Wet-wet ke Swiss van Java

NOTE: Tulisan ini dalam versi pendek berjudul “Roadtrip to Swiss Van Java” telah diikutkan dalam Lomba Artikel Wisata Ubek Negeri Copa de Flores oleh Adira Face of Indonesia, namun tidak masuk nominasi. Postingan berikut sedikit penambahan dengan cerita yang lebih dalam.

Rumah di Tengah Kebun

BIS antarkota melaju dari Terminal Kampung Rambutan. Gedung pencakar langit perlahan menghilang dari kiri dan kanan kaca jendela yang basah tatkala melewati sebuah bundaran di Bandung. Lekas digantikan pegunungan yang menjulang saat merangsek ke arah Kabupaten Garut.

Terminal Guntur adalah pemberhentian pertama usai empat jam menempuh perjalanan darat dari Jakarta. Dari sini, ke arah manapun melanjutkan trip, objek wisata alam Garut siap memenuhi hasrat tamasya.

Atribut lalu-lintas di Kota Garut ditulisi Swiss van Java. Jam 9 malam disini mulai sepi.
Atribut lalu-lintas di Kota Garut ditulisi Swiss van Java. Jam 9 malam disini mulai sepi.

Dingin selimuti pagi Jumat terakhir Desember 2013. Saya dan teman asal Garut, Ipan Setiawan, berencana mandi air hangat di Talaga Bodas. Kami menumpangi mobil dari Kampung Samangen, Kecamatan Wanaraja, tempat Ipan beraktivitas.

Bau belerang menyeruak ketika kami tanjaki punggung Gunung Ngaro Kidul. Pada titik ini, kami sudah mencapai 30 menit waktu tempuh: dengan jalan menanjak dan terkelupas membuat kami terlonjak dari duduk; namun beragam pemandangan mengalahkan rintangan tersebut; pabrik batu-bata dan kebun berisi tanaman jagung, kol, kentang, sawi, membentang diantara perumahan warga yang diapit bebukitan di kiri dan kanan.

Kami terus melaju pelan, meningggalkan bau belerang dan perkampungan. Rute selanjutnya mulai mulus. Bahkan sudah bisa menatap Gunung Sadahurip secara dekat. Memandangnya bikin ingatan melayang ke Mesir, bangunan Piramida Giza.

Gunung Sadahurip dari Puncak Bodas.
Gunung Sadahurip dari Puncak Bodas.

Setelah 20 menit, sampailah di sebuah titik. Simpang tiga. Kanan ke Talaga Bodas. Lurus ke perkebunan warga. Dan di kiri ada beberapa saung peristirahatan dengan beberapa kedai kecil.

Gunung Sadahurip tampak sangat dekat dari saung itu. Tapi kami berhasrat ke Telaga Bodas. Sayangnya, objek wisata telaga air panas ini ditutup karena sedang ada pengerjaan. Kata seorang petugas lapangan, baru buka lagi awal 2014!

Saung Singgah, tempat yang potensial sebagai pijakan olahraga paralayang.
Saung Singgah, tempat yang potensial sebagai pijakan olahraga paralayang.

Kami akhirnya kembali ke saung singgah. Hanya 5 menitan. Duduk melihat Kota Garut yang dikelilingi pegunungan sembari nikmati kopi dan mi instan. Mengetahui letak-letak gunung terkenal dengan objek wisata alamnya seperti Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, Gunung Guntur, dan satu paling dekat dengan posisi kami yang menyerupai piramida: Gunung Sadahurip.

Keunikan Gunung Sadahurip turun dari mata ke hati. Lalu terbersit di pikiran: bagaimana ceritanya gunung itu bisa heboh?

“Beberapa bulan yang lalu beredar sebuah foto di internet,” Nahruddin jeda membangun saung pada kebunnya yang terletak di bukit dekat persinggahan, “menunjukkan ada sebuah bangunan mirip piramida dikelilingi kolam di dalam Gunung Sadahurip tersebut,” sambungnya.

Foto yang dimaksud adalah temuan Tim Katastropik Purba pada November 2013. Tim yang diketuai Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam, Andi Arif, saat itu melakukan riset patahan aktif di Jawa Barat untuk mempelajari bencana di masa lampau.

Namun mereka justru menemukan bangunan mirip piramida di gunung yang juga dikenal Gunung Putri itu. Hasil foto satelit IFSAR, terlihat bangunan mirip piramida yang dikelilingi kolam. “Foto itu beredar luas yang disebarkan oleh oknum lokal (warga Garut),” ujarnya.

Nahrudin sendiri menyatakan, warga Sadahurip dan sekitarnya meyakini bahwa Gunung Sadahurip merupakan gunung buatan. Nenek moyang mereka menuturkan, gunung itu sudah ada sejak 750 abad lalu, jika dikalkulasikan sekarang. “Nabi Isa saja hidup sekitar 500 abad lalu. Artinya gunung ini dibuat jauh sebelum itu,” terangnya.

Gunung Sadahurip tampak persis seperti Piramida Giza di Mesir. Hanya permukaan berbeda. Jika di sana berada di gurun pasir, maka ‘Piramida Garut’ berada di persawahan.

Di balik mistis itu, kata Nanang turis dari Padang yang sedang menikmati Piramida Garut dari saung singgah, “di sini sangat layak dibuka olahraga paralayang.” Jika olahraga parasut gantung itu ada, katanya, Sadahurip bakal menyaingi Puncak Bogor.

***

HABIS Jumatan, kami akan melihat kawah yang menyembul dari punggung gunung. Bertolak dari Cinunuk. Melintasi jalan diapit persawahan di perkampungan sepi. Melewati wisata religi Makam Keramat Cinuk dan kereta kuda mengangkut warga sepanjang trip ke Pintu Barat Garut.

Jalan lagi sampai dapat Simpang Semarang-Kamojang. Ambil kanan membelah perkotaan hingga mencapai pertigaan setelah satu jam mengendarai mobil pribadi. Kini kami menempuh Jalan Raya Pasirwangi setelah belok kanan.

Gerimis membasahi jalan mulus menanjak pada 30 menit berikutnya. Laju mobil diapit lembah dan dingin menggerogoti kulit sejak melewati Area Terapi Ikan Sule Bukit Rieng Indah hingga Puncak Darajat. Disambung dengan gerbang “Selamat Datang di Taman Air Puncak Darajat Waterboom”.

Kolam air panas Puncak Darajat. Ayo nyemplung!!!
Kolam air panas Puncak Darajat. Ayo nyemplung!!!

Di bawah langit yang mulai berkabut, Ipan dan kawan-kawan menceburkan diri ke kolam mandi air hangat. Berbaur dengan puluhan pengunjung lainnya. Tiket masuk 22 ribu per kepala. Saya tidak jadi beli. Tapi keluar dari area yang juga didominasi penjaja jaket kulit khas Garut, menemui pemuda dengan sepeda motor di luar gerbang.

“Ayo Mas kita lihat-lihat kawah langsung,” tawar Soleh. Saya memang ingin kesana sedari tadi. Cukup membayar 30 ribu, pemuda Desa Karya Mekar ini akan membawa pengunjung 1 km pendakian ke puncak sekaligus memandu ke empat titik Kawah Darajat.

Puncak Darajat terletak di bahu Gunung Cikuray. Desa terakhir adalah Karya Mekar, Kecamatan Pasirwangi. Pada 2011, objek wisata pemandian dibuka di beberapa titik. Ipan dkk memilih yang tertinggi dan harga tiket masuk terjangkau. Selain musala, rumah makan, di sana juga disediakan penginapan dengan harga terendah 500 ribu per malam.

Awalnya, terang Soleh, perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi yang beroperasi di Puncak Darajat tak mengizinkan kunjungan wisata di Kawah Darajat. Tapi atas kebijakan management untuk membantu perekonomian warga sekitar, Kawah Darajat pun boleh dikunjungi hanya pada hari Sabtu-Minggu dan libur nasional. Syaratnya, lokasi itu tidak sedang dicemari gas beracun (H2S).

Kawah Darajat titik pertama.
Kawah Darajat titik pertama.

Asap mengepul tinggi terlihat dari balik semak-semak saat memasuki kawasan Kawah Darajat. Bau belereng menusuk hidung sebelum melihat buih-buih besar mengeluarkan asap di kawah pertama. “Jangan terlalu dekat,” tegur Soleh, ketika saya berdiri di bibir kawah seluas sekitar 5 x 5 meter yang mendidih.

Binggo! Dingin, Bro.. Eh, panas jadinya. :D
Binggo! Dingin, Bro.. Eh, panas jadinya. 😀 (FOTO: Soleh)

Tak jauh, Ntis Sutisna sedang perbaiki saluran di kawah kedua. Dia petugas pengamanan hutan (pamhut). Siang malam, dia dan beberapa kawannya menjaga area perusahaan dan Kawah Darajat dari penebang liar dan pengganggu lainnya.

Ntis Sutisna di Kawah Darajat titik kedua.
Ntis Sutisna di Kawah Darajat titik kedua.

Namun lokasi kawah kedua tak menjadi spot yang begitu menarik. Selemparan batu dari situ, kawah tiga dan empat siap menyedot minat pengunjung. “Ini disebut kawah kembar,” ujar Soleh. Ya, letaknya berdempetan dan mengepulkan asap berbarengan. Awan asap dari sinilah yang tampak dari pintu masuk. Kawah Darajat, wisata yang langka.

Kawah Darajat titik tiga dan empat yang lebih diperkenalkan sebagai 'kawah kembar'.
Kawah Darajat titik tiga dan empat yang lebih diperkenalkan oleh guide sebagai ‘kawah kembar’.

***

PERKEBUNAN teh Garut terkenal salah satunya di pegunungan Dayeuhmanggung. Langit cerah Sabtu sore menambah semangat saya dan Ipan Setiawan untuk mendaki kesana. Dari Terminal Guntur, kami naiki angkot.

Satu jam trip melintasi Jalan Raya Garut-Tasik. Membelah perkampungan di kaki bukit. Roda angkot berhenti berputar di KM 12, Simpang Citelu. Pangkalan ojek di kiri jalan menghadap plang nama bertuliskan “PTP Nusantara VIII (Persero) Kebun Dayeuhmanggung”.

Kirang keneh Jang, apan duaan. Tambihan deui sepuluh rebu/Masih kurang Dik, kan berdua. Tambah lagi sepuluh ribu dong,” pinta si sopir ketika Ipan memberinya Rp 10 ribu untuk dua orang.

Ipan menggerutu selepas angkot berlalu. Biasanya kesana cukup bayar Rp 3 ribu per orang. Kata dia, sebagian sopir angkot akan naikkan tarif jika tahu penumpangnya adalah tamu. Dalam sebuah obrolan dengan penumpang tadi, Ipan sempat mengatakan saya dari luar daerah yang baru pertama ke Garut. “Salah Ipan tadi sih,” dia mengakui.

Sikap sopir itu sedikit menurunkan minat wisata. Tapi tak apa, yang penting sudah tiba di chekpoint ke kebun teh. Kami jalan kaki menanjak hingga mencapai sebuah lorong menuju musala Desa Kolot, desa pertama jumpa menuju kebun teh.

“Kalau naik ojek ke sana biasanya lima ribu rupiah per orang. Kalau jalan kaki sekitar satu kilo meter, sekitar setengah jam,” tutur Sutisna, pegawai PTP Nusantara yang pensiun pada 2010. Menurutnya, berdasarkan cerita orangtua, Kebun Teh Dayeuhmanggung sudah dikunjungi wisatawan sejak ia lahir pada tahun 1955.

Kami memilih trekking. Menapaki jalan berlubang yang mengancam pengendara. Tanaman hijau kekuningan berjejer indah. Mereka mulai terlihat dari jauh setelah kami tempuh sekitar 30 menit. Pos security menyempil diantara jalan Desa Sukatani yang membelah perkebunan teh.

"Hati-hati Mas! Ibu-ibu kok dilawan?" Jalan masuk Perkebunan Teh Dayeuhmanggung.
“Hati-hati Mas! Ibu-ibu kok dilawan?” Jalan masuk Perkebunan Teh Dayeuhmanggung.

Tamu wajib lapor! Usai menunaikan itu, kami ambil jalan berliku ikuti tanaman teh yang tumbuh sebahu orang dewasa. Sampai pada perumahan warga, kami menghampiri Kartika. Dia menjinjing dua keranjang. Isinya gorengan. Dilayaninya kami di halaman rumah Leni.

Cukup lestari, bukan?
Cukup lestari, bukan?

Kartika salah satu warga Sukatani yang tak bercocoktanam teh. Melainkan berdagang ke Pasar Terminal Guntur. Gorengan semisal tahu, tempe, barala, dan simping, dipatoknya Rp 500 per potong.

Leni petani teh. Disuguhinya teh kepada kami yang sedang kunyah gorengan. “Ini teh bukan hasil olahan pabrik di sana, tapi saya giling sendiri di rumah,” ujarnya, usai menyodorkan dua botol mineral berisi teh siap teguk. Tanpa diberi gula.

"Ini teh asli.." Teh dari kebun Leni yang diolahnya sendiri di rumah.
“Ini teh asli..” Teh dari kebun Leni yang diolahnya sendiri di rumah.

Wanginya manis dan lembut. Tapi rasanya agak kelat. Cukup untuk menghimpun kembali energi. O, Nikmatnya bisa menenggak langsung teh asli dari perkebunan teh. Persinggahan kami menarik perhatian. Beberapa warga lain mendekat. Mereka tertarik melihat orang dari luar daerah Jawa.

Cep, tos gaduh jodo? Keursa teuka putra ibu?/Nak sudah punya pacar? Kalau belum, mau sama anak ibu?” tanya Arti, seorang warga setempat. “Anak ibu yang baru lewat itu,” sambungnya.

“Tidak, Bu, terimakasih,” saya menolak tawarannya sewajarnya.

Seorang lain justru mengejutkan saya. “Aceh itu masih perang ya?” tanya seorang pria di situ, usai Ipan beritahu bahwa saya dari Aceh.

Tentu saya akan bilang, “Tidak lagi, Mas. Sudah lama berdamai,” dengan senyuman kecil.

Namun mereka tampak ramah dan modal hospitality (keramah-tamahan) yang baik untuk melayani wisatawan, tidak seperti ulah sang sopir tadi. Namun keburu pabrik teh tutup, kami segera pamitan. Kartika, sembari pulang ke rumahnya, bersedia antarkan kami ke sana.

Kartika pose sejenak di jalan masuk bagian belakang pabrik teh.
Kartika pose sejenak di jalan masuk bagian belakang pabrik teh.

Ampas teh berwarna coklat muda melumuri jalan masuk bagian belakang PT Nusantara VIII. Semerbak wangi dari dalam ruangan bikin penasaran. Tak ada aktivitas. Sudah jam 5 petang. Pegawai pada pulang. Kami memotret beberapa kali sampai seorang pria datang. Atikoswara namanya. Ia mandor besar di pabrik itu.

Kartika dan Atikoswara bilang, pabrik teh ini sudah didirikan pada 1950an. Kini mempekerjakan 50 orang. “Kebanyakan pendatang,” ucap pria itu, yang sempat melarang kami ambil foto tanpa izin Kepala Pabrik.

Langit mulai menguning. Kami keluar pabrik, menyusuri jalan desa yang bersih, dikitari kebun teh dan panorama pegunungan. Kartika dan kami berpisah dekat pos security. Dia akan pulang ke kompleks perumahan di tengah-tengah perkebunan teh, sedangkan kami kembali ke Kota Garut.

Kompleks Perumahan di tengah-tengah perkebunan teh Desa Sukatani. Oh, permainya. Kartika tinggal di sana.
Kompleks Perumahan di tengah-tengah perkebunan teh Desa Sukatani. Kartika tinggal di sana. Oh, permainya.

Saya terngiang-ngiang dengan omongan Arti. Belakangan Ipan menjelaskan. “Cep itu sama dengan Juragan. Sapaan orang Garut untuk menghormati tamu.” Dia bilang, tadinya Arti ingin menawarkan saya kawini putrinya. Ih! “Di sini itu, anak perempuan kawin kalau sudah tamat SMP. Cukup mahar Rp 300 ribu, sudah jadi,” bebernya. “Yang penting bisa membiayai hidupnya kemudian,” simpulnya. Ih, saya merinding.

Kota Garut memang layak digelar Swiss van Java. Kebiasaan hiruk-pikuk kota tergantikan dengan keademan di sini. Kriminalitas rendah. Pegunungan cukup memanjakan mata. Malam mulai sepi jam delapan. Perbelanjaan tutup tak lewat dari pukul 21.00 wib. Dan, objek wisata alam akan menanti hari-hari kita di Garut.[]

*Wet-wet = jalan-jalan (Aceh)

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

20 thoughts on “Wet-wet ke Swiss van Java”

    1. Iya Bang, that lupie sinoe. Lon baca buku Si Hanum “Berjalan di Atas Cahaya” tentang proses liputan jih di Swiss, o man, hawa teuh taseutet. Ada seorang wanita Aceh di Swiss yang bercita-cita jadi wali kota, pengen lon menjumpainya langsung. 😀

      1. Luar biasa droneuh, satu komentar bisa melahirkan tulisan inspiratif. Dari baca buku Hanum, Bunda Ikoy memang serius ingin jadi wali kota, anda Illiza tahu dan telah membacanya, berharap ia dapat menghubungi wanita itu. hehe, lebay. Oya, makasih ka neukutip blog lon. 😀

      2. Sip, daripada lon kultweet get lon arsip inan. Nyan lon preh tulesan Makmur tameng bak Atjeh.biz kali ukeu, so teupu bak jak-jak meuganteh ngon calitra lagak jeut peutameng laju keunan 😀

        Kalau bunda Ikoy pulang ke Aceh, mungkin nanti bisa kita usung lewat jalur mandiri saja jadi wali kota tahun 2017. Yg peunteng kiban pakat, lampoh jrat bek sampe tapeugala 🙂

      3. Sip sip Bang Bro, seugolom neukomen lagee nyoe, ka terlintas dalam pikiran lon untuk menulis buat Atjeh.bis sekali waktu. 😀 Haha.

        Ya, kayaknya Bunda Ikoy lebih cocok untuk 2017. Cari email dia Bang, biar kita interview. 😀

      4. Mesti tanya ke Hanum kayaknya, belum dapat akun di jejaring sosial bunda ikoy satu pun ini, pastinya ada tuh coba mention ke Hanum euy 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s