Pasar Buah Peunayong, Salah Tata?

Minggu pagi 1 Desember 2013. Saya dan owner Rumoh Aceh tempat saya tinggal, Bang Rahmad, berkelana ke Pasar Peunayong, Banda Aceh. Bukan untuk belanja. Tapi ingin mencari sesuatu yang mungkin orang tak banyak tahu terkait permasalahan sosial di situ.

Saya sering melintasi Pasar Peunayong dengan motor dan tampak biasa-biasa saja. Pagi itu, usai sarapan di sebuah warung dekat Jembatan Peunayong, kami jalan kaki. Hal yang tak biasa mengetuk daya pikir: o ternyata, di pasarlah hadih maja “jak ube lot tapak, duek ube lot punggong” secara harfiah berlaku.Rindu Difoto

Pepatah Aceh itu sepertinya melekat erat pada keramaian pasar. Pedagang duduk sebatas muat pantat di antara barang dagangan dan pembeli berjalan pelan sebatas muat tapak kaki yang melangkah di antara kerumunan.

Ada tawa menggoda di sela-sela Nyak-nyak menjaja telur di emperan kedai sebelah Pasar Ikan Peunayong.
Ada tawa menggoda di sela-sela Nyak-nyak jaja telur di emperan kedai sebelah Pasar Ikan Peunayong.

Salah satu spot menarik adalah Pasar Buah & Sayur Peunayong di Jalan RA Kartini. Letaknya agak tersembunyi. Dari gerbang keluar Pasar Ikan dan Daging Peunayong, kami seberangi jalan dipayungi langit abu-abu, lurus sampai dapat jalur ke kiri. Berjalan sejenak, tampak bangunan tiga lantai yang kosong, di balik jejeran view terpal biru yang menutupi lapak-lapak.Bocah Difoto

Awas MurPemko Banda Aceh barangkali berniat baik membangun sarana peningkatan perekonomian masyarakat itu melalui bantuan NGO CSR pascatsunami. Namun ia tak dipakai ratusan pedagang. Hingga suatu minggu setelah Ramadhan 1434 Hijriah, seluruh pedagang didesak berjualan di Pasar Buah & Sayur Peunayong.

Hei, hei.. di samping nama Pasar Buah & Sayur Peunayong, sudut yang mantap membidik jitu.
Hei, hei.. di samping nama Pasar Buah & Sayur Peunayong, sudut yang mantap membidik jitu.

“Hanya bertahan seminggu,” cerita Ibrahim, penjaja sayur-mayur. “Pasar baru itu tak cukup menampung ratusan pedagang disini,” ujarnya.

Menurut dia, waktu itu sebagian pedagang pindah ke sana. Tapi lebih banyak yang harus jualan di luar, di lapak biasa. Cek-cok antarpedagang lebih laku dibandingkan dagangan mereka. “Daripada deuek aneuk di rumoh, akhe jih sepakat meukat di lapak awai,” ungkap pria asal Lhokseumawe itu bahwa daripada anak-anak mereka kelaparan, mending jualan di tempat semula.

Kiban tamukat sinan, kon diilanya ureueng tuha,” tutur seorang pedagang wanita paruh baya ketika ditanyai Rahmad, bahwa pasar bertingkat itu terkesan menganiaya pedagang berusia tua. Mereka tak sanggup naik-turun. Begitupan keluh seorang wanita yang jualan di Pasar Peunayong semenjak tamat SMA, “Okelah kita naik ke sana, tapi barang dagangan ini siapa yang angkat?”

Kesulitan dapati daun pisang di Banda Aceh? Pasar ini lengkap menawarkan kebutuhan sehari-hari.
Kesulitan dapati daun pisang di Banda Aceh? Pasar ini lengkap menawarkan kebutuhan sehari-hari.

Saya menyimpulkan, tata ruang wilayah atau kota juga butuh ilmu. Perlu perencanaan dan analisis yang cermat sebelum membangun fasilitas publik. Uang melebur sia-sia jika posisi gedung tak strategis, semanis apapun bentuknya.

Warnai-warni pengunjung  di ruas lapak. Foto dari depan lantai tiga Pasar Buah & Sayur Peunayong.
Warna-warni pengunjung di ruas lapak.
Tanya harga dari atas motor, uhhh, kurang menghargai pedagang.
Tanya harga dari atas motor, uhhh, kurang menghargai pedagang.
View pasar tersalup terpal biru di belakang gedung Pasar Buah & Sayur Peunayong.
View pasar terpal biru di belakang gedung Pasar Buah & Sayur Peunayong.
Tawar-menawar, salah satu budaya masyarakat Indonesia saat belanja.
Tawar-menawar, salah satu budaya masyarakat Indonesia saat belanja.
ATAS: Bang Rahmad membidik dari lantai dua Pasar Buah & Sayur Peunayong. BAWAH: Kena deeeh!
ATAS: Bang Rahmad membidik dari lantai dua Pasar Buah & Sayur Peunayong. BAWAH: Jepret..! Kena deeeh!
ATAS: Saya difoto pakai lensa white (cembung), tadi saya foto Bang Rahmad pakai lensa tele (jauh). BAWAH: Lantai dua Pasar Buah & Sayur Peunayong. FOTO/Rahmad
ATAS: Saya difoto pake lensa wide (lebar/cembung), tadi saya fotoin Bang Rahmad pake lensa tele (jauh). BAWAH: Lantai dua Pasar Buah & Sayur Peunayong. FOTO/Rahmad

Dalam sebuah artikel situs online, Atjeh Link, disebutkan, Pasar Buah & Sayur Peunayong masih bermasalah dengan statusnya: hak pakai dan sewa-menyewa. Itulah salah satu penyebab lain pedagang enggan jualan di sana. Akhirnya, pasar tersebut menjadi sudut yang menarik untuk saya memotret. 😀 []

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

15 thoughts on “Pasar Buah Peunayong, Salah Tata?”

    1. Barangkali orang kita memang gamau diatur Kak, sukanya nurut pikiran sendiri. Tapi walo gimanapun, merekalah (pedagang) yang membuat orang2 se-Banda Aceh mudah memenuhi hajat makannya dari sini. 😀

      1. iya…semua ada disitu. murah lagi. apalagi yang di gerai di jalan. pagi2 sebelum satpol pp datang, harganya lebih murah. kangkung satu okay Besar cuma seribu

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s