Lamnga (2) Butuh Gapura Selamat Datang

SAYA menyambangi Lamnga pada 8 November 2013 kali pertama. Cukup 10 menit berkendara dengan kecepatan rata-rata 80 dari Jembatan Krueng Cut—perbatasan Banda Aceh-Aceh Besar—untuk tiba di gampong yang terletak di Jalan Laksamana Malahayati KM 13.

Tiga burung mampir di pohon bakau yang tumbuh di bekas tambak dekat Jalan Raya menuju Lamnga.
Tiga burung mampir di pohon bakau yang tumbuh di bekas tambak dekat Jalan Raya menuju Lamnga.

Lorong utama Lamnga hanya selemparan batu setelah SPBU di kanan jalan dan sebuah jembatan gantung di kiri jalan. Sekilas, tidak ada tanda-tanda bawah lorong itu akan memasuki Gampong Lamnga sebagi Gampong Percontohan Syariat Islam.

Seharusnya Dinas Syariat Islam Aceh melalui instansi terkait membangun gerbang atau gapura di lorong masuk Gampong Lamnga, sehingga orang-orang yang melintasi Jalan Krueng Raya tahu kalau ini adalah Gampong Percontohan Syariat Islam,” harap Teungku Iswandi malam itu.

Dengan adanya gapura selamat datang, tegas Pegawai Dinas Pendidikan Aceh Besar ini, warga Lamnga pun bertanggungjawab penuh atas status gampong percontohan.

Misal ada wanita yang berpakaian ketat di gampong, tinggal kami tunjuk gapura itu,” dia menguatkan alasannya.

Baru pada kunjungan sehari berikutnya, saya melihat ada pamflet bertuliskan “Selamat Datang di Lamnga, Gampong Percontohan Syariat Islam”.

Pamflet Selamat Datang yang sulit terjangkau mata pengguna jalan.
Pamflet Selamat Datang yang sulit terjangkau mata pengguna jalan.

Pengumuman itu dipancang di Lorong Utama Gampong Lamnga, tepat di samping kompleks SDN 1 Lamnga. Tapi sulit ditangkap sorotan mata dari jauh. Tulisannya memakai font bercabang dan tipis. Padahal, setelah pamflet itu, saya bagai masuk ke objek wisata islami.

Sepanjang lorong, ditancapi papan Asmaul Husna. Mulai dari kanan SDN 1 Lamnga, kanan Tugu Tsunami, belakang Puskesmas, depan Kantor Keuchik dan Meunasah Lamnga di kiri, TK di kanan, lapangan voli dan pemakaman umum di kiri, hingga masjid dan Madin. Bahkan ke lorong-lorong lain juga dituntun dengan Asmaul Husna dengan media tulisan bercahaya hijau daun pada malam hari.

Papan Asmaul Husna sepanjang lorong masuk.
Papan Asmaul Husna sepanjang lorong masuk.

 “Gapura atau gerbang itu memang sangat penting, terutama kalau kedatangan tamu. Lebih-lebih gampong kami terletak di samping jalan raya menuju objek wisata. Dengan adanya ‘Gerbang Selamat Datang di Gampong Percontohan’, orang yang hendak ke Pantai Ujong Batee, Krueng Raya, atau Pasir Putih, jadi tahu kalau Lamnga adalah gampong percontohan syariat islam,” urai Teungku Maksum Usman, pengawas Program Gampong Percontohan Syariat Islam dari pihak masyarakat.

Tgk Maksum Usman
Tgk Maksum Usman

Ketua MPU Kecamatan Masjid Raya itu menegaskan, “jika ada gerbang itu, kebanggaan syariat islam juga terlihat ke masyarakat luas. Dan kami pun bangga.” Senyum terlukis di wajahnya yang mulai berkerut.[Bersambung ke Lamnga 3]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

2 thoughts on “Lamnga (2) Butuh Gapura Selamat Datang”

  1. Next time aku balik ke Aceh lagi, mau main ke Lamnga ah. Baru tahu aku ada gampong percontohan syariat islam ini. Tahunya cuma Beurawe yg di dekat masjidnya ada tulisan gampong syariat

    1. Yap, banyak spot cantik di Lamnga. Orang tidak banyak tahu barangkali disebabkan tidak adanya gapura selamat datang yg besar seperti di Brawe, padahal letaknya persis di bibir jalan menuju Krueng Raya.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s