Malam yang Romantis (2) Lange

light trail Lange

BAYANGKAN. Kami bermalam di pantai tanpa membawa senjata tajam. Saya tak menggubris ketika Taufik menanyakan saya apa sudah bawa pisau. “Tadi saya kira ada kamu bawa,” tuturnya.

Kami memang tak memiliki persiapan matang. Plening ke Lange disusun Sabtu malam. Taufik telfon saya pukul 22.00 WIB, saat baru saja merencanakan hunting foto besok pagi bersama Ikbal dan Dayat.

Saya pun alihkan destinasi pada dua teman satu unit kuliah di UIN Ar-Raniry itu. Juga saya ajak Fahrijal, sahabat di Rumoh Aceh. Taufik, teman dari Unsyiah, merangkul dua teman mantan kru DeTAK Unsyiah, Sayed dan Ferdi.

Nama terakhir justru baru memutuskan ikut dua jam sebelum berangkat. Dan, tak seorang pun menyertakan alat pemotong. Kecuali panci untuk memasak air.

Dalam kegelisahan kami, Dayat mengeluarkan gunting kuku. Tanpa basa-basi, dikeratnya botol-botol mineral kosong menjadi dua bagian. Beberapa di antara kami langsung menuangkan bubuk kopi saset. Hanya dua orang yang mencucinya lebih dulu, haha.

Kami baru bisa menikmati kopi ketika mega merah benar-benar hilang di barat. Bulan setengah penuh menggantung. Kerlip bintang berpendar-pendar. Ombak menghantam karang dan menyemburkan air ke udara.

Gemuruh laut dan suara binatang bertalu-talu dari belantara di belakang tenda. Api unggun yang menari-nari cukup membuat kami larut menikmati Ie Rah Beach. Jauh dari kebisingan kota, penduduk, dan hormon-hormon beban lenyap dari pikiran.

Tenda tak jauh dari air mancur.
Tenda tak jauh dari air mancur.

Apa yang harus kami lakukan di sini? Ikbal menaruh tiga kaki penyangga di bawah pokok besar. Saya menemaninya. Kami akan memotret sekeping malam Senin di Ie Rah Beach.

Setelah satu-dua jepretan, rasa-rasanya, gambar anak muda kemping sesuatu yang biasa-biasa saja.

“Menulis dengan cahaya mau?” Ikbal menyarankan light trail fotografi. Membuat jejak lampu, kebanyakan fotografer menggunakan cahaya lampu kendaraan dari jalan perkotaan. Tapi kali ini dengan lampu senter hape. Saya setuju sekali.

“Mau nulis apa?” tanya dia.

“Hm.. ‘Lange’, kiban?” usul saya.

Cuchok. Dia menyetel long exposure dengan manual fokus dan shutter speed rendah. Lantas saya coba membuat jejak cahaya senter hape di udara. Menulis kata ‘Lange’ secara terbalik. Mengarahkan cahaya ke kamera sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri.

Light trail fotografi dengan sinar lampu hape. Kata "Lange" belum maksimal, hehe.
Light trail dengan sinar lampu hape. Kata “Lange” belum maksimal, hehe.

Taufik dkk. yang bercengkrama di tenda tak menarik, awalnya. Tapi setelah saya berhasil membuat jejak cahaya beberapa kali, mereka penasaran. Ikbal pun ingin melakukan light trail. Dia membentuk hati. Sedangkan Dayat menyetel kamera. Jadilah, love Lange. Tapi tidak rame.

"I Love Lange". Yeaahh. :D
“I Love Lange”. Yeaahh. 😀

Kami minta Ferdi yang membuat hati. Dia duduk di tengah, di depan tenda. Ikbal membuat ‘WE’ dan berdiri di kanan. Saya di kiri, tetap dengan kata ‘Lange’. Setelah beberapa kali direkam, Sayed ditantang menulis angka ‘2014’. Dua kali percobaannya jelek, dan dibully kawan-kawan. Haha.

2014-nya semrawut, Bung!
2014-nya menusuk hati, Bung! 😥

“Ini yang paling cantik,” kami menunjuk gambar tujuh pemuda di depan tenda, bersatu di sisi api unggun, dan menciptakan kalimat “WE LOVE LANGE” (lihat foto master di atas).

We Love Lange 2014, lumayan laaah. :D
We Love Lange 2014, lumayan laaah. 😀

Sesi pemotretan berakhir. Kami berkumpul dan bercerita sambil ngemil. Tentang masa lalu (saya, Ferdi, Sayed, Taufik, dan Fahrijal) yang pernah di satu komunitas. Ikbal memilih tidur di tenda dan Dayat pendengar yang budiman.

Bla bli blu. Bla bli blu.

Cerita berakhir. Kami menerobos hutan, mengutip kayu bakar. “Api unggun tak boleh mati kalau tidur di hutan, entar didatangi binatang buas,” kata Fahrijal.

Tapi ada hal lain yang mengkhawatirkan saya, bagaimana jika tiba-tiba orang kampung pembuat larangan mendatangi tempat kami?

Hari berganti ketika Dayat menyusul Ikbal tidur dalam tenda. Saya pun ingin menikmati kedamaian di pantai tak lama kemudian. Namun Sayed dkk. bercerita tanpa muara.

“Saya mohon diam tiga menit saja. Pejamkan mata. Sama-sama kita dengarkan debur ombak dan gemertap kayu bakar dari api unggun. Nikmati kesunyian ini, tanpa kata-kata,” saya memelas.[Bersambung]

FOTO PLUS-PLUS:

Senyum siapa? Haha "Efek shape, bentuk wajah," kata Ikbal.
Senyum siapa? Haha
“Efek shape, bentuk wajah,” kata Ikbal.
Spyer, awas!
Spyer, awas!
Spy Mission
Bukan empat mata ya! Empat kepala.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

21 thoughts on “Malam yang Romantis (2) Lange”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s