilmu mengelola universitas di Macquarie, ia coba melanjutkan misi. Lebih-lebih ide UIN mulai mengkristal.

Ia coba melakukan beberapa strategi. Memang pada waktu itu tidak dibentuk sebuah panitia khusus, akan tapi lebih diarahkan pada penguatan SDM. Dosen-dosen ilmu pengetahuan umum terus dikirim belajar ke berbagai daerah. Selain itu juga diadakan beragam diskusi dan pertemuan dengan sejumlah pemangku kebijakan.

Hanya saja, Rusjdi mesti menghadapi beban psikologis sejarah. IAIN Ar-Raniry didirikan oleh tokoh Darussalam, Ali Hajsmy. Berikut IAIN Ar-Raniry diidentikkan sebagai jantung hati rakyat Aceh bersamaan dengan Universitas Syiah Kuala. Satu di kiri satu di kanan.

Dengan demikian, masyarakat saat itu berkesimpulan, IAIN Ar-Raniry hanya mentransfer ilmu pengetahuan agama sementara Unsyiah mengembangkan ilmu non-agama. Persepsi itu berbiak doktrin, sehingga menyendat aliran ide UIN Ar-Raniry.

Pro-kontra berderap makin lantang di internal kampus. Kebanyakan termakan persepsi masyarakat, khawatir akan tercecernya ilmu pengetahuan agama. Pun begitu, embrio UIN tetap dikembangkan.

Rusjdi melihat, UIN layak tegak di Aceh. “Aceh, Indonesia, orang-orang yang berjuang. Beda dengan Australi.” Ia menceritakan saat belajar di Macquarie University, kaget dengan kebijakan sebuah universitas di Sidney.

Dalam satu kunjungan, ia mendapati universitas tersebut sedang giat-giatnya menyiapkan Fakultas Hukum. Sarana dan prasana tampak mewah, bahkan lengkap dengan ruang simulasi peradilan. Ia bertanya kenapa belum diresmikan Fakultas Hukum tersebut. “Alasan mereka, ‘belum ada profesor’,” ulas Rusjdi. “Beda dengan kita di Aceh, buka dulu, baru cari profesor,” guraunya pada peserta studi saat itu.

Tapi menurutnya, perbedaan tersebut adalah sebuah kewajaran di negara masing-masing. “Jika dulu Aceh menunggu profesor, sampai 50 tahun kemudian pun takkan ada Kopelma Darussalam itu,” tegasnya.

Namun saat pro-kontra mereda, Aceh dilanda tsunami pada 2004. Denyut nadi UIN berhenti sejenak hingga kepemimpinan Rusjdi berakhir. Perjuangan harus tetap dilanjutkan oleh siapapun pemimpin IAIN Ar-Raniry berikutnya.

Pada tahun 2005, estafet rektor IAIN Ar-Raniry pun berganti. Prof. Yusny Saby terpilih sebagai orang nomor 1 di lembaga ini melalui sebuah pemilihan langsung yang diikuti oleh seluruh dosen IAIN Ar-Raniry. Waktu itu, Prof. Yusny Saby, Prof. Rusjdi Ali Muhammad, (alm) Prof. Daniel Juned, dan Dr. Warul Walidin sama-sama menebarkan janji peningkatan status IAIN saat penyampaian visi-misi kandidat. Namun suara terbanyak memenangkan Yusny, sebagai rektor terpilih.

Dok. Me.
Dok. Me. 12/09/13

SEKITAR 40 menit berkendara dari Tugu Darussalam, tanah seluas 40 hektar siap menampung fakultas baru jika UIN Ar-Raniry resmi terwujud dan membutuhkan lahan baru. “Kami sempat mengukurnya waktu itu,” cerita Prof. Yusny Saby saat ditemui pada Kamis siang (12/09). Pemda Aceh mengganti rugi lahan warga Cot Lamme itu seharga sekitar Rp 6 miliar. Penyediaan lahan baru itu merupakan capaian yang menonjol selama 4 tahun kepemimpinan Yusny.

Doktor bidang Islamic Studies, Temple University, Dept. of Religion, Philadelphia, PA, USA tahun 1995 ini ingin membawa perubahan, salah satunya menyambung estafet peningkatan status IAIN Ar-Raniry menjadi UIN. Pada periode kepemimpinannya dibentuk panitia khusus yang menangani rencana ini. Beberapa orang yang terlibat di dalamnya antara lain adalah: Prof. Nasir Budiman, Prof. Jamaluddin, Lukman Ibrahim, dan Jakfar Puteh.

Mereka coba menyusun proposal peningkatan status IAIN Ar-Raniry menjadi UIN. Mendatangkan pakar untuk menilai fakultas apa saja yang perlu dibuka. Mereka mengusung visi dan misinya, menyediakan wadah yang lebih besar kepada calon mahasiswa untuk belajar ilmu-ilmu pengetahuan umum yang islami.

“Jadi kalau dulu toko kita kecil, sekarang toko kita besar,” Yusny mengumpamakan tujuan segera mewujudkan UIN.

Dengan demikian sebut dia, mencetak tenaga ilmu pegetahuan umum yang islami bisa di tempat sendiri (Aceh), tak perlu mencari di tempat lain. Selain selaras dengan pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi yang juga gurunya selama 2,5 tahun di Amerika, IAIN perlu segera di-UIN-kan karena saat itu berkembang pesimisme terhadap kualitas lulusan IAIN Ar-Raniry.

Premis-premis seperti “jangan kuliah di situ, ke Medan atau Jogja saja lebih baik” sempat marak. “Hal ini selalu kita dengar, termasuk masa saya. Tujuan adanya UIN untuk mengikis persepsi itu, dengan memperkuat SDM dosen dan tentu mahasiswanya,” tutur Yusny.

Pesimisme lain juga tumbuh. Orang-orang melihat fakultas keagamaan UIN Jakarta mulai menjadi minoritas. Kekhawatiran itu dikaitkan dengan ide peningkatan status IAIN Ar-Raniry menjadi UIN.

“Apakah perlu institut agama diubah jadi universitas? Dikhawatirkan fakultas keagamaan akan jadi minoritas. Orang tidak lagi suka belajar fiqih, ushuluddin, syariah, dan sebagainya. Orang maunya sains, teknologi, psikologi, kedokteran, dan hukum,” demikian Yusny menyebutkan salah satu ungkapan pesimis yang mencuat pada masanya.

Yusny mendiskusikan persoalan itu dengan Prof. Azyumardi Azra, Rektor UIN Jakarta. Anggapan-anggapan sedemikian rupa tidak masalah. Minat manusia berubah-ubah. Naik-turun. Dulu pesantren banyak peminat dan sekarang berkurang. Di level dunia, dulu Al-Azhar sama dengan pesantren alias IAI-nya Mesir, kemudian jadi Universitas Al-Azhar. “Yang penting kualitas dijaga secara proporsional,” tegasnya.

Islamization of knowledge sebagaimana dimusyawarahkan Ismail Raji Al-Faruqi dan beberapa ulama dunia lainnya pada 1980-an sudah sangat pantas digerakkan. Ketika awal 2000-an, secara substansi IAIN Ar-Raniry siap bersaing dalam menjaga kualitas intelektual dengan IAIN yang lebih dulu menjadi universitas. “Katakanlah kasarnya begitu,” Yusny menyederhanakan maksudnya.

Jalan yang ditempuh Yusny sempat macet saat Menag RI, Maftuh Basyuni, membuat kebijakan moratorium perubahan status IAIN menjadi UIN di akhir 2005. Waktu itu Kementerian Agama akan mengevaluasi UIN-UIN yang lebih dulu berdiri di Indoneisia, terkait filosofis dan teknis kurikulum dalam prodi yang dikembangkan. “Padahal kita sudah lama perjuangkan UIN, mondar-mandir, sana-sini; konsultasi dan studi banding,” jelas Yusny.

Bagaimanapun, perwujudan UIN Ar-Raniry tak pernah berhenti karena merupakan usaha bersama, bukan perorangan. Selain berhasil melobi Pemerintah Aceh untuk mengganti rugi lahan warga tadi, ada dua kontribusi penting lain diperoleh tim perubahan status IAIN Ar-Raniry menjadi UIN pada masa Yusny.

Pertama, nama Ar-Raniry terkenal setelah terlibat dalam penanganan musibah tsunami dan membantu perdamaian Aceh usai MoU Helsinki 2005. “Orang IAIN diminta membantu Pemda dan di macam-macam lembaga,” sebutnya.

Kedua, secara nasional IAIN Ar-Raniry diakui serius dalam hal akademis. “Beberapa kali saya dengar dari alumni kita ketika saya pergi kemana-mana, ‘saya dari Ar-Raniry, Pak, kami senang di sini.’ Kita dihormati, tidak dianggap enteng. Kita dinilai serius meski dalam kondisi genting,” tuturnya.

uin.ar-raniry.ac.id/asset/images/
uin.ar-raniry.ac.id/asset/images/

PADA tahun 2009, estafet kepemimpinan IAIN Ar-Raniry dilanjutkan oleh Prof. Farid Wajdi Ibrahim. Dengan tekad bulat dan komitmen luhur, dia melanjutkan kembali upaya peningkatan status lembaga ini menjadi UIN. Ia membentuk panitia baru untuk memuluskan rencana strategis yang sudah disusun. Tim ini diketuai Prof. Rusjdi Ali Muhammad. Di tengah menjalankan tugas yang tidak ringan ini, Rusjdi diangkat sebagai Kepala Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh pada Oktober 2010. Kepanitiaan selanjutnya dipimpin Prof. Syahrizal Abbas yang saat itu menjabat Pembantu Rektor IV.

Langkah pertama, tim menghimpun indormasi dari sejumlah pertemuan ilmiah sebagai landsan awal. Kendala kembali muncul. Di awal 2011 Syahrizal harus mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan XLVI Lemhannas RI.

Persiapan mandek. Rektor sempat membentuk panitia umum percepatan alih staus pada tengah tahun. Namun prosesnya baru aktif kembali begitu Syharizal pulang dari Lemhannas akhir 2011.

Ketika tahun berganti, diadakan rapat pimpinan. Syahrizal diminta terus melakukan upaya percepatan perubahan status IAIN Ar-Raniry. “UIN harus jadi,” pancing Farid.  “Kalau bapak-bapak setuju, komitmen dan sepakat, insyaallah saya akan usahakan UIN bisa kita selesaikan scepatanya,” sahut pria yang meraih profesor di usia 34 ini di hadapan rektor, pembantu rektor, dan dekanat.

Anggaran persiapan UIN cuma disediakan Rp 25 juta. Kondisi dana yang minim ini tak menyusutkan semangat Syahrizal. Ia membentuk “Tim 11” pada bulan Januari yang terdiri dari 11 orang dengan sekretaris (alm) Dr. Lukmanul Hakim, Imam Masjid Raya Baiturrahman.

Siang dan malam adalah pekerjaan bagi Tim 11, sementara bukan lagi terang dan gelap. Mereka siapkan bahan, menjemput informasi dan data-data ke fakultas, biro perencanaan, akademik, dan keuangan. “Bahkan saya karantina Tim 11 agar bekerja maksimal, seperti di Saree dan Oasis, agar kita bisa fokus,” Syahrizal bercerita Jumat (13/09).

Timnya juga bekerjasama dengan Fakultas MIPA dan Fakultas Teknik Unsyiah. Tetangga IAIN Ar-Raniry ini turut berkontribusi pada penyusunan proposal. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga menyumbang pegalaman berharga mereka membangun UIN.

“Atas dukungan inilah, akhirnya proposal selesai pada Agustus 2012, dengan tebalnya hampir 700 halaman,” ungkapnya.

Proposal percepatan perubahan status itu terdiri atas dua opsi: pertama, proposal program studi sekitar 150 halaman; kedua, proposal alih status sekitar 500 halaman.

Selanjutnya proposal diajukan ke Kementerian Agama RI. Berharap diberi kesempatan meningkatkan status. Menteri Agama terkesan mengulur waktu. Alasannya, sedang mengevaluasi 6 UIN yang lebih dulu dibentuk.

“Aceh memiliki otonomi khusus, kewenangan yang luas, otoritas syariat islam, maka UIN ini menjadi kebutuhan,” Tim 11 terus mendesak Menag dalam diskusi kedua pihak.

Mereka juga berkomunikasi dengan dari anggota DPR RI Asal Aceh yang tergabung dalam Forbes. Minta bantuan agar UIN Ar-Raniry terwujud. Diadakan pula pertemuan dengan beberapa lembaga untuk menggalang dukungan, seperti Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Azwar Abubakar.

“Apa bedanya Fakultas Teknik di UIN dengan di universitas lain? Apa bedanya Fakultas Kedokteran di UIN denga di tempat lainn?“ tanya Azwar Abubakar pada Tim 11.

http://net/atjehpost/images
http://net/atjehpost/images

Syahrizal tidak menjawab secara akademik karena butuh waktu panjang. “Maka saya katakan pada beliau, ‘alumni Fakultas Teknik UIN akan jadi seperti Al-Khawarizmi dan alumni Fakultas Kedokteran UIN akan seperti Ibnu Sina,” jelas Syahrizal.

Man jadda wajada, kesungguhan akan selalu membuahkan hasil, demikian pepatah Arab mengatakan. Biro Administrasi dan Tatalaksana Perguruan Tinggi Islam Kementerian Agama RI merespons usulan alih status IAIN Ar-Raniry menjadi UIN ini pada Juni 2012. Tak lama kemudian, Kepala Biro, Tim Dirjen Perguruan Tinggi Islam dan didampingi konsultan proposal, melakukan visitasi ke IAIN Ar-Raniry. Mereka mengecek kelayakan infrastruktur, jumlah mahasiswa, dan pengelolaan keuangan. Saat itu infrastruktur sudah mendapat grade dari Islamic Developtment Bank (IDB), jumlah mahasiswa hampir 16 ribu, dan menggunakan BLU dalam mengelola keuangan.

Mereka setuju IAIN alih status jadi UIN. Namun proposalnya masih terdampar di biro adminitrasi dan tatalaksana. Kemenag juga perlu koordinasi dengan Menpan terkait struktur kelembagaan UIN dan melakukan komunikasi dengan Mendikbud terkait otoritas ilmu dan pengembangan.

Tak lama, Azwar Abubakar bertandang ke Banda Aceh. Tim 11 menyampaikan visi-misi pembentukan UIN Ar-Raniry dalam pertemuan dengannya dan menunjukkan bukti-bukti konkret. “Menpan yakin bahwa Aceh sangat layak ada UIN,” tutur Syhahrizal. Disusul kemudian kedatangan tim pemantau dari DPR RI terkait keuangan. Mereka cek. “Dan ternyata kita memang memiliki kesiapan yang jauh lebih baik dibandingkan lainnya,” cerita Guru Besar IAIN Ar-Raniry kelahiran Nagan Raya ini.

Mendikbud awalnya juga berkeras tak boleh ada konversi IAIN menjadi universitas lagi. Tapi karena ini desakan banyak pihak yang mendorong terwujudnya IAIN Ar-Raniry menjadi UIN, terutama di Aceh yang melaksanakan Syariat Islam, “Kemudian kita dapat izin dari Mendikbud untuk mengembangkan status IAIN,” ujarnya bersemangat.

Selanjutnya digelar rapat interdepartemen: Menag, Menpan, Menkeu, Mendikbud, Lembaga Administrasi Negara, dan Badan Kepegawaian Negara duduk bersama. “Saya hadir sebagai Ketua Tim 11. Semuanya sepakat bentuk UIN Ar-Raniry,” urai Syahrizal.

Kemenpan lantas menyusun rancangan perpres alih status. Lalu dirapatkan lagi dengan kementerian terkait. Semuanya setuju. Rancangan perpres itu disodorkan ke Presiden SBY. Mengharap segera dibubuhi tandatangannya.

“Sekarang rancangan perpres itu masih di ruangan Presiden SBY. Semoga dalam peringatan 50 tahun IAIN Ar-Raniry, salah satu agendanya adalah Deklarasi UIN Ar-Raniry,” jelas Syahrizal optimis.

UIN Ar-Raniry pun berbuah di masa Farid memimpin kedua kalinya sejak Maret 2013. Syahrizal menyatakan, keberhasilan timnya sejauh ini adalah usaha dari semua pihak terlibat, bukan usaha perorangan.

Semua punya peran masing-masing. “Termasuk dari masa rektor Abdul Fatah ketika Rusjdi mendengar kumandang UIN Jakarta di Australi lalu melahirkan embrio UIN Ar-Raniry, kemudian almarhum Sawan Idris memberikan power dengan menguatkan wacana UIN Ar-Raniry, terus Rusjdi mencoba tindakan-tindakan konkret, dan Yusny telah melobi tanah di Cot Lamme,” aku Syahrizal.

Menurutnya, lahan juga telah disiapkan di Jantho. “Namun untuk 10-20 tahun ke depan, tanah IAIN Ar-Raniry sekarang dengan luas 35 hektar masih bisa digunakan,” pendapatnya.

Hari itu, aura wajah dan bicara Syahrizal menyiratkan kalau ia tak sabar ingin melihat UIN Ar-Raniry. Sebab ada empat alasan menurutnya. Pertama, dapat menghilangkan dikotomi antara ilmu Islam dan ilmu non-Islam; UIN berwenang mengintegrasikan ilmu umum dan agama. Kedua, UIN dapat menjalankan misi Islamization of Knowledge. Ketiga, sebagai respons umat islam terhadap perkembangan kehidupan modern. Keempat, pembuktian bahwa ajaran Islam (syariat Islam) adalah sumber dari ilmu pengetahuan.

“Kita ingin jadikan UIN Ar-Raniry sebagai center of excellent dalam Islamization of Knowledge,” sesumbar Syahrizal. Namun misi Tim 11 belum tamat. “Tugas kami adalah menghantarkan SK Perpres ke meja rektor IAIN Ar-Raniry. ‘Inilah karya kita bersama, UIN Ar-Raniry’,” tandasnya.[]

Published: Majalah Warta Ar-Raniry, Edisi Khusus No. XXIII Tahun 2013

 

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Napak Tilas Transformasi IAIN Ar-Raniry Menjadi UIN”

    1. Terimakasih Kak Eky. Memang redakasi minta saya menuliskannya. Agak susah sih menemui 4 profesor, tapi sedikit berusaha, kepuasan tiada tara ketika reportase rampung dengan data yg lengkap. 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s