Memulai Kebahagiaan di Kampung Legok

Apakah di taman rumahmu ada sekolah? Kalau tidak, mari ke Taman Bahagia. Tak hanya bermain sambil belajar, siap-siaplah diterapi jika mau bahagia.”

Villa Samanggen“KI Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa, filosofinya, pendidikan harus diberi kebahagiaan.” Ungkapan ini terdengar dari sebuah ruangan Villa Samangen. “Dan kebahagiaan itu ada di taman.” Suara lelaki berumur 41. “Tapi Indonesia kemudian mengubahnya jadi Sekolah Dasar.” Kalimat penegasannya menghangatkan suasana pagi di daerah pegunungan.

Ya, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat memperkenalkan Taman Siswa pada tahun 1922, untuk melawan pembodohan rakyat Indonesia oleh kolonial Belanda. Semua bisa menimba pendidikan di Taman Siswa. Tak pandang bulu.

Tujuh tahun kemudian, umurnya 40 tahun, dia ganti nama: Ki Hajar Dewantara. Alasannya, menghilangkan gelar bangsawan dapat lebih dekat dengan rakyat. Terkenallah ia sebagai Bapak Penddikan Nasional dan hari lahirnya, 2 Mei, dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hajar salah satunya memperkenalkan konsep ‘belajar tiga dinding’, yaitu tidak ada batas atau jarak antara dalam kelas dengan realita di luar. Belajar bukan sekadar teori dan praktik di sekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia. Sebab itulah dicetus Taman Siswa.

Namun kini, taman kian mengecil pada halaman sekolah-sekolah formal di Indonesia. Sumber kebahagiaan pun terancam punah. Sekolah alternatif menawarkan solusi. Lelaki tadi lantas mencetus Taman Bahagia menjelang berakhirnya 2013.

“Kita ingin membalikkan keadaan: di taman ada sekolah, bukan sekolah ada taman,” tegas ayah tiga anak ini. Dia mencontohkan kisah orang ternama yang memetik pendidikan di taman rumah sendiri. Misalnnya dalam film atau dongeng kekaisaran. Anak raja selalu bermain di taman. “Contoh terdekat, Shaolin itu kan belajar kungfunya di taman rumah,” sebutnya.

Saudara Bleur dari Bandung, ceria di teras bersama anak-anaknya.
Saudara Bleur dari Bandung, ceria di teras bersama anak-anaknya.
Teras didesain untuk pendidikan keluarga dan anak-anak.
Teras didesain untuk pendidikan keluarga dan anak-anak.
Kebahagiaan tampak dari lantai dua.
Kebahagiaan tampak dari lantai dua.

Menurut trainer sugesti NLP ini, anak-anak yang belajar di Sekolah Dasar lebih sering menggunakan otak kiri, sementara otak kanannya kaku sehingga tidak kreatif. Tapi di taman, dengan beragam permainan, otak kanan bekerja.

TAMAN Bahagia berada di Villa Samangen. Terletak di Kampung Samanggen, Kecamatan Wanaraja, Garut, Jawa Barat. Hanya dua puluhan menit menumpangi angkot dari Terminal Guntur.

Bila memandangnya dengan tatapan sejajar, lantai dua rumah itu terlihat menonjol dibanding rumah penduduk lainnya; berkonstruksikan kayu. Ada ruangan aula, musala, kelas belajar, dan kamar mandi di bagian utara. Turun ke bawah atau basement, teras menyambut tamu di depan ruang utama.

Aula di lantai dua untuk kegiatan pelajar dan pemuda.
Aula di lantai dua untuk kegiatan pelajar dan pemuda.

Lantai dasarnya permanen. Batu-bata dibiarkan menonjol tanpa diplaster. Kedua pintu utama mengusung gaya Negeri Sakura. Membukanya seperti menyobek kertas.

Tugu perapian, kumpulan majalah di meja, ayunan menggayut, menghadap kolam renang untuk anak-anak. Beberapa tanaman dan bunga menghiasi halaman yang bersisian dengan kolam ikan besar di bagian timur.

Kolam besar berisi ragam ikan, milik orangtua Bleur. Disinilah dibuat arena outbond.
Kolam besar berisi ragam ikan, milik orangtua Bleur. Disinilah dibuat arena outbond.

“Kolam ini nantinya kita buat outbond,” kata… “sebut saja nama saya Bleur, nama saya saat melukis di masa muda,” dia tak mau dipublis nama aslinya.

Wow! Lukisan abstrak menempel dari teras, ruangan lesehan, hingga pada dinding ruang utama sepanjang koridor menuju taman belakang. “Lukisan-lukisan itu saya buat sendiri,” bebernya.

Lukisan pada dinding, tampak dari jendela kamar tamu. Konon, Bleur membayai kuliahnya dari hasil melukis.
Lukisan pada dinding, tampak dari jendela kamar tamu. Konon, Bleur membayai kuliahnya dari hasil melukis.

Di mulut koridor, lubang air mengalir deras ke kolam ikan kecil. Tiada henti, bagai air terjun. Bisa untuk berwudhu. Berbagai jenis ikan mas menari-nari dengan ikan nilem di kolam kecil yang memisahkan lesehan dan koridor.

View koridor dari lantai dua.
View koridor dari lantai dua. Di kolam kecil itulah pengunjung bisa terapi ikan.

Siapapun bisa duduk di bibir kolam ikan atau di tepi lesehan. Menceburkan kedua kaki. Ikan-ikan nilem seukuran jari akan mengerubungi. Menggigit kulit yang ditengarai mengandung jamur sumber penyakit. Bagai disengat listrik awalnya, kemudian terasa geli.

Empat kamar tamu berjejer setelah lesehan. Terhubung ke dapur dan toilet umum di antara ruangan  terapi yang masih dalam pembangunan. Beberapa kolam kecil memenuhi separuh halaman belakang. Di bagian belakang ini kelak dibikin arena bamboo bridge. Juga disediakan panggung untuk camping ground di bibir kolam ikan besar pada bagian kanan.

Sarapan di taman halaman belakang. Beberapa kolam ikan sedang digarap.
Sarapan di taman halaman belakang. Beberapa kolam ikan sedang digarap. FOTO: Bleur.

Sedikit ke kanan, tepatnya di perbatasan taman dengan kolam besar,  ada saung makan bersama di bibir kolam besar halaman belakang. Usai makan atau di sela rehat, kamu bisa menghirup sepoi angin pegunungan Garut di ayunan yang meggayut pada saung.

Makan bersama di saung pinggir kolam.
Makan bersama di saung pinggir kolam.
Selain nyantai di siang hari, kamu juga dapat menanti sunrise dari ayunan di waktu pagi.
Kamu juga dapat menanti sunrise dari ayunan di waktu pagi, dengan rebahan menghadap timur sembari membaca buku.

Semua fasilitas itu, mulai Januari 2014, digunakan untuk menjalankan Taman Bahagia. Dindin, Ketua Taman Bahagia, menjelaskan, sementara akan ada dua aktivitas. Pertama, Taman Bahagia untuk pendidikan anak usia dini dan keluarga. Kedua, Pesantren Mahasiswa untuk kegiatan mahasiswa. Peserta diberikan fasilitas gratis. Bagi komunitas yang mau bikin kegiatan, disediakan aula bebas biaya, termasuk blogger.

Dua aktivitas di villa perpaduan tradisional dan urbanisme yang Bleur desain sendiri itu bertujuan membahagiakan bangsa. “Bangsa yang bahagia bukan dibangun dengan uang, tapi dengan peradaban,” sebut Sarjana Pendidikan itu. Mengubah karakter bangsa mesti dimulai pada anak-anak.

“Kita memulai Taman Bahagia dengan membahagiakan anak-anak usia dini dari Samangen. Sementara untuk Pesantren Mahasiswa, nantinya akan ada kajian rutin bagi mahasiswa.” Pendidikan yang dibentuk disini adalah membangun social capital dan human capital.

Di sisi lain, sebagai seorang trainer sugesti alam bawah sadar (neuro-linnguistic-programming/NLP), ia bersedia memberikan terapi sugestif bagi siapa saja yang ingin mendapatkan kehidupan baru menuju kebahagiaan. “Kalau dia sudah minta, saya akan kasih terapi,” ujarnya.

Ruang terapi NLP dalam proses penataan.
Ruang terapi NLP dalam proses penataan.

Bleur menabur cita-cita di Samanggen sebelum ke tempat lainnya. Sehingga, ketika orang-orang mendatangi kampung yang dulu bernama Kampung Legok itu, mereka akan menuai kebahagiaan. Ketika mereka pulang pun, semangat Taman Bahagia ditebarkan di berbagai daerah lainnya.

Dengan demikian, harapnya, Samanggen kelak patut menanam gapura “Selamat Datang di Kampung Legok. Temukan, cari, dan ciptakan kebahagiaan di Taman Bahagia” di pintu masuk kampung itu.

Kelak jika Taman Bahagia sudah ada di setiap provinsi, dengan visi ‘orang Indonesia harus saling membahagiakan’, maka tertuai cita-cita: berbahagialah Indonesia. Amiin.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

13 thoughts on “Memulai Kebahagiaan di Kampung Legok”

    1. Iya, Kak, saya setuju. Bleur itu asli Bandung namun pilih bangun villa di daerah tetangganya, Garut. Haha, saya baru ingat, ya, “leughok”. Lon galak leughok Mak peuget apalagi dipotong2 dan dibubuhi kelapa parut, enaknyaa 😀

    1. Alhamdulillah, barangkali karena saya mendapatkan kebahagiaan di sana, hasil jepretan pun ikut berbahagia. Hehe. Datang saja, silakan buat aktivitas di Taman Bahagia, gratis kok. 😀

    1. (Dua foto itu kalo ikutan lomba bakal masuk favorit x yak, haha) Pasti Bang, saya kalo ada kesempatan, akan kesana lagi. Kegiatan di Villa Samangen akan terlihat mulai 2014. Halaman yg luas dg beragam wahana bermain, cukup memanjakan peserta kegiatan di sana. 😀

  1. ish, bahagia kali anak-anak itu ya. bisa belajar, bermain, dll. tapi ada satu yang kurang, mereka ngga punya sungai dan sawah. kalau kakak dulu selain bisa main-main di sekolah, bisa juga berkubang di sawah di depan sekolah atau mandi di sungai yang ngga jauh dari sanaa

    1. Hmmm,sungai ga ada memang. Tapi kata mereka, kalau mau menikmati pantai, ada di Garut bagian selatan. Kalau sawah, membentang luas di belakang kompleks Vila Samangen. Tunggu postingan saya ttg tamasya di sawah. 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s