Pidie Kriet? Sebuah Prasangka

Saya tidak sedang menyalakan perang antaretnis. No SARA. FYI, cuma coba mengetengahkan perihal penyakit sosial dan solusinya. Tentu berdasarkan pengalaman saya dan teori sosial. Harap positive thinking. πŸ™‚

PIDIE K, G A

SUATU hari di awal 2010. β€œKe Aceh Selatan?” keluarga berat beri izin saya bergabung dengan tim bakti sosial kampus. Namun setelah menjelaskan tujuan, mereka memaklumi meski was-was.

β€œBek sampe han jeut kawoe le, Mur,” ingat seorang kawan; khawatir kalau saya tidak akan kembali dari daerah penghasil pala itu. Tapi saya yang masih semester dua saat itu tak luluh hati sedikit pun, sebab tujuan saya hanyalah mengadakan dan mengikuti kegiatan sosial bersama senior dari badan eksekutif kampus.

Pos kami di Gampong Pucok Krueng, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan. Dua minggu di sana cukup menyenangkan. Kegiatan seperti mengaktifkan TPA, try-out ujian akhir, serangkaian lomba, mengajarkan tari, dan pelatihan. Saya di tim dokumentasi.

Anak-anak Pucok Krueng, menanti giliran pada lomba azan. Keceriaan hasil keberagaman.
Anak-anak Pucok Krueng, menanti giliran pada lomba azan. Keceriaan hasil keberagaman.

Di mana teror tadi? Tidak ada. Kecuali saya hanya dengar dari seorang tetua: β€œDulu memang kental di sini, tapi kemudian seiring perkembangan zaman, hal itu tidak marak lagi, kecuali ada pendatang yang bikin ulah di daerah kita.” Saya lega.

Ancaman serupa saya rasakan sebelum pergi ke Aceh Barat Daya pada Mei 2011 dan Meulaboh pada 2012. Tapi setelah di sana, biasa-biasa saja. β€œTapi jangan menonjolkan diri di depan warga, bersikap biasa saja,” saran kawanku. Bergaul sewajarnya.

Kukira sudah lenyap. Ternyata, jelang ke Banten pada Agustus 2013, saya dengar lagi: β€œAwas yang ganteng, tar ga pulang lagi,” gurau kawan. β€œNyan Makmur han jeuet diwoe le enteuk,” saya ditakut-takuti. Tapi saya tidak takut. Terbukti, saya cukup nyaman selama di provinsi pemekaran Jakarta.

PRASANGKA sosial merupakan sikap perasaan orang-orang terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan yang berbeda dengan golongan orang yang berprasangka itu. Demikian tulis DR. WA. Gerungan, Dipl. Psych. dalam bukunya Psikologi Sosial.

β€œPrasangka sosial yang pada awalnya hanya merupakan sikap-sikap perasaan negatif itu lambat-laun menyatakan dirinya dalam tindakan-tindakan diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk dalam golongan-golongan yang diprasangkai itu tanpa alasan-alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenai tindakan-tindakan diskriminatif,” tulisnya. (WA. Gerungan, 2004: 180).

Misal seorang yang berasal dari Kabupaten Pidie. Prasangka awal kepadanya oleh sebagian orang yang baru menjumpainya adalah kriet (pelit). Itu karena prasangka sosial β€œPidie kriet” telah lama dikumandangkan oleh orang-orang yang tak melihat secara nyata kejadian sebenarnya; tidak objektif.

Hal sama diprasangkai sebagian orang Aceh bagian timur kepada sebagian orang Aceh bagian Barat Selatan, seperti contoh di atas. Padahal setelah bergaul secara wajar, saya tak menemukan prasangka negatif alias suuzon itu.

Berprasangka sosial dapat menghambat, merugikan perkembangan, bahkan mengancam kehidupan pribadi orang-orang hanya karena mereka kebetulan termasuk golongan yang diprasangkai itu.

Tak ada manfaatnya mencap orang ini-itu. Kalau memang beda dari segi budaya dan sikap, menghargainya adalah pilihan yang tepat. Misal dalam pandangan saya, Pidie kriet itu sebenarnya berawal dari kisah orang Pidie yang gemar menghemat, karena sisa hartanya digunakan untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.

ADA stereotip di samping prasangka sosial. Menurut Gerungan, stereotip adalah pandangan atau tanggapan berdasarkan keterangan-keterangan yang kurang lengkap dan subjektif.Β  Terbentuk pada orang yang berprasangka sebelum orang itu berkesempatan bergaul sewajarnya dengan korban prasangka.

Prasangka, stereotip, suuzon, brok sangka, negative thinking adalah penyakit sosial yang perlu dibuang jauh-jauh jika ingin maju dalam menjalani kehidupan. Tak ada gunanya membahas perbedaan orang lain tanpa diiringi tujuan baik.

Jika kemudian ada orang yang mengatai saya, β€œO hai Pidie kriet,” go ahead! Lantas saya menyahut dengan senyum sebagaimana pernah kulakukan, β€œsaya bangga bisa mempertahankan karakter daerah.” Itu saja.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

18 thoughts on “Pidie Kriet? Sebuah Prasangka”

  1. Saya dari Meulaboh, udah beberapa tahun tinggal di kota Banda Aceh. Dan punya teman dari beberapa daerah di Aceh…
    Rata-rata komentarnya selalu saja sama pas awal perkenalan, “Meulaboh itu ngeri ya?” “Orang Meulaboh suka pake guna-guna ya?”. Duh, saya yg di Meulaboh aja ga pernah tuh ketemu sama hal-hal “ngeri” yg kayak gituan. Haha. Perasaan, ga hanya di Meulaboh, bahkan di tempat lain pun kemungkinan hal-hal buruk seperti itu jg bakalan ada kan. Oalah…:))

    1. Nah, orang pribumi komen nih. Benar kan ga ada yg gituan, orang2 sih yg gemar mengikuti prasangka orang lain. Gimana pendapatmu dg penjelasan saya di postingan ini? πŸ˜€ #salamkenal

      1. Dibilang ga ada, ya ga mungkin juga kan. Soalnya belum pernah ketemu langsung sama yg punya ilmu gitu2an. Tapi yg punya ilmu putihnya sih ada, banyak. Biasanya buat ngobatin atau ngerajah penyakit. Dan itu ga cuma di Meulaboh aja, di semua tempat kayaknya jg ada.

        Yaaa, prasangka itu sebenarnya wajar saja, kalau belum begitu kenal sama suatu hal. Itu kan juga bagian dari penetrasi sosial, ketika kita mencoba mengenal sesuatu. Kalau input yg didapat itu baik, ya bakal jadi prasangka baik. Kalau dapat yg buruk, ya buruk jg prasangkanya. Tergantung seberapa kualitas n kuantitas informasi yg didapat.
        Tapi ya jangan berlebihan aja, sampai2 harus berprasangka buruk. Bisa-bisa gagal komunikasi ntar. Hehe..

        salam kenal kembali πŸ™‚

      2. Saya dengar2 sih ada, tapi bukan untuk merusak hubungan sosial, istilah keren netizen: For Your Infomation, hehe. Kalau yg ilmu putih, seringnya dikenal “ilmu rajah”, hampir ada di semuah wilayah di Aceh memang; dan bagus untuk pengobatan di kampung2.

        Yang paling berbahaya dari prasangka itu komunikasi berantai. Seseorang yg dapat informasi tertentu dr seorang yg tidak pasti peroleh sumbernya dimana, mengatakan pd orang selanjutnya yg dijumpai. Proses itu terus terjadi hingga kualitas informasi makin jauh makin sedikit. Nah, orang2 di penghujung ini yg kerap menyuburkan prasangka buruk. Mereka ini sulit percaya pd informasi yang sebenarnya jika kita arahkan agar tak berburuk sangka. Semoga “mereka ini” cepat terbuka pikiran. πŸ˜€

  2. orang pidie kriet , sama kayak orang padang ! , hahaha . ini yang paling sering saya dengar .
    saya hanya prihatin dgn orang yg mengeluarkan prnyataan ini .. betapa menyedihnya dia , zaman sudah berkembang tapi pemikiran masih terbelakang .. hehe

    Sesama Indonesia , knapa kita tidak menyediakan waktu luang utk menghargai perbedaan dan bercanda utk tertawa sejenak πŸ™‚

    1. Cina-Pidie-Padang, memang banyak kesamaan. Cina pedagang dunia, Pidie dan Padang pedagangnya di Sumatera (bahkan Indonesia), ya meniru Cina tentunya. Tapi yg perlu dibahas disini, prasangka sosial itu masih mekar layak tanaman di musim hujan, terutama oleh orang-orang yg belum terbuka mindsetnya. Seharusnya, menghargai perbedaan itu lebih baik untuk masakini. Ibaratnya, menyiram bunga di taman bareng keluarga dengan air sumur atau sungai, bukan menunggu hujan turun. πŸ˜€

  3. Kalau ada stereotype yang bagus sih gak apa-apa ya. Tapi kalau yang jelek-jelek, ya tugas kita untuk menghilangkan stereotype negatif itu dengan cara selalu bersikap positif πŸ˜€

    1. Anda sangat dewasa, hehe. Positive thinking itu bagus. Saya ingat kata seorang pakar hipnoteraphy Indonesia, “Pikiran menciptakan dunia. Pikiran yang baik menciptakan dunia yang baik, sedangkan pikiran yang buruk menciptakan dunia yang buruk.” So, pilih yg gimana?? πŸ˜€

  4. biasanya yang mudah percaya hal seperti itu juga percaya sama:

    – hantu kojek
    – ma’op
    – hantu belau

    alias tahayul …
    \
    komen ini dimaksudkan agar kita saling mengingatkan … πŸ™‚

    1. Haha, ya saya baca statusmu di FB, kira2 begini: “kamu dari Aceh Selatan, pasti ada ‘oleh2’ ya” Santai aja, Bro. Kalau bisa jelaskan ke orang “penganggap” itu tentang daerah kita. jangan biarkan orang itu mendengar dari orang yg tak jelas. πŸ˜€

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s