Lamnga (5) Layak Objek Wisata Islami

LAMNGA memang layak menjadi destinasi wisata islami. Sebelum visitasi oleh Direktur Madrasah Diniah Pusat, ada banyak tokoh seperti anggota dewan datang membawa donasi bagi pembangunan lembaga keagamaan, terutama untuk masjid.

Saya barangkali yang pertama merasakan kedamaian berwisata islami di Lamnga. Sore 9 November, semangat syiar islam terlukis pada seratusan pasang mata anak-anak Madin Al-Mahabbah.

Hari itu, usai rehat untuk salah jamaah Ashar setelah belajar di ruangan kelas Madin, mereka antusias melanjutkan kajian di masjid. Spirit syiar islami juga terpancar dari aura wajah ustaz/ustazah yang kebanyakan alumni Madin Al-Mahabbah.

Ustaz dan anak-anak yang semangat menyimak.
Ustaz dan anak-anak yang semangat menyimak.
Ustazah tak mau kalah.
Ustazah tak mau kalah.
Adakalanya berbaur.
Adakalanya berbaur.
Time to go home.
Time to go home.

Semangat syiar islami itu sesungguhnya dapat memperkuat potensi wisata islami di Gampong Lamnga. Lebih-lebih, seperti ada kedamaian di gampong ini. “Rejeki lancar. Keamanan pun demikian. Kasus pencurian ada, tapi sangat langka,” sebut Iswandi.

Menurutnya, kelancaran rejeki dan kedamaian masyarakat, berkat menegakkan Syariat Islam. “Namun, tak ada yang sempurna, tetap ada satu-dua orang yang tidak berpakaian islami di sini,” bebernya.

Enak tinggal di sini, masyarakatnya ramah, pergaulannya tinggi,” aku Zaini, warga Sinabang berusia 82 tahun yang sudah dua bulan bersama besannya di Lamnga.

Zaini ngopi di kedai sebelah lorong utama Gampong Lamnga, berdekatan dengan Tempat Pelabuhan Ikan (TPI).
Zaini ngopi di kedai sebelah lorong utama Gampong Lamnga, berdekatan dengan Tempat Pelabuhan Ikan (TPI). 

Di balik keluh-kesah dan kesan gampong percontohan itu, ada satu cita-cita besar masyarakat Lamnga.

“Kami sangat mengharapkan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh atau Kabid program ini datang langsung ke Lamnga untuk mendengar aspirasi kami. Buatlah semacam forum antara gampong dengan pemerintah,” terang Iswandi mewakili masyarakat Lamnga.

Menurut Keuchik, Muhammad Ali Ibrahim, Lamnga dihuni 1059 jiwa dengan 282 kepala keluarga. Dengan luas, 480 ha, gampong ini sangat berpotensi dijadikan wisata islami. Sejumlah manggrove kini tumbuh di tambak bekas produksi garam.

Jika merujuk sejarah, Gampong Lamnga dikenal dengan sebutan “babah darah” atau mulut darah. Sejak zaman Kerajaan Aceh, Lamnga dikenal gampong yang aman.

Setiap masuk ke gampong ini, di pihak manapun seseorang, akan aman dari musuh. Begitupun jika musuh yang masuk, ia takkan bisa menyerang; malah mendapat binaan dari warga setempat,” kisah Teungku Iswandi yang juga tokoh masyarakat.

Babah darah itu menjalar pada masa konflik bersenjata antara RI dan GAM. Kedua pihak bertikai tidak pernah mau tinggal atau singgah ke Lamnga.

“Posisi Lamnga bagai pulau, dikelilingi sungai yang berbatasan dengan gampong tetangga: Lam Ujong dari arah Banda Aceh dan Neuheun dari arah Krueng Raya,” tutur Teungku Iswandi, “sehingga topografi wilayah demikian tak menguntungkan gerilyawan maupun tentara pemerintah.”

Anak-anak bermain di tambak perbatasan dengan latar Jembatan Lamnga-Neuheun.
Anak-anak bermain di tambak perbatasan dengan latar Jembatan Lamnga-Neuheun.

Hingga kini, para pendatang pun betah tinggal di sana. “Hampir semua pendatang menetap di Lamnga kemudian,” sebutnya. Kenapa Lamnga begitu aman?

Mungkin berkat dari usaha seluruh pihak Gampong Lamnga yang berupaya menegakkan Syariat Islam,” sahutnya. [Bersambung ke Lamnga 6]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s