Senja yang Cantik (1) Lange

Gurun Pasir Lange

MALAM ini sepertinya menjadi pengalaman pertama Dayat kemping di alam terbuka. Dia ke Pantai Lange sore Minggu kedua Maret. Dari Gampong Peurada, Banda Aceh, ia memboncengi guide, Taufik, untuk mencapai tujuan.

Setelah satu jam, mereka singgah di Masjid Rahmatullah, Lampuuek, masjid yang selamat dari amukan tsunami 2004 meski berada di bibir Samudra Hindia. Salat Asar.

Dari masjid itu, mereka belok kanan melintasi jalan Gampong Meunasah Lamgirek. Tak sampai lima menit, berhenti sesaat di kiri jalan. Memerhatikan plang larangan bermalam di Pantai Lange dan Pegunungan Lampuuek.

"Di tempat yang dilarang itulah tempat yang paling aman sebenarnya," kata Ikbal. :D
“Di tempat yang dilarang itulah tempat yang paling aman sebenarnya,” kata Ikbal. I’m agree, Broo. πŸ˜€

Tak digubris. Perjalanan dilanjutkan. Menjamah hutan yang sepi. Memasuki jalanan setapak, bebatuan, dan menanjak. Taufik yang sudah dua kali ke Lange, sempat ragu menunjuk lorong menuju jalur pendakian. Tapi ia guide yang bertanggungjawab memandu tim.

Dayat dan tiga pengendara lainnya disarankan pemuda Sawang itu untuk parkir dalamΒ jambo (gerai) yang tampaknya sengaja dibuat oleh pemilik kebun untuk amankan kendaraan.

Sejauh orang-orang yang sudah pernah bermalam ke sini, Insyaallah aman-aman saja,” dia meyakinkan.

Taufik memimpin hiking Gunung Lampuuek. Sesekali gesekan batang pohon mengeluarkan suara menyeramkan, di sela-sela bunyi serangga hutan yang memancing ilusi masa kelam Aceh saat konflik bersenjata.

Dua orang silih ganti menggotong gulungan terpal besar; bekal penginapan. Selebihnya, hanya persiapkan masing-masing 2 botol besar air mineral dan roti atau snack untuk mengganjal perut.

Matahari mulai turun ketika Dayat dkk. rehat di sebuah gubuk, setelah hampir satu jam melalui Gunung Lampuuk. Memotret sunset menjadi semangat Dayat dan kawan-kawan agar segera tiba di tujuan.

"Melewati lorong-lorong kecil, seperti di film Jurassic Park," kata Taufik.
“Melewati lorong-lorong kecil, seperti di film Jurassic Park,” kata Taufik.

Mereka selanjutnya hanya menyusuri jalur datar berliku. Meliuk-liuk di antara keluarga pohon berakar besar. Batu-batu kecil yang tertata rapi menjadi pijakan. Berjalan dalam jarum-jarum bening yang dipancarkan cahaya matahari.Β Seperti dalam film Jurassic Park*.

Apa ada gambar seperti ini di adegan Jurassic Park?
Apa ada gambar seperti ini di adegan Jurassic Park?
Pohon berakar besar, apa namanya? "Bak rambong biasa jih," kata Ikbal.
Pohon berakar besar, apa namanya? “Bak rambong biasa jih,” kata Ikbal. Jangan-jangan, ini jelmaan Dinasaorus. Ah, lebay. πŸ˜€

β€œKita sudah sampai,” Taufik mengabarkan dari puncak. Ia, Dayat, dan Ikbal bagai pemenang berdiri di ketinggian. Di atas mereka langit berwarna lautan.

Horeee! Allahuakbar! :D
Horeee! Allahuakbar! πŸ˜€
Binatang apa yang terbang di antara kecantikan senja Lange itu?
Binatang apa yang terbang di antara kecantikan senja Lange itu?

Sayed, Fahrijal,Β dan Ferdi menyusul, menaiki bahu bukit lewat sisi pohon-pohon pandan besar. Dan saya melihat sunset di kanan mereka. Cita-cita ke Lange sebulan lalu tercapai.

Di antara pohon pandan besar. Titik akhir hiking.
Di antara pohon pandan besar. Titik akhir hiking.
Lagee lam film India keudeh. :D
Lagee lam filom India keudeh. πŸ˜€

Apalagi yang harus kami katakan selain bersyukur bisa sampai tujuan? Matahari tenggelam seakan-akan menyambut kunjungan kami. Pantai Lange ibarat kanvas panjang yang siap dilumuri gurat senja.

Sejenak menikmati potongan melon bersama. Kemudian, Ikbal dengan DSLR-nya dan Dayat dengan kamera sakunya, memburu spot-spot menarik. Sementara Sayed, Fahrijal, dan Ferdi menikmati Lange dari bukit.

Taufik menuruni bukit dan saya mengikuti pada awalnya. Ia menyusuri satu sudut bibir pantai yang dipenuhi sampah kiriman. Di depan sebuah bunker Jepang itu, botol minuman dan aksesoris manusia berserakan. Banyak botol minuman produk luar negeri.

Dengan kamera pocket kawan, saya memburu kepingan-kepingan alam saat Taufik kembali ke bukit.

Dayat di atas bangunan mirip bunker Jepang yang ditemukan di beberapa lokasi lainnya di Aceh.
Dayat di atas bangunan mirip bunker Jepang yang ditemukan di beberapa lokasi lainnya di Aceh.
My name on the sand of Lange Beach.
My name on the sand of Lange Beach.

Tak lama, ia memutuskan untuk kemping di Ie Rah Beach, sekitar 500 meter ke kanan Pantai Lange.

Ie rah (Aceh) jika di-Indonesia-kan menjadi β€œair cuci”. Entah siapa yang menamakannya, tapi barangkali, air mancur yang muncrat dari terumbu karang di sana bisa digunakan untuk mencuci.

Mereka berempat turun dari bukit, dan kami bertiga menyusuri pasir pantai yang bersisik.Β Pemandangan agak mirip di gurun pasir ketika akan mencapai tebing-tebing besar yang menopang pegunungan.

Padang pasir Lange Beach.
Padang pasir Lange Beach.
Sunset dari Pantai Lange. Hmmm.. :D
Sunset dari Pantai Lange. Hmmm.. πŸ˜€
Untanya mana, Mas? :D
Ohhh, syahdunya. πŸ˜€
Untanya dibawa kemana, Mas-mas? :D
Untanya dibawa kemana, Mas-mas? πŸ˜€
Benar-benar akan tenggelam.
Benar-benar akan tenggelam.

Namun pasang ombak kian besar. Kami hampir larut dalam buaian pose matahari yang menjadi merah jambu di detik-detik sirna.

Sederet tebing besar dengan ketinggian 5 meter bagai gerbang penghalang ke Ie Rah Beach. Hanya ada celah di antara bebatuan besar yang dihempas ombak. Ketika Taufik berhasil melalui celah itu, kami dihadang ombak besar, pasti akan basah. Sementara hari nyaris gelap. Bagaimana?

Tiba-tiba, saya melihat Dayat memanjat tebing itu. Saya khawatir. Tapi setelah ia berhasil, tak ada pilihan lain bagi kami. Melepaskan beban dari tubuh, mengangsurnya kepada kawan di tebing, sehingga mudah dalam pencapaian.

Hah! Huf! Akhirnya lewat juga. Lekas jalan kaki menempuh batu-batu cadas, bagai koloni semut berjalan di batu-batu kecil halaman rumah.

β€œItulah Ie Rah Beach,” Taufik menunjuk dua titik yang menyemburkan air mancur di kejauhan.

β€œBaterai habis!” Bakbudik! Batere kamera saku yang saya gunakan, kosong total, saat merekam air mancur yang kedua. Haduh! Kakeuhlah. Kami salat di pantai. Siap-siap bangun tenda dan api anggun untuk malam yang indah. [Bersambung]

Senja di Ie Rah Beach, sentuhan Ikbal Fanika.
Senja di Ie Rah Beach, sentuhan Ikbal Fanika.

NOTE: β€œSeperti dalam film Jurassic Park,” diucapkan Taufik justru saat pulang dari Lange esoknya. Sengaja saya kutip di awal, biar lebih tergambarkan.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

38 thoughts on “Senja yang Cantik (1) Lange”

      1. Maka dari itu warga kampung harus belajar ke masyarakat Sabang dan pemberdayaan anak muda kreatif disana agar tetap menjaga lingkungan πŸ˜€

      2. Tepat sekali. Kendalanya paling, waktu tempuh dan medan ke Lange yang melelahkan pengunjung. Tapi jika anak muda di sekitar Lange kreatif, mereka bisa buat pengumuman resmi, bahwa kalo ingin ke Lange harus kabari sebulan sebelum hiking karena setiap calon turis mesti latihan dulu seperti jogging, kecuali mereka yg sudah biasa backpacking, hehe.

      3. Nah itu dia, asal anak muda disitu mau semua bisa jadi. Sabang bisa, Lange pun bisa. Coba cc ke Anak Muda Lange dulu hahaha

      4. Payah cukeh HPI, tapi leubeh bagah geurak aneuk muda komunitas, menyoe pihak jeh nyoe pasti diwacanakan dile, aneuk muda kram krum pam pum laju yg penting tembusan keu Keuchik bek tuwe.

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s