Ngekos di Rumah Sakit

Pasien Berdesakan

KAMBING makan rumput di halaman depan ruang Penyakit Dalam Pria. Pria dengan inpus duduk bersandar pada tiang penyangga koridor menuju ruangan itu. Saya masuk kamar PT I. Ada tujuh ranjang. Ayah paling tengah. Ranjang di sampingnya kosong tapi kelihatan sedang dipakai.

Sekedip mata, pria dengan inpus tadi masuk dan merebahkan diri disitu. Muhammad Amin, warga Geulumpang Minyeuk. “Suuem that di dalam/Panas sekali di dalam,” ungkapnya. Dua kipas angin di dinding tak cukup mendinginkan ruangan. “Makanya saya cari angin di luar,” tegasnya.

Kambing di pelataran depan ruang Penyakit Dalam Pria. Gedung dalam foto ini belum difungsikan.
Kambing di pelataran depan ruang Penyakit Dalam Pria. Gedung dalam foto ini belum difungsikan.

Malam menyelimuti kompleks RSUD Sigli awal Januari. Kepala Amin tenggelam di bantal yang disandarkan pada kepala ranjang. Kepala istrinya jatuh di bantal yang diletakkan pada kaki ranjang. Di ranjang samping mereka, Zulkarnaen dan istrinya Totiyana tidur searah dalam ranjang yang sama. Apakah Ayah dan Mak saya juga tidur seranjang?

Istri adalah pendamping suami nomor satu jika suami mampu menjadikan istrinya sebagaimana dia. Istri tergantung suami. Tapi Ayah merasa tak perlu ditemani dalam satu ranjang tidur. Kalau pun ia mau, takkan terwujud. Mak berbadan tambun meski mulai susut dimakan usia.

Dari kaki ranjang Ayah, saya melihat Mak tidur di kaki dinding kamar. Berjejer dengan keluarga pasien lainnya. Jarak antara mereka dengan ranjang hanya cukup seorang melangkah. Sejak pagi sampai waktu berkunjung tamat, tikar terpaksa digulung setengah jika ada perawat yang hendak penuhi kebutuhan pasien atau penghuni kamar yang ingin ke kamar mandi.

Bau tak sedap menyebar tajam dari kamar mandi. Lumut tumbuh subur di sela-sela keramik lantai. Bikin licin. Saya harus menemani Ayah ketika ingin buang air. Keluarga pasien lain juga demikian, kecuali Amin. Dan kami mesti hati-hati sekali supaya tak terpeleset. Baunyaaa.. Tapi saya tak jijik sebab ingin terbiasa siap dengan segala kondisi.

“Sudah tiga kali saya ingatkan mereka, entah kapan bersih,” Mak mengeluh.

Sejak Ayah dirawat di sini, Minggu siang, Mak tiga kali mengingatkan perawat dan petugas kebersihan. Namun kamar mandi masih juga tampak tak terawat di hari berikutnya. Ketika pintunya ditutup, bau sedikit hilang. Seketika aroma lain datang. Kadang seperti bau ikan asin masuk dari luar kamar PT I. Sesekali dari pasien yang tak bisa kena air.

“Ranjang ini ada pasien?” perawat kaget melihat ranjang kosong berpapan nama M Amin.

Serentak kami sahuti, “dia sedang cari angin!” Gadis itu masih penasaran, “dia ada pasang inpus?” Kami mengangguk. Dia pergi. Dan dia merepet ketika hari berikutnya mendapati gambar yang sama lalu berseru, “Bapak nyan sabe di lua/Bapak itu selalu di luar!”

Ha-ha.

Amin, dengan mengacungkan inpus, masuk sejenak usai gadis seragam putih itu berlalu. “Sabe payah ditueng lee dara baro/Selalu harus dicari dara baro,” celoteh Zul, dengan bermajas. (Daro baro dimaksudkannya gadis perawat, bukan pengantin baru). Amin menyungging senyum. Senyumnya makin berkembang esok pagi ketika dokter spesialis penyakit kulit bilang, “Bapak sudah bisa pulang besok ya.”

Kebahagiaan di wajah istrinya seirama dengan sinar mentari pagi itu. Sementara kami merasa akan kehilangan teman. Setiap pasien sekamar yang divonis pulang adalah perpisahan. Sesama pasien dan keluarga bagai saudara dekat. Saling berbagi cerita dan saling memberi semangat. Dekat sekali. Tak terduga, istri Zul adalah teman SMP Mak saya; mereka bertemu di rumah sakit setelah 40 tahun berpisah.

Hanya sebentar muka istri Amin bahagia. Kecemasan mengerubungi wajah perempuan itu pada malamnya. Sang suami menggigil; meringis. Dia mengusap-usap kaki suaminya yang ditumbuhi bisul.

“Semalam di bagian dalam kakinya bagai digerogoti tikus, lalu lebam-lebam menyebar ke seluruh tubuh,” ucapnya dalam bahasa Aceh pada dokter esok pagi. “Bapak menggigil bukan karena demam, tapi karena sakit di dalam kaki ini,” dia gelisah.

“Saya tak berani kasih pulang kalau begini,” tegas dokter, membatalkan keputusan kemarin pagi.

Amin tak lagi segagah beberapa hari yang lalu. Saya tak lagi menyapanya di koridor. Ekspresinya mengerikan di ranjang yang terus ditemani sang istri.

Siang itu, Zul mengusulkan, Amin mesti diberi ubat gampong. Pisang dicampur nasi putih. Mak saya baru saja buang dua pisang ayam karena sudah lembek. “Tidak apa-apa, dagingnya kan masih bagus. Ambil saja lagi,” perintah Zul.

Istri Amin mengutipnya dari tong sampah di sudut ruangan. Atas panduan Zul, dikupasnya pisang itu. Diremas-remas. Lalu dicampur dengan nasi putih yang juga sudah diremas-remas. “Peusa-dua ju,” Zul beri aba-aba. Dia kemudian melumuri ramuan itu ke sekujur tubuh suaminya. Secara berima, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Sa, dua, lhee, peuet, limong, nam, tuuujoh. Jak weh keudeh,” ucapnya.

Kami menyaksikan dengan khidmat. Pengobatan tradisional sedang dipraktikkan di ruang pengobatan konvensional. Mujur memang. Gigil berkurang meskipun Amin masih meringis kesakitan.

Besok pagi, perpisahan benar-benar datang.

“Bapak M Nur pindah ke ruang rawat bedah,” kata perawat.

Ayah sudah sembuh dari diare akut. Namun penyakit lain ingin menguji kesabaran kami. Sejak pulih dari diare (akibat salah obat), ia susah buang air. Ayah juga masih sesekali merasa sakit di urat bagian pinggul dan kontak ke kepala, lalu tak bisa berbaring.

Dokter bilang, kemungkinan batu ginjal. Jika benar, harus segera dioperasi. Maka, sejak hari Rabu, saya dan Mak menemani Ayah di ruang rawat bedah.

Ruangan baru. Teman baru. Suasana baru. Tak ada lagi bau pesing dari kamar mandi. Tak lagi terdengar tangis anak. Tak lagi hawa pengap menyerang. Tak lagi tidur di ranjang pasien. Tapi… Ayah dan Mak merasa kehilangan teman. Dan saya tak lagi melihat pesona putri teman Mak saya yang masih SMA ketika sesekali datang menemani orangtuanya; aduhaaai indahnya rumah sakit kalau tujuannya itu. 😀

KEAKRABAN tak putus. Meski sudah beda ruang dan cukup jauh, kami tetap saling berkunjung. Ketika pasien dari keluarga kami sudah dokter izinkan pulang, kami berjumpa lagi untuk pamitan. Ayah saya dan Pak Zul sama-sama dapat pulang Jumat sore. Pak Amin, yang sembuh dari ‘peunyaket donya’ setelah tiga kali diberi ubat gampong, menyusul pada Sabtu.

Lima malam saya ‘ngekos’ di rumah sakit. Tepatnya dua hari setelah kembali dari Jawa, saya langsung ke Sigli. Saya benar-benar merasakan menemani orangtua. (Beberapa foto di bawah sebagai bonus) []

Pasien di kamar PT I berdesak-desakan. Seharusnya maksimal 5 orang.
Pasien di kamar PT I berdesak-desakan. Seharusnya maksimal 5 orang.
Perhatikan tanggal masuk. Belum saatnya sudah terjadi. ROFL.
Perhatikan tanggal masuk: 28 Desember 2014! Belum saatnya sudah terjadi. ROFL. 😀
"Beupuleh beupuleh beupuleh," dia mendoakan. "Jok seuareukah siribee geubalah 1 M. Amiin," doanya. Lelaki ini salah satu pemandangan unik di ruangan RSUD Sigli. Ia datang ke setiap kamar, mendoakan semua pasieng agar cepat sembuh, dengan membawa kotak sumbangan.
“Beupuleh beupuleh beupuleh,” dia mendoakan. “Jok seureukah siribee geubalah 1 M. Amiin,” doanya. Lelaki ini salah satu pemandangan unik di ruangan RSUD Sigli. Ia datang ke setiap kamar, mendoakan semua pasien agar cepat sembuh, dengan membawa kotak sumbangan.
Pasien yang tak mau di ruangan berdesakan. Mereka lebih demen tidur di luar ruangan, depan pintu gudang.
Pasien yang tak mau di ruangan berdesakan. Mereka lebih demen tidur di luar ruangan, depan pintu gudang.
Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

4 thoughts on “Ngekos di Rumah Sakit”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s