Pagi yang Malang (3) Lange

subang gadong 2

SAYA bangun jam 4 pagi. Menggantikan Ferdi yang akan tidur dan menemani Sayed yang masih melek.

Bulan telah hilang. Air mancur masih seperti sedia kala. Desir angin menyergap tubuh. Kami merapat ke api unggun. Saya ajak Sayed bakar roti. Kami lapisi roti dengan susu coklat sebelum memanggangnya di atas serpihan batu tebing pipih. Bara dari api unggun pelan-pelan membakarnya.

Tidak ada cerita menarik dari kami dalam keheningan pagi itu. Tapi debur ombak menghempaskan penyesalan pada saya. Hanya semalam kami di sini, kenapa saya tidur tadi? Saya telah melewati suaranya yang syahdu dua jam, padahal itu waktu yang cukup untuk tafakkur sendiri di bibir laut.

Air mancur.
Air mancur.
Air Mancur di Ie Rah Beach, pagi hari.
Air Mancur di Ie Rah Beach, pagi hari.

MATAHARI terbit tak terlihat dari Ie Rah Beach. Sinarnya baru muncul jam 8 sepulang saya, Ikbal, Dayat, dan Taufik melihat-lihat biota laut dan panorama lainnya.

Usai bangun tadi, kami jalan-jalan pagi ke balik tebing besar, sekitar 200 m keΒ  kanan Ie Rah Beach. Pasir pantai pagi hari masih bersisik layaknya di gurun sahara. Kami panjati tebing bermata tajam. Melengkung bagai gasing dan siap melukai kaki.

Pantai di balik bukit itu.
Pantai di balik bukit itu.
Sepasang subang gadong. Bahasa Indonesia atau bahasa latinnya apa ya?
Sepasang subang gadong dari pantai di balik bukit. Bahasa Indonesia atau bahasa latinnya apa ya?
Keong dari pantai di balik bukit.
Keong dari pantai di balik bukit.
Jangan berkedip, ia akan berputar. :D
Jangan berkedip, ia akan berputar. πŸ˜€

Ada pantai yang tak kalah eksotik di balik tebing itu. Di sana, Taufik mencari kerang. Dayat mencari keong. Ikbal mencari spot menarik untuk difoto dengan tablet. Saya dengan kamera DSLR Ikbal, juga ikut-ikutan. Haha.

Gunung mirip alis mata, di pantai balik bukit.
Gunung mirip alis mata, di pantai balik bukit.
Permukaan tebing bagai lingkaran obat nyamuk.
Permukaan tebing bagai lingkaran obat nyamuk.

Satu jam di sini, kami bagai terdampar di dunia lain, asik melampiaskan keinginan-keinginan yang muncul saat berhadapan dengan pantai.

Taufik sang guide. "Hai..."
Taufik sang guide. “Hai…”

Baru sejam kemudian, kembali ke tenda. Ferdi dkk. sudah menyiapkan air panas untuk sarapan.

Sebelum meninggalkan lokasi, Taufik minta kami tak meninggalkan jejak, mengutip sampah, disatukan dalam kresek. Begitupan dengan kerangka tenda.

Aulia Tujoh atau Pancuri Tujoh? Haha
Aulia Tujoh atau Pancuri Tujoh? Haha

Saya hendak buang air tak jauh dengan karang yang menyemburkan air mancur. Saya melihat selemparan batu ke kiri, Ferdi tertegun di balik batu besar. Saya menunjuk-nunjuknya dan menertawainya bahwa terlalu berani untuk buang air besar di sana.

Tak lama setelah kembali ke tenda, seseorang melihat Ferdi sedang menatap lautan. Dia bagai anak buah kapal yang karam dan selamat ke pantai. Badan basah kuyup.

β€œDikalon lon dipeukhem, kon dibantu,” gugat Ferdi kemudian, bahwa dia agak kecewa ketika saya menertawainya tadi. Why?

Oh, ternyata, saat itu, dia baru saja diterjang ombak besar dari belakang. Dia yang sedang jongkok, terhempas dua meter ke arah batu besar. Sandal, selendang (konon pemberian gadis Sabang, kata Sayed, hehe) dan hapenya lenyap dari atas batu.

β€œUntong na lon theun ngen sapai,” Ferdi mensyukuri hanya tergores di lengan. Jika ia tak reflek melindungi dengan lengan, kepalanya bisa terbentur batu.

Sandalnya muncul-tenggelam dekat air mancur. Tak mungkin diraih kembali. Tapi setidaknya Ferdi yang malang pagi itu menjadi alarm baginya dan semua orang, hati-hati ketika di bibir laut. Ombak bisa saja beringas tiba-tiba.

TERPAL siap digotong. Taufik memuat sampah yang terkumpul dalam kresek. Disimpulnya dengan tali rafia dan diikat di pinggangnya untuk dibawa pulang.

Tebing pembatas Pantai Lange dengan Ie Rah Beach.  Go home.
Tebing pembatas Pantai Lange dengan Ie Rah Beach.

Dan saya, seperti kukatakan pada Taufik saat briefing di Dek Mi Coffee, akan menuliskan sesuatu di kertas dan memasukkanya dalam boto mineral. Ya, saya menuliskan dua catatan, termasuk alamat email dan URL blog Koki Kata.

"Notify me if u or someone find this". :D FOTO: Dayat
“Notify me if u or someone find this”. πŸ˜€
FOTO: Dayat
Go home. Thanks, Lange.
Go home. Thanks, Lange.

Saya pilin dan memuatnya dalam botol mineral. Kututup rapat-rapat. Botol itu saya lemparkan ke ombak di Pantai Lange. Saya berharap, botol itu hanyut ke luar negeri sebagaimana botol mineral dari luar negeri terdampar di Pantai Lange. Dan, pesan saya dibaca.. [Tamat]

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

24 thoughts on “Pagi yang Malang (3) Lange”

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s