Blogger Dobrak Parlemen

Sedikit keluar dari dapur Koki Kata, namun layak dihidangkan dalam ranah Sosial-Politik dan Urban. Anggaplah ini sebuah kisah yang patut disimak.

Loh? Kenapa saya bisa bersama Taufik Al Mubarak di sini? Bukannya sedang musim kampanye. Seharusnya dia tidak jalan-jalan, tapi fokus persiapkan diri jelang Pemilu Legislatif 2014. Sebagaimana caleg kebanyakan, foto dia tergantung di pohon-pohon atau spanduk sepanjang sudut kota, tapi beda dengan lelaki ini.

Oktober lalu, Daihatsu bikin lomba blog review ekspedisi Terios7Wonders: Hidden Paradise. Postingan saya untuk lomba itu saya share di grup Aceh Blogger Community. Tak lama, Taufik Al Mubarak juga berbagi artikel lomba itu.

Sebulan kemudian, nama kami muncul dalam 26 finalis termasuk dua blogger Aceh lainnya yang akan diberangkatkan ke Jakarta.

Sebelum take off pada subuh 14 Desember, ia kebetulan jumpa dan berbincang dengan penyanyi Aceh, Rafli Kande, di bandara Sultan Iskandar Muda. Keduanya sama-sama sedang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Yang satu merebut hati rakyat dengan tulisan, satu lagi dengan lisan.

Dan saya tak menyangka ditempatkan satu kamar dengan Taufik ketika tiba di Hotel Arya Duta, Jakarta, untuk mengikuti Pesta Sahabat Daihatsu. Panitia biasanya mengalokasikan peserta dari berbeda daerah dalam satu kamar. Tapi kami sama-sama dari seasal, bahkan sesama Pidie.

Lihat jemarinya. Kemudian saya tahu, secara tersirat dia bilang: "Saya Dapil 2 ya." Haha. (FOTO: Makmur Dimila)
Lihat jemarinya. Kemudian saya tahu, secara tersirat dia bilang: “Saya Dapil 2 ya.” Haha. (FOTO: Makmur Dimila)

Sayangnya nama kami tak disebutkan MC Ayu Dewi saat pengumuman 5 pemenang utama lomba blog itu pada malam penganugerahan di Djakarta Theatre. Tapi sebelumnya, nama kami sudah tertera dalam daftar pemenang lomba blog yang berbeda.

Ingatan saya mundur ke tahun 2011. Bulan Mei. Saya bergabung di Harian Aceh saat Taufik Al Mubarak menjabat Redaktur Pelaksana. Di sanalah saya pertama bertemu dengannya.

Dulu-dulu hanya kudengar ketenarannya dari mulut trainer penulisan narasi, Andreas Harsono, ketika saya ikut pelatihan di Riau. Kudengar juga ia pernah dipenjara karena terlibat dalam aktivis Gerakan Aceh Merdeka.

Nama Taufik Al Mubarak semakin dikenal saat diterbitkan bukunya Aceh Pungo yang merupakan kumpulan kolomnya di Harian Aceh pada 2009. Namun, dia pamit dari harian itu di saat saya sedang bersemangatnya di sana.

Mantan aktivis pers kampus bersama Ar-Raniry Post itu lantas tak lagi bekerja di media massa. Ia menulis lepas dan membangun blog, ‘koran pribadi’ versi digital.

Baru awal 2013, saya melihatnya naik caleg. Bersama Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), ia coba menjadi wakil rakyat Aceh (DPRA) dari Dapil 2 (Pidie dan Pidie Jaya).

Nyaleg Jangan Terlalu Serius

Tak muluk-muluk, saya hanya ingin terlibat dalam pembangunan Aceh secara ‘nyata’ di masa transisi ini. Saya sebut transisi, karena usia perdamaian Aceh masih cukup belia (9 tahun),” sebut Taufik Al Mubarak dalam wawancara awal Februari.

Dia yakin, pengetahuan dan pengalamannya sebelumnya sangat berguna dan dibutuhkan untuk menjadikan Aceh lebih modern.

Dalam pandangannya, Aceh adalah milik bersama yang membuat siapapun orang Aceh perlu turun tangan. Jangan sampai masa transisi Aceh menjadi mimpi buruk bagi Aceh sendiri, apalagi jika sampai Aceh jatuh ke tangan-tangan yang tak memiliki ideologi ke-Aceh-an.

Taufik bukanlah mantan aktivis Gerakan Aceh Merdeka secara strukturul. Namun ia pernah terlibat menjadi salah satu juru penerangan gerakan tersebut. Terutama saat sosialisasi CoHA kepada masyarakat dan anggota GAM di lapangan.

“Saya juga pernah membantu propaganda GAM dalam melawan wacana yang dibangun militer Indonesia di Aceh,” ceritanya.

Selebihnya, pada masa itu, dia hanya aktivis biasa dan sering menyumbang pemikiran terkait solusi pembangunan Aceh melalui tulisan.

Tetapi ia pernah dituduh sebagai anggota GAM yang menyusup dalam pergerakan mahasiswa saat tertangkap basah sedang mengibarkan bendera GAM di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh.

Menurut dia, siapapun punya tanggungjawab moral untuk terlibat dalam pembangunan Aceh, baik sebagai mantan GAM maupun bukan, menyumbangkan pikiran untuk menjadikan Aceh lebih baik lagi sesuai kemampuan yang dimiliki.

Taufik melihat, Hanura merupakan salah satu partai politik yang termasuk paling bersih. Ia tertarik dengan misi partai itu, mewujudkan kemandirian bangsa.

Selain itu, misi ini saya pikir sangat cocok dengan pemikiran saya,” sambung lelaki kelahiran 1981 ini.

Namun tak dinafikannya bahwa semua partai bagus, termasuk partai lokal, karena untuk membangun Aceh itu sudah punya kerangka yang jelas seperti tertuang dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang semangatnya diambil dari MoU Helsinki.

Anggota legislatif mengemban tiga tugas: legislasi, anggaran, dan pengawasan.

“Kalau seandainya dipercaya duduk di parlemen, saya kira semua kita perlu memastikan bahwa legislasi atau undang-undang (qanun) yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” janjinya.

Ia menguraikan, dalam sistem penganggaran harus benar-benar berpihak rakyat dan berangkat dari program-program yang benar-benar mewujudkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar memenuhi kepentingan capital dan pemilik modal besar seperti pengalaman selama ini;

Dalam proses pengawasan, pembangunan harus benar-benar berjalan dan anggota dewan tak sekadar menjadi setempel pemerintah. Selama ini, sebut dia, program pembangunan tak berjalan karena anggota parlemen dan eksekutif main mata serta berselingkuh. Sehingga sekalipun ada program yang terbengkalai, tak sesuai perencanaan, dan bukan kebutuhan masyarakat, diloloskan begitu saja.

Seorang caleg biasanya berkampanye via atribut yang mengusik pandangan mata, seperti spanduk, banner, dan umbul-umbul yang digantung di pohon-pohon. Tapi Taufik Al Mubarak, coba menggalang suara masyarakat melalui blognya, Jumpueng.

“Saya ini seorang penulis. Menulis butuh media. Tak semua tulisan kita akan cocok dimuat oleh media. Ada batasan-batasan yang kita alami. Nah, ngeblog menjadi salah satu sarana bagi saya dalam menuangkan gagasan untuk diketahui khalayak,” katanya.

Dia berpandangan, ngeblog berbeda dengan menulis di media umum yang harus mengikuti selera redaksi. Sementara di blog, boleh menulis bebas tanpa terikat dengan siapapun. Bahwa ada orang yang setuju atau tidak dengan pendapatnya, itu lumrah.

“Di atas segalanya, bagi saya ngeblog sebenarnya membuat kita terus belajar,” tegasnya.

Dalam sebuah obrolan dengannya di akhir Desember lalu, Taufik Al Mubarak menceritakan tentang komentar orang yang mengatakan dia tak serius nyaleg.

“Bagi Aceh, kalau terlalu serius itu berbahaya. Masih ingat bagaimana ketika Pemerintah Indonesia serius terhadap Aceh? Dia gelar Darurat Militer! Bagi orang-orang yang serius menjadi caleg, dia akan menghalalkan segala cara termasuk dengan membunuh dan menyuap,” tuturnya.

Bagaimana jika orang-orang yang terlalu serius terpilih, bisa berbahaya, bukan? Karena itu, Taufik tetap yakin, pasti dipilih kalau niatnya nyaleg bagus.

“Jika tak terpilih, pasti ada yang salah dengan proses demokrasi yang sedang berjalan di Aceh,” simpulnya.

Jadi wajar jika suatu malam di bulan Desember 2013, Taufik Al Mubarak sekamar dengan saya dalam acara temu blogger nasional. Well, selebihnya, pembaca dan rakyatlah yang patut menilainya sebagai seorang caleg. []

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

17 thoughts on “Blogger Dobrak Parlemen”

  1. Aku sering bertanya kepada Caleg, termasuk kakak iparku. “Kalau abang/kakak terpilih apa tugas abang/kakak sebagai anggota dewan?” Kadang kita geli mendengar jawaban-jawaban yang diberikan, entah berantah dan panjang lebar, kita, begini, kita begana, gajah guda, ini itu.

    Kalau caleg dari wanita seringnya menjawab, kita akan “memperjuangkan hak-hak perempuan” dan yang paling banyak keluar adalah kata-kata “pemberdayaan perempuan” dll.

    Kalau anda mandapakan jawaban itu dari seorang caleg, caleg itu jangan dipilih. Tapi kalau anda mendapatkan jawaban seperti;

    “Anggota legislatif mengemban tiga tugas: legislasi, anggaran, dan pengawasan”

    Itu baru caleg pilihan dan layak pilih. Bukan jawaban bertele-tele dan celingak-celinguk, tapi jawaban yang singkat, pada dan jelas maksudnya.

    Selamat memilih caleh cerdas.

    1. Komentar yang cerdas untuk caleg yang cerdas. Kecerdasan bangsa dapat dimulai dari masyarakat cerdas memilih caleg cerdas. Semoga tiga tugas itu dapat dijalankan dengan baik, sesuai tanggungjawabnya. Jarang sekali ada caleg yang menyampaikan seperti Bang Taufik.

  2. Jika dapil saya, saya pasti memilih beliau sbb beliau sangat berprilaku sederhana dan egg sombong seperti actifis lain di aceh dan pula dia pernah ada tenggang waktu untuk mencuri di aceh, tapi dia tidak melakukannya karena beliau sadar bahwa prilaku seperti itu adalah teman / prilaku syaitan, nah itu dia sampai sekarang dia masih menngendrai motor tua yg selalu mogok di jalan. “AYOOO MILIH BELIAU”

    1. Nah, jika memang demikian, sulit sekali kita temukan. Barangkali, karena alasan itu pula Bang Taufik maju dari partai yang sedikit berbeda dengan kebanyakan aktivis Aceh lainnya. 😀

  3. Cita-cita awal dulu, beberapa tahun lalu saat blogger Aceh dan sejumlah tuha-tuha peut ABC duduk sempat terlintaskan guyonan “Partai Blogger Aceh” siapa yang akan maju, dan ternyata keluarlah kandidat ini, akhirnya setengah jalan terjawab sudah. Tinggal menuju setengah jalan lagi ke sana. Selamat 🙂

      1. Itu pehtem dulu, tapi yg pasti ABC tak ada ada afiliasi politik, kesuksesan dari setiap anggota ABC adalah bagian dari dukungan personal dan kedekatan emosional 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s