Lamnga (3) Sira Yang Hilang

Cari ikan dengan boat di Pasi Lamnga
Warga cari ikan dengan boat di Pasi Lamnga

GAMPONG Lamnga adalah pusat Kemukiman Lamnga, Kecamatan Masjid Raya, Aceh Besar. Gampong Lam Ujong, Gampong Baro, Neuheun, Durong, dan Ladong mengelilinginya. Warga lima desa itu biasanya mengasapi dapur keluarga dari hasil bertani garam (sira-Aceh).

Masyarakat leluasa memproduksi garam di Pasi (pantai) Lamnga yang berbatasan dengan Gampong Baro di bibir laut. “Sira Lamnga” cukup dikenal warga Aceh Besar dan Banda Aceh.

Namun, tsunami 26 Desember 2004 melenyapkan sumber perekonomian warga itu; Gampong Baro juga tak membekas karena sebagian permukaan menjadi laut.

Tapi alhamdulillah, gampong Lamnga yang hanya beberapa kilo meter dari laut, tidak parah terkena tsunami,” cerita Teungku Iswandi.

Masyarakat Lamnga pada umumnya petani garam, nelayan, dan PNS. Paska musibah itu, warga tidak bisa lagi produksi garam karena lahan dan gudangnya tersapu gelombang raksasa.

Lahan bekas produksi Sira Lamnga yang tak bisa dipakai lagi untuk menghasilkan garam.
Lahan bekas produksi Sira Lamnga yang tak bisa dipakai lagi untuk menghasilkan garam.

Jika sekarang ada yang bilang menjual ‘sira lamnga’, itu tidak benar. Kami tidak bisa produksi garam lagi setelah tsunami,” tegas putra asli Lamnga ini.

Warga Lamnga menurutnya masih berkeinginan memproduksi garam. Namun kesulitan modal untuk membangun gudang garam. “Butuh biaya 7-10 juta untuk pengadaan gudang produksi garam. Kami sangat berterimakasih jika ada pihak terkait yang membantu,” harapnya.

Jala ikan di Pasi Lamnga.
Jala ikan di Pasi Lamnga.
Nelayan perbaiki boat di TPI Lamnga.
Nelayan perbaiki boat di TPI Lamnga.
Warga Lamnga jual hasil tangkapan di tepi Jalan Raya di perbatasan Lamnga-Labui.
Warga Lamnga jual hasil tangkapan di tepi Jalan Raya di perbatasan Lam Ujong-Lamnga.

Di samping harapan yang membuncah itu, masyarakat Lamnga sangat antusias mendukung pelaksanaan Gampong Percontohan Syariat Islam. Iswandi mengakui, semua kegiatan yang dibimbing Dinas Syariat Islam Aceh sejak 2012 berjalan baik.

“Pembiayaan untuk program TPA sangat terbantu. Jika Dinas tak sediakan anggaran, kami kewalahan,” akunya.

Hingga kini, pihaknya sedang mengajari 165 anak Lamnga di TPA dan Madin. Proses belajar-mengajar ditiadakan pada Jumat dan Minggu.

Di hari kosong itu, sebagian anak-anak SD, SMP, SMA, antusias latihan tilawah yang dibimbing qari Aceh. Remaja putri dan ibu-ibu rutin latihan barzanji dan asmaul husna dengan Grup Marhaban mereka. Sedangkan remaja putra giat latihan dalail khairat dan zikir.

Kepala keluarga dan ibu rumah tangga rutin mengikuti pengajian di masjid mukim, kecuali malam Minggu. Itu juga bagian dari program Beuet Alquran Bakda Magrib yang dicanangkan Bupati Aceh Besar.

Masjid sudah kayak pesantren lah,” celutuk Teungku Maksum yang juga dapat giliran mengajar.

Kegiatan agama mudah berkembang di Lamnga, menurut mantan Imum Mukim itu, karena penerapan Syariat Islam sudah dimulai lama sebelum tsunami. “Di samping itu, organisasi juga telah hidup di sini sebelum tsunami, seperti Karang Taruna,” katanya.

Namun begitu, penguatan agama harus didukung pemberdayaan ekonomi. “Ada peserta majlis taklim yang biasanya selalu hadir, tiba-tiba absen karena harus mencari nafkah ke laut,” ungkap Iswandi.

Teungku Iswandi berpose di atap masjid dengan latar Madin Al-Mahabbah.
Teungku Iswandi berpose di atap masjid dengan latar Madin Al-Mahabbah.

Dinas Syariat Islam memang membentuk Baitul Mal melalui program gampong percontohan. “Tapi kami tidak tahu bagaimana cara mengelolanya. Yang kami tahu, seperti dijelaskan dalam kitab, baitul mal adalah tempat penyimpanan dan penyaluran harta,” aku Teungku Usman.

“Kami sulit membangun link dengan pihak terkait,” tambah Syeh yang juga menjadi asisten sekdes. “Kami maunya, pihak Dinas Syariat Islam datang kemari mengadakan training pengelolaan Baitul Mal,” harap Teungku Maksum.

Pembinaan Baitul Mal oleh Dinas Syariat Islam secara langsung sangat penting menurut Iswandi.

Kefakiran dekat dengan kekufuran,” dia menamsilkan fenomena orang-orang yang jauh dari beribadah karena harus mencari nafkah.

“Saya yakin, Baitul Mal adalah kunci kesejahteraan masyarakat Lamnga dalam mendukung pelaksanaan gampong percontohan syariat islam,” tegasnya.[Bersambung ke Lamnga 4]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s