Ketangguhan Daihatsu Menemukan Surga Tersembunyi

Ketangguhan Daihatsu kembali diuji melalui ekspedisi Terios 7 Wonders. Salah satu misinya adalah membawa Terios ke Pulau Komodo. Berhasilkah? Temukan jawabannya dalam road trip Sahabat Petualang menemukan Surga Tersembunyi melalui kisah blogger berikut. 

LUCIA Nancy tak merasakan gundukan tanah di rute hari pertama petualangan Terios 7 Wonders ke Desa Sawarna, Bayah, Banten. Gadis yang disapa Uci ini tertidur pulas di kursi belakang Terios Daihatsu yang sengaja dibuat empuk.

Bertolak dari Sentul ke Sawarna bersama 23 kru Sahabat Petualang lainnya, Uci merasa beruntung karena dapat mobil nomor T7, bersama Mumun, Bambang, dan Rizky si sopir.

Bambang, Uci, Mumun, dan Rizky. Mereka di mobil T7. (Dok. IST)
Bambang, Uci, Mumun, dan Rizky. Mereka di mobil T7. (Dok. IST)

Dia leluasa menikmati rintangan yang dihadapi 6 Terios di depan. Apalagi jika ingin memotret pemandangan sebagai bonus perjalanan ekstrem, rombongannya mudah berhenti untuk jepret-jepret, tak mengganggu konvoi.

Trip terhenti setelah tujuh jam. Sore itu, 1 Oktober 2013, kali kedua Uci ke Sawarna. Adalah kebahagiaannya bisa bertutur dengan masyarakat setempat sebelum menikmati wisata ramah lingkungan di desa tersebut.

Pantai Ciantir di Desa Sawarna
Pantai Ciantir di Desa Sawarna.

Ketangguhan Daihatsu berhasil mencapai Surga Tersembunyi pertama, Desa Sawarna. Rombongan menginap. Uci sekamar dengan Mumun. Dua blogger wanita ini mendapat undangan khusus dari Daihatsu untuk ikut ekspedisi Terios 7 Wonders.

UCI hampir konyol di hari kedua road trip. Setelah menempuh perjalanan 15 jam ke Yogyakarta, fisik dan mentalnya down. Mendadak ia berpikir untuk pulang ke Jakarta. Namun ia berubah pikiran setelah mengetahui beberapa tips road trip menjelang tur hari-hari selanjutnya.

HARI ketiga, lava tour ke Desa Kinahrejo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Ini merupakan Hidden Paradise-2. Di sana rombongan disambut Tari Jathilan khas Jawa Tengah. Setelah itu menanam sepuluh ribu pohon secara simbolis di kawasan yang terkena muntahan lava Merapi.

Terios menjelajahi lava tour. (FOTO: Puput Aryanto)
Terios menjelajahi lava tour. (Dok: Puput Aryanto)

Jalan bebatuan dan berpasir dilalui tujuh sopir Terios 7 Wonders dengan sempurna. Mereka yang umumnya jurnalis otomotif mulus melintasi tanjakan dan turunan. Uci terkesan dengan Rizky sopir T7 yang ditumpanginya.

Sebenernya Terios bisa nggak sih ngelewatin medan-medan tadi kalo supirnya bukan kalian? Kalo kalian kan udah biasa offroad,” tanya Uci. “Kalo belum biasa offroad, mendingan jangan nyetir ke kawasan Merapi. Ban Terios itu di-design untuk dipake di aspal, kalo kena pasir ya jadinya licin banget, mesti pinter mainin setir dan rem. Apalagi debunya banyak, mata juga harus hati-hati. Tapi gue sebenernya juga kaget sih, Teriosnya ternyata bandel juga,” sahut Rizky yang mantan pembalap, seperti diceritakan Uci di blognya lucianancy.com

Museum Sisa Hartaku di Desa Kepuhrejo, bekas erupsi Merapi pada 2011
Museum Sisa Hartaku di Desa Kepuhrejo, bekas erupsi Merapi pada 2011.

Ada Museum Sisa Hartaku di Cangkringan yang menarik minat Uci dkk. Letaknya di Desa Kepuharjo, 5 menit dari Kinahrejo. Museum itu milik keluarga Riyanto. Ceritanya, warga setempat harus tinggal ke barak pengungsian sesaat jelang erupsi Gunung Merapi tahun 2011. Sekembalinya, Riyanto melihat semua hartanya meleleh. Jika keluarga lain membuang atau menjual hartanya, maka Riyanto mengumpulkannya untuk dikoleksi.

Uci seperti bernostalgia di museum itu. Tiga tahun lalu ia menyaksikan sendiri erupsi merapi yang juga menewaskan pemegang kunci Gunung Merapi Mbah Marijan. Sebagai relawan, ia mengaku sulit membujuk warga untuk mengungsi.

Begitu dengar cerita Museum Sisa Hartaku, ia lega. “Kalau mereka tidak mengungsi ke barak pengungsian tiga tahun lalu, mungkin museum ini tidak pernah ada,” ungkap Uci di blognya.

DARI Yogyakarta, tujuh Terios merangsek ke Malang, untuk menemukan Hidden Paradise-3, Desa Ranupani. Desa ini terletak di kaki Gunung Semeru; objek wisata paling diminati paska syuting film “5 CM”.

Rombongan tiba di Desa Ranupani ketika hari sudah gelap. Malam itu, ke-24 Sahabat Petualang dijamu makan di rumah warga Suku Tengger. Berdesak-desakan di dapur rumah yang besar menciptakan kehangatan di kaki gunung yang super dingin.

Malam sejuta bintang dari Ranupani, Kaki Gunung Semeru.
Malam sejuta bintang dari Ranupani, Kaki Gunung Semeru.

Yang berbeda saat itu, rombongan Terios 7 Wonders tidak melalui Bromo sebagaimana pengunjung biasanya. Tapi mereka berkemah di pinggir Danau Ranupani. Uci sangat senang bisa memotret “malam sejuta bintang” dengan kamera bututnya. Paginya, mereka keliling desa dengan Terios, sebelum menggapai Baluran.

TAMAN Nasional Baluran adalah Hidden Paradise-4 dalam road trip Terios 7 Wonders. Uci merasakan pengalaman pertama ke savana yang dijulukinya Africa van Java. Di sana ia bebas memotret pemandangan layaknya di Afrika:

Pepohonan kering mengapit jalan berkerikil namun rata. Rombongan rusa berlari di hamparan Savana Bekol seluas 250 km persegi. Banteng, kijang, kancil, monyet, kerbau, dan merak. Mereka bisa saja muncul di tengah padang dipenuhi semak belukar, bunga kapasan, dan pohon akasia.

Kawanan rusa di Africa van Java
Kawanan rusa di Africa van Java

Namun rombongan tiba ketika matahari sudah tenggelam. Salah satu guide menuntun mereka bersafari di Savana Bekol. Uci hanya bisa menatap kilatan mata kijang dan kerbau sebelum fokus ngobrol dengan pemandu soal Baluran.

Taman Nasional Baluran dilanda kemarau dalam kurun April-Oktober. Sangat dilarang membuang puntung rokok sembarangan, sebab rawan kebakaran. Savana Bekol akan hijau di bulan tersisa, terutama Desember-Januari. Uci melihat dedaunan hijau mulai tampak esok paginya, setelah rombongan hunting sunrise pada jam 5 pagi.

Pagi hari keenam bersama Terios itu kenangan dimana Uci serasa dalam acara Nat Geo Adventure. Kepala Produksi Syuting, Om Endi, membakar semangat rombangan beberapa saat sebelum matahari terbit. Tujuh Terios siap-siap, lantas menelusuri Savana Bekol dengan kecepatan tinggi. Laju mobil berentetan membentuk debu beterbangan. Saya bisa merasakan, benar-benar seperti menonton Nat Geo Adventure.

Terios beraksi di Savana Bekol.
Terios beraksi di Taman Nasional Baluran.

BALI, target selanjutnya, di hari ketujuh. Usai sarapan jam 10 pagi di Taman Nasional Baluran, tim berangkat. Tak sampai satu jam, mereka tiba di Pelabuhan Ketapang. Tidak sampai 60 menit berlayar, ferry yang ditumpangi Uci sudah berlabuh di Gilimanuk Harbor, dermaga yang fotogenik menurut gadis berkacamata itu. Penyeberangan yang amazing baginya.

“Selamat Datang di Pulau Dewata.” Bali hari itu sulit mengakses internet, karena sedang ada pertemuan APEC. Tujuh Terios bisa istirahat.

KONVOI dilanjutkan sehari kemudian. Uci sangat riang begitu tim tiba merangsek ke Pelabuhan Padang Bai. Cukup lima jam di kapal untuk sampai ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sisa hari dihabiskan tim untuk santai-santai karena semua Terios harus mangkir di dealer Daihatsu Cabang Mataram. Besoknya, mereka akan menggapai Hidden Paradise-5, Desa Sade Rambitan.

MATARAM cerah. Usai menjemput salah satu manajer Daihatsu di Bandara Internasional Lombok, tim bergegas ke Desa Sade, Rembitan, Lombok Tengah, sekitar satu jam dari pusat Kota Mataram. Desa ini dihuni suku Sasak yang masih melestarikan keasliannya, seperti bentuk rumah, bahasa, dan adat-istiadat.

Tari Jathilan
Tari Peresehan di Desa Sade Rembitan.

Tim disambut dengan tarian khas, salah satunya Tari Peresehan yang menyuguhkan pertarungan antara 2 lelaki dengan tongkat rotan dan perisai kulit sapi. Beberapa anggota tim bahkan diajak mencoba tarian itu. Selanjutnya mereka diajak berkeliling desa untuk mengetahui kearifan lokal setempat.

Masih di Desa Rembitan, Sahabat Petualang kemudian bergerak menuju Pondok Pesantren Almasyhudien Nahdlatulwathan. Ponpes ini mengelola beberapa sekolah. Daihatsu datang mengusung program Corporate Social Responsibility (CSR) Pintar Bersama Daihatsu, dengan memberikan bantuan berupa buku  untuk perpustakaan sekolah.

Uci dkk. dihibur dengan drama Putri Mandalika yang sangat terkenal di Lombok. Drama itu dibawakan dalam bahasa Inggris oleh murid-murid di situ, yang berperan sebagai aktor dan aktris. “Kami sendiri cukup terhibur dengan aksi mereka,” kisah blogger lainnya, Puput, di laman backpackology.me

Dua pantai tersembunyi di Lombok tak luput dari tujuan Sahabat Petualang. Dari Ponpes, mereka ke Pantai Tangsi yang dikenal Pink Beach-nya Lombok karena pepasirnya bercampur koral merah terang; letaknya di Lombok Timur. Setelah leyeh-leyeh di sana, tujuh Terios melaju hingga dua jam untuk mencapai Pantai Selong Belanak di Lombok Selatan.

Menurut Uci, jika perjalanan menuju Pantai Tangsi dikelilingi pepohonan kering nan cantik, perjalanan menuju Selong Belanak diapit bukit-bukit hijau dengan kondisi jalan aspal mulus yang berkelok-kelok.

Terios parkir di Pantai Tangsi, Desa Temeak, Kabupaten Jerowaru, Lombok Timur, sekitar 2-2,5 jam dari pusat Kota Mataram.
Terios parkir di Pantai Tangsi, Desa Temeak, Kabupaten Jerowaru, Lombok Timur, sekitar 2-2,5 jam dari pusat Kota Mataram.

DESTINASI selanjutnya adalah Dompu, sebuah kota di timur Pulau Sumbawa. Di hari kesepuluh, tim berlabuh ke Dermaga Pototano, Nusa Tenggara Barat; sekitar 1,5 jam dari Pelabuhan Kayangan. Lombok membuat Uci jatuh hati dengan desa dan pantai-pantai tersembunyi, jalan, tata kota, dan panorama pelabuhannya.

Siang dari pelabuhan, Tim menempuh perjalanan panjang. Melalui jalan dengan panorama laut di kiri dan perbukitan di kanan, hingga tiba di Kota Dompu ketika bulan sudah menggayut di langit. Mereka rehat di Hotel Aman Gati yang berlatar pantai eksotis, Lakey Beach. Esok, Hidden Paradise-6 menunggu mereka.

HARI KE-11, lokasi pertama yang dituju adalah Desa Palama Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. “Saat memasuki desa, jalur jalan cukup sempit dan berliku. Namun ketangguhan Daihatsu Terios bisa mengatasinya dengan mudah,” aku Maulana Haris, di lamannya maulanaharris.blogdetik.com.

Uci dkk. akhirnya tiba di desa yang dikenal dengan penghasil susu kuda liar. Penduduk desa ini memelihara kuda. Setiap pagi melepasnya untuk mencari makan dan pulang pada sore. Beruntung hari itu, Tim mendatangi sebuah rumah yang kebetulan kuda liar-nya sudah kembali.

Warga Palama memerah susu kuda. (Dok. Maulana Harris)
Warga Palama memerah susu kuda liar. (Dok. Maulana Harris)

Empunya kuda langsung mempraktikkan cara memerah susu kuda, mirip dengan memerah sapi. Satu gayung susu hasil perahan terkumpul. Setelah disaring, rombongan mencicipinya, menelan keraguan pada awalnya.

Tim lantas menuju Kota Bima. Road trip menghabiskan waktu berjam-jam. Jelang mulut Kota Bima, mereka dikejutkan dengan penjemputan dari saudara tua Daihatsu Terios yaitu Daihatsu Feroza, yang dibawa Daihatsu Feroza Club Bima.

Kini tujuh Terios bergandengan dengan 20 Feroza. Kehangatan merebak tatkala tiba di kota yang disambut dengan spanduk khusus berisi ucapan selamat datang. Tak lama, mereka ke Pelabuhan Sape, sebab harus mengejar waktu ke Labuan Bajo untuk mencapai Hidden Paradise-7, Pulau Komodo.

Kesedihan tercipta di Pelabuhan Sape. “Kami harus berpisah dengan para driver yang sudah mengantar kami dari Sentul, Bogor hingga tempat ini. Termasuk meninggalkan 6 buah Daihatsu Terios dan akan kembali ke Jakarta. Tim hanya menyisakan 1 buah Daihatsu Terios yang rencananya akan dibawa hingga Pulau Komodo,” cerita Maulana Harris di lamannya.

Hari ke-12, Tim Daihatsu Terios 7 Wonders menyumbang 7 ekor kambing kurban kepada perwakilan pengurus masjid dekat penginapan mereka. Pagi itu dari Hotel Luwansa dengan latar Pantai Pede, Tim dibagi dua kelompok.

Kegiatan sosial dalam road trip, Daihatsu sumbang kambing kurban ke warga. (Dok. Maulana Harris)
Kegiatan sosial dalam road trip, Daihatsu sumbang kambing kurban ke warga. (Dok. Maulana Harris)

Lima blogger laki-laki, 2 orang dari media, satu dari Daihatsu, menggunakan kapal Phinisi Playaran. Sedangkan Uci dan Mumun, media dan tim Daihatsu lainnya menggunakan kapal phinisi Blue Dragon. Dua kapal itu berlayar bersisian menuju lautan sekitar Pulau Komodo.

Kapal Phinisi Playaran adalah sebuah kapal tradisional jenis phinisi yang dilengkapi mesin. Saat mesin digunakan, layar ditutup. Ada 6 (enam) tempat tidur untuk penumpang dan di atasnya ada sundeck untuk melihat pemandangan dan berjemur.

Serunya, malam itu berlangsung pertandingan sepakbola U-19 antara Indonesia melawan Korea Selatan. Usai menyelam di peraiaran sekitar Pulau Bidadari, kelompok Phinisi Playaran kembali ke Labuan Bajo. Mereka nonton bareng. Indonesia pun menang 3-2! Sepakbola menciptakan keakraban dengan orang-orang pelabuhan. Kemudian mereka tidur di kapal Plataran sambil diayun ombak kecil, Maulana tak tahu Blue Dragon rehat dimana.

PULAU Komodo, akhirnya mereka menggapai destinasi terakhir pada pagi ke-13. Kapal Plataran lebih dulu tiba. Disusul Dragon Blue jelang siang. Mereka kemudian menikmati eksotisnya Pink Beach sebelum melihat-lihat komodo.

Pink beach dari bukit. (Dok. Maulana Harris)
Pink beach dari bukit. (Dok. Maulana Harris)

Dan satu, apakah Terios benar-benar akan berlabuh ke Pulau Komodo? Jika ya, maka Daihatsu menjadi brand mobil pertama yang mendarat di Pulau Komodo. Usai mengekspresi diri di pantai berpasir merah jambu dan bebukitan, mereka akhirnya melihat satu Daihatsu Terios terikat di belakang kapal barang, sedang merapat ke Dermaga Pulau Komodo.

Horeee! Misi utama membawa Terios ke Pulau Komodo berhasil. Namun mobil tersebut tak diturunkan ke dermaga bahkan tak dihidupkan, karena takut mengganggu ekosistem di Taman Nasional ini.

Terios ini akhirnya tiba di Pulau Komodo. (Dok. Maulana Harris)
Terios ini akhirnya tiba di Pulau Komodo. (Dok. Maulana Harris)

Beberapa ABK cukup takjub dengan kehadiran mobil di Pulau Komodo karena selama ini tidak pernah ada mobil yang sampai di dermaga ini. Jadi bisa saja ya Daihatsu Terios ini masuk MURI sebagai mobil pertama yang merapat di dermaga Pelabuhan Pulau Komodo,” lapor Maulana.

Tim kemudian menuju Loh Buaya, salah satu spot masuk Taman Nasional Komodo di Pulau Rinca. Dikawal seorang ranger, mereka trekking mengelilingi taman nasional, melihat-lihat komodo. Tatkala memotret komodo yang muncul, tim bagai kru wartawan memburu artis.

Mereka juga berkesempatan ke Pulau Kalong. Keindahan pulau itu baru terasa setelah matahari tenggelam. Ribuan kalong (kelelawar) terbang ke arah Labuan Bajo. Fenomena itu berlangsung setengah jam. Tim lantas kembali ke Labuan Bajo. Petualangan telah berakhir.

Uci dkk. benar-benar menemukan petualangan baru, selaras dengan slogan Terios: “Discover The New Adventure”. Daihatsu pun menjadi pionir menemukan tempat-tempat tersembunyi di Indonesia yang berpotensi wisata. Jika saja saya terlibat dalam petualangan serupa, saya mengakui, Daihatsu tidak hanya nyaman untuk mobil keluarga, tapi juga cukup tangguh untuk berpetualang![]

Bukti Follow Makmur oke

Bukti Shortlink Makmur

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

14 thoughts on “Ketangguhan Daihatsu Menemukan Surga Tersembunyi”

  1. Daihatsu memang cocok diajak bertualangan, mobilnya bisa menjangkau jalan-jalan tanpa aspal, mobil yang sesuai untuk semua aktivitas.
    Keren-keren ya bentuk Daihatsu sekarang, suka desainnya Daihatsu Terios ini

    1. Yap, ekspedisi itu cukup menyatakan pada pecinta/penikmat otomotif, kalo Daihatsu Terios memang layak di segala medan. Desaian Terios juga menarik kalo dibawa jalan bareng keluarga. 😀

      1. Aku ada kenal 1 orang yg masuk nominasi juga tuh. Blognya Dansapar.com. Kalau ketemu nanti di sana, saling kenalan aja. Blogger berprestasi tuh, kalian bisa minta ilmu dari dia ntar..

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s