Yang Hilang dari Maulid

Tradisi maulid di gampong.
Tradisi maulid di gampong.

SABTU medio Maret. Saya ikut membantu perayaan maulid di tanah Ikatan Pelajar dan Masyarakat Mila. Selain mahasiswa dan masyarakat Kecamatan Mila yang tinggal di Banda Aceh, beberapa utusan datang dari Mila. Salah satunya Keuchik Gampong Blang.

Awak droe harus woe moled di gampong, bantu-bantu siat,” ujarnya pada saya dan Fahrijal. Dia ingin kami membantu perayaan maulid di kampung. Saya pun teringat perbincangan dengan Ketua Pemuda sebulan sebelumnya, yang menginginkan adanya acara di malam hari maulid.

Sebenarnya tanpa diberitahu Pak Keuchik, kami memang sudah niatan pulang. Secara sosial, saya ingin berkontribusi untuk gampong kelahiran. Secara pribadi, ingin melihat orangtua yang sudah uzur. Dan, naluri saya juga sangat ingin menikmati tradisi bu kulah pada kenduri maulid.

Setiap memenuhi undangan maulid ke gampong-gampong tetangga sebelum tahun 2009, saya dan kawan-kawan menyiapkan kantong besar, bahkan diingatkan orangtua: “bek tuwo me kantong, kapuwoe bu moled, kamoe pajoh di rumoh sabe-sabe inong.”

Kami dituntut membawa pulang bu moled untuk dimakan sesama perempuan di rumah. Setelah semua warga lelaki berkumpul di suatu titik, keuchik memimpin rombongan.

Di lokasi, imum meunasah menuntun salawat badar dan doa sebelum membuka idang. Lalu, serentak, berpencar jadi beberapa kelompok. Satu idang per kelompok.

(Idang disini maksudnya sepaket hidangan dalam keranjang nasi besar terbuat dari rotan ayat dikenal raga dalam bahasa Aceh. Ia berisi nasi dan lauk-pauk. Raga dibungkus dengan batik dan ditudungi dengan sulaman tradisional.)

Masa-masa itu, saya duduk bersila bersama kawan sebaya. Sementara yang lebih tua, dengan bersarung atau bercelana seadanya, tanpa cuci tangan, lekas membuka idang.

Kain batik dilucuti dari raga. Satu per satu lauk-pauk diangkat sehingga hanya menyisakan nasi di bagian bawah raga. Daun-daun pisang yang sudah dilayu dilempar ke terpal alas duduk. Disobek lantas diedar sampai tak ada yang kebagian semua.

Nasi disekop dengan piring dari raga, kemudian diletakkan ke daun pisang, disusul masakan rendang, kari ayam, kari bebek, udang, telur belah, telur asin, sambil jeruk purut, kuah ikan, emping melinjo, kuah nenas, ikan keumamah, ikan asin, kentang, tongkol, hingga telur puyuh kadang kalanya.

Dalam pembagian ini, para lelaki itu sangat cekatan dan teliti. Mereka lebih dulu memotong-motongnya, mengantisipasi jika lauknya tidak sebanding dengan kuota jumlah orang yang duduk mengeremuni idang. Mereka dengan cepat melempar-lemparnya dari tengah, mengelilingi hingga tak ada yang terlewati. Kadang ada pula yang jahat, ia memberikan yang besar kepada saudaranya.

Hebatnya, mereka melangkah di antara daun-daun di terpal. Sesekali tumit menginjak ujung daun bahkan mengenai nasi. Tapi itu bukan sesuatu yang buruk, sebab terpikir saat itu adalah, bagaimana caranya dapat nasi lebih untuk  dibawa pulang.

Nah, jelang berakhir pembagian lauk, saya dan semua yang hadir, siap-siap memburu nasi lebih. Mata melirik sana-sini dan mendarat di sasaran begitu dibilang, “kajeuet bismilah.”

Maka kami berebutan mengambil satu porsi lebih, lalu memuatnya dalam kantong yang sudah dibuka beberapa saat lalu. Jika kesulitan minta bantu kawan untuk mengepaknya. Nah, baru setelah mengamankan itu, kami melahap nasi di depan kami yang mirip gunung Seulawah dengan kuah mengalir seperti Krueng Cut.

Kenyang datang setelah menghabiskan setengah dari porsi. Membungkusnya kembali untuk dibawa pulang. Saat itu, lihatlah kami bagi pemenang perang membawa harta rampasan. Kembali ke rumah dengan garang, disambut senang oleh ibu dan kakak atau adik perempuan.

Solidnya kita soal makan. Medio Maret lalu, kebetulan sehari sebelum maulid di gampong saya, warga Gampong Blang bertandang ke gampong tetangga, Gampong Tanjong tanah kelahiran Hasan Saleh. Saya berharap dapat menikmati bu moled seperti dulu kala.

Tapiii, semua kami terperanjat. Di dalam meunasah, kami sejenak berselawat dan berdiri mengelilingi plastik hitam yang lebih mirip paket. Lalu, masing-masing mendapat satu porsi. Lalu pulang. Hanya itu.

Sudah kayak pesan nasi online, gerutu kawan yang dulu menikmati idang moled. “Lagee bloe bu bak online. Telfon, pesan, datang, bayar, ambil, dan pulang,” kata Fahrijal. “Leubeh bak online. Ini kita diundang, datang, ambil nasi, dan pulang,” timpaku.

Meunyo bu idang chit mangat ju, buka idang, bagi-bagi, dan pajoh sinan. Han abeh, bungkoh, baro puwoe,” ungkap Bang Gun. “Aki-aki lam bu pih mangat chit,” tambah Isan.

Yaaah, begitulah. Besok, Senin, giliran warga Tanjong yang memenuhi undangan. Dan, kami tidak seperti mereka. Warga Gampong Blang masih merawat tradisi bu idang dan makan di tempat. Bahwa hal itu dapat memberi peluang jalin silaturrahmi antarwarga semukim. Kadang sulit bertemu di luar, tapi hasrat bertemu kesampaian di kenduri moled.

Idang untuk undangan.
Idang untuk undangan.
Duduk yang rapi.
Duduk yang rapi.
Bagi nasi atau senggol-senggolan? :D
Bagi nasi atau senggol-senggolan? 😀
"Bang, lon kadeuek nyoe.." :D
“Bang, lon kadeuek nyoe..” 😀
"Bereh, bang!"
“Bereh, bang!”
"Bang, neutiek pha manok keunoe!" :D
“Bang, neutiek pha manok keunoe!” 😀
Raga kosong, di kelompok yang kebetulan satu-satunya idang mengantongkan bu moled. Kasian deh..
Raga kosong, di kelompok yang kebetulan satu-satunya idang mengantongkan bu moled. Kasian deh..
Umbul-umbul
Umbul-umbul

Untuk memberikan kesan perayaan maulid nabi yang meriah, tidak hanya pertahankan tradisi, kami anak muda juga menghias halaman meunasah sedemikian rupa. Bang Gun mengusulkan pasang umbul-umbul kertas layang di udara halaman meunasah.

Panggung juga didirikan untuk tim zikir maulid. Namun, sesuai keinginan Bang Fauzi ketua pemuda waktu itu, “kita harus buat acara malamnya, sebab panggungnya sudah ada.”

Timi zikir nih, didatangkan dari Mukim Andeue, Mila.
Timi zikir nih, didatangkan dari Mukim Andeue, Mila.
"Lingiek!" :D
“Lingiek!” 😀

Tak hanya panggung, keuchik juga sudah sewa sound sistem 500 ribu. Tengah malam, selagi berkumpul di meunasah, kami masih mempertimbangkan untuk hadirkan tim dalail khairat atau penceramah.

“Undang Teungku Fadli manteng,” desak Isan. Kami akhirnya sepakat. Tapi mungkinkah kita undang ustad pada hari H?

Ka lhee uroe lon preh-preh pengumuman dakwah di Meunasah Blang. Alhamdulillah bunoe poh 12 luho ditelpon panitia. Poh 12 malam nyoe kaleuh dipeuget dakwah. Nyoe keuh aneuk muda yang patut dicontohi oleh aneuk muda gampong laen,” kata Teungku di detik-detik akhir ceramah maulid malamnya.

Saya, Bang Gun, Isan, Boy, Fahrijal, Ai, Kamil, Bang Fauzi, Pak Jes, dan lain-lain yang telah bekerja keras meski tak banyak anggota, merasa terbayar sudah upaya mewujudkan perayaan maulid yang meriah meski Pak Keuchik sempat ragu, “silakan kalau kalian bisa melakukannya. Ini biaya sudah habis,” katanya.

Semangat yang kuat, patungan anak muda kumpul dana lagi buat tambahan sewa sound hingga malam dan biaya untuk ustad dari pesantren di gampong tetangga, dakwah terlaksana.

Saya tak rugi pulang. Setidaknya dipercayakan menjadi protokol alias MC pada dakwah yang dihadiri masyarakat Gampong Blang dan beberapa gampong tetangga. Hehe. Namun paling penting, solidaritas pemuda dan tetua di kampung kami masih ada. Hidup aneuk muda!

[Foto plus-plus]

Refleksi umbul2.
Refleksi umbul2.
Bang Gun sang kreator.
Bang Gun sang kreator. “Merah Putih” 😀
Memasang dalam meunasah sebelum digantung di luar.
Memasang dalam meunasah sebelum digantung di luar.
Boy dan Isan. Mesra that. :D
Boy dan Isan. Mesra that. 😀
Tahanan, kasus apa nih? :D
Tahanan, kasus apa nih? 😀
Boy bermain asap rokok.
Boy bermain asap rokok.

Rumoh Aceh, 21 Maret 2014.

Advertisements

Author: Makmur Dimila

A calm boy. Love reading, travelling, and writing.

16 thoughts on “Yang Hilang dari Maulid”

      1. Meriah atau tidak itu sepertinya tergantung sama masyarakat setempat, terutama pemuda yang mau berkontribusi.
        1. Masyarakat mengadakan maulid dengn mengundang banyak tamu sehingga para undangan beramai2 datang ke rumahnya. Jika ada 10 orang saja yg buat kenduri besar, betapa banyak orang yg datang ke kampung itu.
        2. Pemuda menggerakkan beberapa acara, seperti menghadirkan tim zikir di pagi hari sampai siang dilanjutkan mendatangkan penceramah pada malamnya. Akan meriah lagi jika misalnya mengadakan festival seni tingkat desa. Namun, tidak semua kampung seperti itu, sebagian kecil saja. 😀

  1. waaah, gak beda dengan di Grong-Grong juga,,
    tapi, sayang maulid kemaren saya tak bisa pulang,
    jadi tidak bisa merasakan suasana maulid.
    oa, panggung dakwah kok gk ada ya?
    biasanya ada panggung dakwah, bentuk unik2,,

    1. Waaah, bagus dong masih dipertahankan. 😀
      Iya memang gada gelar dakwak, cuma panggung untuk tim zikir maulid. Kebetulan, malamnya kami buat ceramah mengundang Teungku dari gampong sekitar. 🙂 Di Grong2 pat jih nyan?

      1. Tau dong. 😀 Saya kan orang Pidie. O sinan ganpong,,, get2, pajan2 lon lewat keunan. 😀
        Insyaallah, nyan chi baca2 ju dilee ata bak blog lon. 😀

Terimakasih telah berkunjung. Komentar Anda kebahagiaan kita. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s