Lamnga (1) Makam Panglima di Masjid Bosnia

Dinas Syariat Islam Aceh memilih Gampong Lamnga sebagai Gampong Percontohan Syariat Islam di Aceh. Jika Anda sering melihat atau mendengar T Nyak Makam sebagai nama jalan di Kota Banda Aceh, datanglah ke gampong bila ingin lihat makam dan sejarahnya. Pada November 2013, saya  menelusuri gampong ini selama beberapa hari. Berikut laporannya.

PULUHAN lelaki, tua dan muda, duduk bersaf-saf menghadap seorang ustaz yang disapa Teungku. Mereka memangku kitab kuning dengan tulisan arab gundul sebagai panduan mendengar surah atau penjelasan dari isi kitab.

Majlis Taklim di Masjid Lamnga.
Majlis Taklim di Masjid Lamnga.

“Jika ada 1000 warga Lamnga berzikir setiap saat, saya yakin dan percaya, dirham akan keluar di tanah gampong kita. Tapi kita hari ini, kalau ada emas yang mau muncul malah cepat-cepat membenamkan diri lagi dalam tanah,” surah Teungku Iswandi mengundang tawa 20-an peserta majlis taklim.

Majlis taklim merupakan salah satu kegiatan islami warga Lamnga yang dilakukan di masjid mukim setiap usai salat magrib berjamaah. Masjid mukim itu ditancapkan di tengah-tengah Gampong Lamnga.

Masjid Jamik Al-Mahabbah sedang direnovasi.
Masjid Jamik Al-Mahabbah sedang direnovasi.

Pascatsunami, Muslim Bosnia menyumbang Rp 1,3 miliar untuk merenovasi masjid itu pada 2005. BRR memegang proyek. Letaknya cukup strategis, tapi masjid beraksitektur islam Eropa itu tidak begitu besar. Hanya bisa menampung sekitar 300 jamaah.

Seharusnya ada AC di masjid itu. Begitulah kalau orang pegang tender. Coba kalau diserahkan ke masyarakat, saya rasa uang sebanyak itu akan lebih berguna,” beber Teungku Iswandi.

Al-Mahabbah yang berarti “dicintai” adalah nama tambahan bagi masjid jamik itu. Diberikan ulama Aceh (alm) Dr. Abuya Muhibbuddin Waly saat pertama kali mengunjungi Lamnga pada 2005. Ulama itu memimpin doa bersama di masjid yang berhadapan dengan Madin dan TPA tersebut.

Selepas kedatangan Abuya itu, semua lembaga keagamaan ditabali nama Al-Mahabbah, termasuk Madin. “Bagi Abuya, Lamnga sudah kayak rumah sendiri. Beliau sering kemari sebelum wafat,” aku Teungku kelahiran 1975 itu.

Abuya senang ke Lamnga, menurutnya, mungkin karena nilai sejarah di gampong ini. Di sisi kiri masjid, ada kuburan Panglima T Nyak Makam.

Makam Panglima Nyak Makam di kompleks masjid.
Makam Panglima Nyak Makam di kompleks masjid.

Panglima Teuku Nyak Makam lahir di Lamnga, Aceh Besar, pada 1838. Ia memimpin perjuangan rakyat Aceh menentang penjajahan kolonial Belanda selama 40 tahun. Hingga ia ditangkap oleh Letkol G.F. Sooters di Lamnga pada 21 Juli 1896 dalam keadaan sakit parah.

Nyak Makam kemudian dipancung serdadu Belanda di hadapan keluarga dan pengikutnya. Kepalanya diarak keliling Kutaraja. Lalu diawetkan dalam botol besar dan dipamerkan di koridor Rumah Sakit Militer Belanda di Kuta Alam. Sementara tubuhnya dikuburkan di sini tanpa kepala, karena sampai saat ini belum ditemukan kepalanya.

Catatan sejarah di nisan.
Catatan sejarah di nisan.

Demikian tertulis di prasasti makam. Tapi menurut cucu T Nyak Makam, (alm) Letkol T Ibrahim Sa’adi mantan Walikota Banda Aceh, kepala panglima perang itu ada di Belanda.

“Menurut cerita Teuku Ibrahim Sa’adi kepada warga Lamnga, dia pernah diminta datang ke Belanda untuk mengambil kepala kakeknya. Tapi beliau tidak mau,” terang Teungku Iswandi.

Sejarah juga tertanam di luar pekarangan masjid. Diantara puluhan batu nisan pada pemakaman umum, ada 6 pasang batu nisan ulama asal Irak yang dikuburkan di situ. Mereka datang pada masa Kerajaan Aceh. Terdiri atas dua pria dan empat wanita.

Makam ulama Baghdad di luar pekarangan masjid.
Makam ulama Baghdad di luar pekarangan masjid.
Dari Jembatan Krueng Cut, makam ulama ini terletak di kanan jalan setelah Jembatan Labui-Lamnga. Menurut warga Lamnga, ini makam ulama.
Dari Jembatan Krueng Cut, makam ulama ini terletak di kanan jalan setelah Jembatan Lam Ujong-Lamnga. Menurut warga Lamnga, ini makam ulama.

Teungku Iswandi bilang, “cerita tetua Lamnga, sejak mereka lahir, makam ulama Baghdad itu sudah ada.”

Selain menelurkan cerita kearifan lokal, tetua Lamnga juga gemar menebarkan nilai-nilai syariat kepada anak-cucu. Remaja setempat misalnya, sejak 1990-an digalakkan mengikuti lomba takbir se-Aceh saat Lebaran Haji.

“Alhamdulillah kami selalu dapat juara lomba takbir, mulai dari juara satu hingga harapan,” ujar Zakia Mubarak yang disapa Syeh, Ketua Grup Takbir Al-Mahabbah.

Menurut Syeh, Teungku Haji Zainun Musa yang kini berusia 80-an, cukup memberi pengaruh positif bagi masyarakat. Imam Besar Masjid Al-Mahabbah, yang populer disapa Imum Syik itu, memimpin jamaah salat wajib lima waktu sejak 1970-an.

Pada musim Maulid Nabi tahun 2011, Grup Zikir Al-Mahabbah diundang ke Sabang. Imum Syik tidak mau ikut, ia lebih khawatir tidak ada yang pimpin jamaah salat di gampong. Akhirnya kami saja yang berangkat, 35 orang,” cerita Syeh, yang juga salah satu Syeh Like (pemimpin zikir maulid).

Grup Zikir, menurut Teungku Tamin, sudah dibentuk puluhan tahun lalu. “Sejak saya kecil sudah ada,” ungkapnya. “Saya dulu juga memimpin like,” kata ayah Syeh itu. Kini Teungku Tamin dipimpin anaknya jika harus bergabung dalam kesempatan zikir maulid. Regenerasi yang mulia.[Bersambung ke Lamnga 2]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

9 thoughts on “Lamnga (1) Makam Panglima di Masjid Bosnia”

      1. Biasanya lewat sekelak, kalau sudah lihat2 baru kita masuk. Sama seperti kita melihat anak dara di gampong, tidak bisa ‘beurangkahoe’ nanti bisa ‘meubagoe’ begitu kata orang tua di kampung 🙂

      2. Bereh, apa perlu kita bawa gula sekilo gitu atau cukup bawa diri saja *ini acara lamaran anak dara apa kunjungan kerja hahaha

  1. Salah satu cucu dan banyak keturunan teuku nyak makam masih ada di jakarta, nama cucu beliau teuku utsman kasimy, usianya sudah 90 tahun, pernah jadi perwira polisi di jakarta, sempat pulang ke lamnga, lalu tinggal di Lhokseumawe dan kembali ke jakarta. Beliau sangat ingin kembali ke aceh namun sayang usianya yg sudah sangat tua mengkhawatirkan bagi anak cucunya jika beliau kembali ke aceh.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s