Ketika Punya Kamera Menjadi Trendi

Banda Aceh dari Kampung Jacky Chan. Foto ini hasil efek shaking yang tanpa sengaja kamera bergetar saat merekam.
Banda Aceh dari Kampung Jacky Chan. Foto ini hasil efek shaking yang tanpa sengaja kamera bergetar saat merekam. (Dok. Me)

Sebelum tsunami melanda Aceh pada 2004, jumlah pengguna kamera digital di Aceh dapat dihitung jari. Paling.. wartawan foto atau penyewa jasa foto pesta nikah. Satu-dua orang kaya yang menenteng kamera.

Pascatsumi, kegunaan kamera mulai terpatri dalam kehidupan sebagian masyarakat Aceh. Masih ingat video amatir Cut Putri yang merekam kedahsyatan tsunami? Dia merekam dengan handycam.  Videonya dibeli Mtero TV dan direlay oleh beberapa televisi asing.

Kemudian orang-orang pada suka mendokumentasikan momen-momen penting atau lucu. Aksi Cut Putri juga menjadi alasan beberapa televisi swasta membuka rubrik citizen journalism atau warga melapor.

Relawan pose lucu bareng anak-anak korban bencana; juga momen fotogenik.
Relawan pose lucu bareng anak-anak korban bencana; juga momen fotogenik. (Dok. Me)

Pasca MoU Helsinki, masyarakat Aceh mulai bebas berekspresi. Mewabahnya jejaring sosial turut berperan dalam memancing minat fotografi. Bila sebagain foto diri dengan kamera hape dan mengunduhnya ke social media, sebagian kalangan, terutama dari komunitas fotografi, hunting di lokasi tertentu lalu sebar ke jejaring sosial untuk diapresiasi. Belakangan lomba foto pun semakin menjadi-jadi.

Dari kebutuhan jurnalistik, kini kamera menjadi benda penyalur hobi. Pergi sana-sini, jepret, jepret, dan jepret, atau rekam, rekam, dan rekam. Yang penting hasilnya hepi. Belakangan, pelajar, mahasiswa, dan orang-orang kantoran, mulai menenteng kamera, lebih-lebih jika dapat kesempatan jalan-jalan.

Memotret ritual (keberagaman beragama) di halaman candi. Momen yang fotogenik. (Dok. Me)
Memotret ritual (keberagaman beragama) di halaman candi. Momen yang fotogenik. (Dok. Me)

Di Banda Aceh khususnya. Jika kurun 2010-an mahasiswa sangat membutuhkan laptop, tampaknya mulai dan setelah 2013, mahasiswa sangat membutuhkan kamera digital. Bisa berangkat dari kecemburuan pada kawan, kebutuhan blogging, eksploitasi tubuh di jejaring sosial, meraup rupiah, atau sekadar gaya hidup perkotaan.

Sangat memprihatinkan bila kepemilikan kamera bukan sebagai profesi atau hobi, tapi sebagai trendi: hanya sebagai gaya-gayaan untuk difoto. Ga punya kamera nggak cool, Brooo.

Tak jarang ada remaja yang memegang kamera dengan berbagai pose dalam fotonya di media sosial seperti di Instagram, social media khusus foto. Naaaah, ini gawat, bisa-bisa remaja minta duit sama orangtua hanya untuk pelengkap sesi pemotretan saja bareng kawannya.

Wel wel.. saya dan kawan-kawan dari Komunitas Tripod, coba mengikuti tren fotografi. Kami mengunjungi salah satu tempat yang fotogenik pada Jumat malam lalu: Kampung Jacky Chan. Bukan untuk gaya-gaya, tapi mengembangkan bakat.

Sebenarnya, kompleks perumahan itu Kampung Persahabatan Indonesia-Tiongkok, karena dibangun oleh Pemerintah Tiongkok bekerjasama dengan Pemerintah Indonesia. Namun perumahan yang terletak di perbukitan Desa Neuheun, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar, ini lebih populer dengan nama Kampung Jacky Chan. Konon katanya, karena aktor dunia itulah yang menggalang dana.

Diresmikan pada 2007, bukit itu dihuni korban tsunami dengan 606 unit rumah tipe 42 di areal 22,4 hektare. Sejak itu, Kampung Jacky Chan menjadi lokasi yang tampak menarik ketika difoto, siang maupun malam, baik sebagai lokasi syuting maupun objek foto, sehingga sangat pantas disebut photogenic.

Suasan malam Kota Banda Aceh dari Kampung Jacky Chan dengan ketinggian sekitar 300 m. (FOTO: Ikbal Fanika)
Suasana malam Kota Banda Aceh dari Kampung Jacky Chan dengan ketinggian sekitar 300 m. (FOTO: Ikbal Fanika)
Temaram lampu Kota Banda Aceh dari atas Kampung Jacky Chan. (Dok. Me)
Temaram lampu Kota Banda Aceh dari atas Kampung Jacky Chan. (Dok. Me)
Langit Banda Aceh dari Kampung Jacky Chan. Sayang, bulan dan gemintang meredup di bulan November.
Langit Banda Aceh dari Kampung Jacky Chan. Sayang, bulan dan gemintang meredup di bulan November. (FOTO: Zirky Marfandi)

(Kalau orang, meskipun dasarnya tidak cantik, ia akan tampak menarik usai difoto; naaah, ini namanya orang yang fotogenik. Istilah ini menjadi tren di Indonesia sejak 2013).

Juru foto membidik model asing di pameran otomotif; saat-saat yang gotogenik. (Dok. Me)
Juru foto membidik model asing di pameran otomotif; saat-saat yang gotogenik. (Dok. Me)

Kebetulan malam itu, ada seorang Fotografer Masjid Raya Baiturrahman (saya lupa catat nama komunitasnya). Pak Rizal, dia mengaku sudah 25 tahun memotret di masjid yang menjadi landmark Kota Banda Aceh. Dia berbagi ilmu.

“Kalau foto panorama,  kalian mesti pake Canon. Sedangkan untuk motret orang, pakailah Nikon,” saran pria yang mengaku punya 4 kamera DSLR (Digital Single-Lens Reflex); kamera digital dengan refleks lensa tunggal.

Senimana jalanan membawakan tarian bagi pengunjung Malioboro pada malam hari, sangat fotogenik. (Dok. Me)
Seniman jalanan membawakan tarian bagi pengunjung Malioboro pada malam hari, sangat fotogenik. (Dok. Me)

Saya merenung, benar kata dia. Saya punya pengalaman menggunakan beberapa kamera dari empunya berbeda, Canon memang lebih cocok untuk memotret lanskap dan pemandangan, sementara Nikon lebih bagus untuk merekam potret kehidupan sosial.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

10 thoughts on “Ketika Punya Kamera Menjadi Trendi”

  1. kalo saya punya kamera utk belajar n mendukung tulisan di blog. awalnya cuma camdig, tapi sekarang pake dslr suami. kalo traveling jauh enakan bawa camdig ya, kalo kamera Besar agak ribet. terus kayaknya yg sering bawa kamer kemana2 klo jalan itu org Asia, kalo org barat mereka cenderung menikmati perjalanan mereka. sesekali aja motret.

    1. Dapat wawasan baru nih, keknya orang Asia cenderung narsis ya? Haha. Oh ya, camdig yang sering dipake itu kan ada tiga jenis: poket, prosumer (semi pro, hampir sama dg DSLR), dan DSLR. Camdig Kakak dulu pasti poket maksudnya kan? Sekarang yg besar, bisa salah satu dari 2 jenis terakhir. Memang, kalo pergi jauh yg melebihi 24 jam, enakan bawa kamera saku. Boleh prosumer atau DSLR jika memuatnya dalam tas khusus kamera biar aman dari penyebab kerusakan kamera.

      Pengalaman saya, capeknya pake kamera yg berbeda-beda, karena beda seri terkadang beda pula stelannya. Lagi memimpikan bisa punya DSLR sendiri. 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s