Air Terjun Kebun Lala

Air Terjun Kebun Lala

Pagi-pagi, setelah memungut lima durian runtuh di kebun, Pak Jes bilang, ada air terjun mini di atas sana. Saya ajak Boy. Nanti saja habis makan durian kita pergi sama-sama, lekas disambar pemilik kebun itu. Okelah.

JAM sepuluh malam Rabu ketiga Januari, kami bertolak dari Gampong Blang. Dua motor membelah malam yang menyelimuti Mukim Metareuem, Andeue, dan Lala.

Trip berhenti setelah setengah jam melalui rute bebatuan, aspal, dan bebatuan plus tanjakan lagi, diapit rimba dengan sinar lampu dari jambo (saung) penginapan di kebun rambutan dan durian.

Bulan yang hampir penuh soroti sungai di kiri jalan dan perkebunan Pak Jes di kanan. Saya angkati kawat berduri, sementara keduanya memacu motor ikuti sinar lampu teplok yang digayut pada dahan rambutan.

Usai markir, kami mendaki, gapai jambo penginapan. Letaknya di dataran tinggi, diantara kebun bawah dan atas. Pas untuk ambil posisi menyerang balik dengan senapan angin, bila dinihari kelak rombongan kalong datang memangsa.

Dingin membara. Kami hangati tubuh dengan kopi panas dan suasana dengan obrolan seputar kuliah, bola, dan wanita, di sela-sela ramainya deru motor di jalan menuju pegunungan.

Lampu Teplok
Bermalam dengan panyot (lampu teplok).

Para pemilik kebun rambutan dan durian Gle Lala sedang musim dom drien (bermalam di kebun untuk lindungi tanaman). Mereka bahkan punya lahan di puncak, lebih jauh dari kami yang berada di bahu Gle Lala.

Biasa na yang tot karbet use lhong jika malam/Biasa ada yang bakar meriam karbit buat usir pemangsa tanaman dinihari,” jelas Pak Jes.

Malam makin tua makin adem. Dengarlah suara jangkrik, burung berkicau, ricik air, dan lagu-lagu soft dari hape; dan tak ada nyamuk berdengung, siapa yang menolak pejamkan mata? Tidurlah. Dan kami terjaga jam tiga pagi guna melepaskan beberapa tembakan. Lalu tidur lagi.

Membidik kalong dari dalam jambo.
Membidik kalong dari dalam jambo.
Senam sebelum mendaki cari durian runtuh.
Senam sebelum mendaki cari durian runtuh.

Baru nanti, usai salat subuh, kami cari durian runtuh. Menyibak semak-semak yang merambati bawah pokok durian dan rambutan. Semacam ada kebahagiaan tersendiri ketika di antara kami menemukannya.

Teliti di semak-semak bawah pohon.
Teliti di semak-semak bawah pohon.
Horee.. Saya dapat dua! :D
Horee.. Saya dapat dua! 😀 (FOTO: Boy)
Garang that puwoe boh drien.
Garang that puwoe boh drien.

Boy yang pertama dapat. Hore. Bikin iri yang lain. Saya dan Pak Jes menyusul di pokok selanjutnya. “Me pulot waploh boh beh/bawa pulut dua puluh buah ya,” seru Pak Jes ke seseorang di seberang ponsel.

Gun datang membawa pulot. Ia bersama Kek. Gun mantan pemain UMS Mila yang saat ini membantu Pak Jes latih tim bola kebanggaan masyarakat Kecamatan Mila, Pidie, itu. Kek dan Boy dua bek tangguh dalam tim inti. Saya? Pernah latihan intensif dengan mereka masa coach alm. Yusri dan kemudian gagal pandai mengolah si kulit bundar bersama UMS Mila. Haha.

Durian dan rambutan dari halaman jambo.
Durian dan rambutan dari halaman jambo. (FOTO: Boy)
Meleleh liurmu? :D
Meleleh liurmu? Itubiet ie babah? 😀
Kek kuak durian.
Kek kuak durian.
Makan dengan lahap.
Makan bareng di bawah jambo dengan lahap.

Kami lahapi tiga dari lima durian dengan nikmat. Pulut kami balut dengan daging durian, oh, lezatnya. Berhenti makan kira-kira kepala hampir pusing. Baru selanjutnya, Pak Jes ‘Mourinho’ memandu kami ke air terjun.

Menuruni lereng bukit, membelah belukar.
Menuruni lereng bukit, membelah belukar.

Dari jambo, mendaki kebun di atas, dan ambil jalur kanan. Memasuki rimba. Hati-hati turuni lereng bukit. Diiringi kicau beragam burung dan samar-samar suara air jatuh kian terdengar. Tadaaa!

Mulai kelihatan..
Mulai kelihatan..

Aaaa! Indahnya air jatuh dari tebing itu. Aliran air menerpa susunan batu gunung berlumut yang bertangga. Saya dan Boy langsung nyemplung ke genangan–membentuk kolam–sebelum mandi di bawah air jatuh.

Wow! Masih original.
Wow! Masih original.
Ayo nyemplung..
Boy said, “duek lee siat,” baro manoe.
Huhu, Boy seksi sekaleee
Huhu, Boy seksi sekaleee.
Dari tebing air jatuh.
Dari tebing air jatuh.

Penasaran dengan sumber airnya, kami menyusuri aliran ke atas, ikuti aliran sampai kami temui sungai kecil bernama Alue Panjoe. Disana kami sempat bermain dengan sinar mentari pagi yang menyorot dari celah-celah dedaunan. Kek yang membawa serta senapan angin, berburu satwa dengan Gun. Sisanya langsung cabut ke jambo.

Melalui bebatuan gunung inilah air itu mengalir. Ada sungai kecil di atasnya yang tak mungkin lagi kami susuri lebih jauh.
Melalui bebatuan gunung inilah air itu mengalir. Ada sungai kecil di atasnya yang tak mungkin lagi kami susuri lebih jauh.
Pangeran Dimila jatuh dari langit. Aaaaaa! Im coming..
Pangeran Dimila jatuh dari langit. Haha. Aaaaaa! I’m coming.. (FOTO: Boy)
Pulang dari sumber aliran air, tak jauh dari air jatuh.
Saatnya pulang dari sumber aliran air, tak jauh dari air jatuh.

Di bawah sana, muge (penggalas) rambutan menunggu. Rambutan yang merah jadi pemandangan menarik di pagi hari bising oleh lalu lintas pembeli, muge, dan pemilik kebun. Kami juga masih sempat menunggu durian runtuh sebelum kembali ke kampung dengan oleh-oleh seikat rambutan. Oi, enaknya.[]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

16 thoughts on “Air Terjun Kebun Lala”

      1. sang menye taek u dasar kaki gunong nyan payah ta preh thon uke lom.. karena hana le musem boh kayei ?
        hehehe.. 😉
        kiban watei tawoe singeh na pakat ek lom man, puwoe perlengkapan yg perlei aju ?

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s